Minggu, 26 Juni 2016 06:33:00

Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Khawatirkan Perkembangan LGBT

Hasjim Djojohadikusuma (pegang mik), salah seorang tokoh Kristen yang hadir dalam rapat paripurna DPP PIKI yang berlangsung di Jakarta, Jumat 24 Juni 2016. Tampak di belakang Hasjim(di samping yang memegang laptop), Ketua Komisi Hukum PIKI Djalan Sihomb

Jakarta (Pelita Batak): Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (DPP-PIKI) menilai hehadiran  kaum Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT) yang semakin terang-terangan menancapkan eksistensinya dinilai semakin mengkhawatirkan. Generasi muda dan umat Kristen diharapkan mampu memproteksi diri dan keluarganya dari pengaruh negatif kaum LGBT.

Hasjim Djojohadikusuma,  salah seorang tokoh Kristen yang hadir dalam rapat paripurna DPP PIKI yang berlangsung di Jakarta, Jumat 24 Juni 2016 menegaskan bahwa Indonesia tidak perlu ikut-ikutan dengan sikap negara lain yang atas dasar kemanusiaan melegalkan LGBT.

"Kita tetap mengasihi mereka (LGBT),  tapi bukan melegalkannya. Setau saya, Alkitab hanya mengenal laki-laki dan perempuan sebagai ciptaan Tuhan,"jelas Hasjim.

Senada dengan Hasjim, ketua Komisi Hukum PIKI  Djalan Sihombing SH mengatakan hingga saat ini Indonesia masih tetap dalam posisi menolak eksitensi LGBT. PIKI selaku organisasi juga akan tetap mendorong dan mendukung Pemerintah menolak dan melarang LGBT.

Rapat paripurna PIKI yang dilakukan rutin sekali tiga bulan itu dipimpin oleh Ketua Umum PIKI Baktinendra, M.Sc, MH. dan Sekjen Audy Wuisang, MSi serta dihadiri pengurus lainnya seperti Prof. Irzan Tandjung, Ph. D., Martin Hutabarat, SH, Letjen Purn Johny Lumintang, Dr. Pos Hutabarat, Cornelius R., Ny. SAL Tobing, M. Alex Paath, Dr. Mangiring Lumbantoruan, Dr. Theofransus Litaay, Abadi Parulian Hutagalung, dan anggota DPR RI Marthin Sirait.

Adapun hal lain yang mengemuka dalam rapat ini adalah terkait dengan maraknya perda-perda yang bertentangan dengan rasa nasionalisme dan bertentangan dengan undang undang. Issu  gerakan terorisme dan penanganannya juga dikritisi dan diusulkan agar dilakukan kajian  secara komprehensif.(R1)