Rabu, 27 November 2019 11:51:00

Sahabat Lampatar Nonton Bareng 'Naga Bonar Reborn' di Medan

Romein Manalu
Medan (Pelita Batak):
Film layar lebar, Naga Bonar Reborn telah resmi dirilis sejak Kamis (21/11/2019). Naga Bonar Reborn adalah film daur ulang film Naga Bonar (1987) yang legendaris dan sempat populer pada era 1980-an dan dibintangi oleh Dedy Mizwar.

Cerita kehidupan masa perjuangan kemerdekaan sesuai naskah yang ditulis seniman Asrul Sani. Benar ungkapan yang disampaikan sutradara Gusti Randa sebelumnya bahwa film ini bukan Naga Bonar periodik tahun 1930-an, yang main adalah Gading Marten dengan ala Gading Marten tetapi jalan ceritanya bisa dinikamati generasi sekarang.


Sahabat Lampatar diabadikan saat menggelar nonton bareng di XXI Hermes Palace Medan, Selasa (26/11/2019)

Demikian disampaikan Ketua Pertina Sumut, Romein Manalu,ST usai menonton film berdurasi 109 menit tersebut di Studio 4 XXI Hermes Place Medan, Selasa (26/11/2019) pukul 17.00-19.00 WIB bersama puluhan sahabat PT Lampatar. Menurutnya, selain menitipkan pesan perjuangan kemerdekaan, film ini juga terpaut pesan untuk norma kehidupan keluarga, sosial dan bermasyarakat.

"Opening dialog dengan menyuguhkan bahasa Batak, lokasi syuting yang dominan di tepian danau Toba, Humbahas dan Simalungun menjadi roh dari pada film ini. Ada pesan yang terkandung didalamnya, untuk generasi muda menghormati orangtua, menghargai sahabat dan semangat kebersamaan," ujarpria yang juga direktur PT Lampatar ini mengomentari film yang diproduseri oleh Trimedya Panjaitan, Gusti Randa, beserta Harry Sanusi, Juniver Girsang, dan Robert Attiam selaku produser eksekutif dan Gempita Tjipta Perkasa (GTP) sebagai rumah produksi.

Kemasan komedi dan kisah cinta antara Nagabonar dengan Kirana (Citra Kirana) gadis anak dokter yang berpihak kepada Belanda, akan menjadi alasan generasi muda masa kini untuk tertarik menonton film ini.

Yang menambah semangat film ini, sejumlah artis papan atas membintangi film ini, di antaranya Gading Marten, Citra Kirana, Delano Daniel, dan Rifky Alhabsy.

Romein selaku tokoh di masyarakat Sumatera Utara berharap produksi film yang memberikan pesan moral, pesan sejarah dan menjadi wahana pendidikan bagi generasi muda semakin banyak diproduksi. "Khususnya alam kawasan Danau Toba yang tidak akan habis keindahannya dari sudut manapun. Bisa menjadi lokasi pengambilan gambar yang menarik," ujar Ketua Harian Parsadaan Toga Manalu Boru dohot Bere (PTMBB) Indonesia ini.

Produksi film di kawasan Danau Toba diharapkan juga dapat mendorong pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba ke depan. (TAp)