Selasa, 06 September 2016 12:15:00

Sesmon TB: Masyarakat UjungTombak Pembangunan Pariwisata Danau Toba

Balige (Pelita Batak) :

Belakangan ini, Pemerintah Pusat sedang giat-giatnya mengembangkan sektor pariwisata di Indonesia. Salah satunya pariwisata Danau Toba yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata sebagai salah satu dari 10 Destinasi Prioritas. Kemudian oleh Presiden Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba, yang tujuan utamanya adalah untuk melaksanakan pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba.

Pemerintah Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) yang merupakan bagian dari kawasan Danau Toba itu juga terus berbenah mengembangkan sektor pariwisata di daerahnya. Program tersebut didukung dengan sejumlah kekayaan alam di daerah itu yang potensial untuk mewujudkan sebuah destinasi wisata.

Namun di samping itu, mewujudkan destinasi wisata tidak cukup sebatas menyiapkan sarana dan prasarana wisata. Namun alangkah pentingnya kesadaran masyarakat sekitar, sebab keberhasilan sektor pariwisata itu tidak terlepas dari peranan masyarakat. Di mana, masyarakat secara luas adalah ujung tombak kemajuan sebuah pariwisata. Meski pemerintah siap dan berbuat, namun jika masyarakatnya tidak meyambut dengan baik, maka semua yang dilakukan pemerintah akan sia-sia. Untuk itu, masyarakat harus bisa mengubah sikap dan menerima perubahan. Seperti budaya bersih, ramah tamah, sopan dan menjaga kenyamanan wisatawan.

Langkah awal, perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat bagaimana konsep Otorita Danau Toba dan apa manfaatnya bagi masyarakat dan pemerintah. Kemudian menata lingkungan, baik pemukiman, lalulintas, pasar-pasar, dan pusat keramaian lainnya yang bersentuhan dengan wisata. Hal itu yang selalu disampaikan Bupati Tobasa Ir Darwin Siagian dan Wakil Bupati Ir Hulman Sitorus MM kepada masyarakat di daerah itu. Kepada masyarakat ditegaskan, bahwa Tobasa kaya akan objek wisata yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bertaraf Internasional. Terlebih, dengan kehadiran Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba, maka pariwisata didaerah itu akan maju. Untuk itu, masyarakat diajak untuk mempergunakan kesempatan itu, bukan sebagai penonton, tetapi turut menjadi pelaku.

Banyak yang bisa dilakukan untuk turut sebagai pelaku pembangunan sektor pariwisata itu. Hal terkecil, dengan memulai pola hidup sadar wisata dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan Sapta Pesona, (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan). Dengan menerapkan pola ini, sebenarnya kita sudah turut berpartisipasi dalam pembangunan sektor pariwisata.

Dalam hal ini, kita harus jujur dan paham akan karakter kita sebagai orang yang tinggal di Tobasa. Salah satunya, nada bicara yang terkesan kasar, meskisebenarnya tidak. Namun hal ini berpengaruh dalam hal pelayanan kepada wisatawan. Jika berniat mengembangkan sektor pariwisata, sikap ini mestinya kita tinggalkan. Bagaimana kita siap menjadi tuan rumah yang baik. Di samping itu, pelaku pariwisata yang langsung bersentuhan dengan pariwisata itu harusnya lebih mendalami makna Sapta Pesona. Baik pengusaha warung makanan atau minuman, pengusaha jasa fasilitas wisata, dan pelaku pariwisata lainnya. Pada intinya, bagimana sapta pesona itu tercipta diobjek wisata yang kita kelola. Sehingga wisatawan bisa merasa aman dan nyaman dalam kunjungannya.

Kepada pelaku wisata juga jangan hanya menunggu atau mengharapkan fasilitas pemerintah. Mestinya berupaya menjaga dan melakukan pengembangan serta menciptakan inovasi-inovasi baru untuk pengembangan sektor wisata. Baik sarana dan prasarana, juga jasa-jasa pariwisata lainnya yang memberikan layanan yang lebih baik kepada wisatawan.

Seperti yang baru-baru ini dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tobasa, dengan membuat konsep Balige Tourism Strategic Plan yang mencakup 7 sektor wisata, yakni kunjungan wisata kultur Museum TB Center, kemudian kunjungan wisata kuliner Lumban Silintong, lalu kunjungan wisata alam pantai Lumban Bulbul, wisata tata wahana air pantai Lumban Gaol, wisata religi Gereja HKBP, ekowisata Siboruon Waterfall, dan geowisata Batu Basiha Sibodila. Konsep ini memudahkan dan melengkapi sebuah kunjungan wisata wisatawan khusunya saat berada di Kota Balige.

Banyak inovasi lainnya yang bisa kita ciptakan untuk memberikan layanan yang baik kepada wisatawan sesuai kebutuhan dan kelengkapan wisata didaerah kita. Pada intinya, bagaimana kita berupaya memberikan yang terbaik kepada wisatawan yang datang, sehingga mereka tidak merasa kecewa saat memutuskan kunjungan wisatanya di Kabupaten Tobasa.(TAp/humas)