Jumat, 22 Mei 2020 21:12:00

Khotbah Minggu Exaudi, 24 Mei 2020: "Allah Mendengar Seruan Orang Percaya" (Mat. 20: 29-34)

Pdt Dr Robinson Butarbutra
Oleh Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP

Saudara-saudara terkasih di mana pun berada, kita percaya bahwa Allah itu penuh dengan belas kasih bagi orang yang meminta pertolongan kepada-Nya, tanpa terkecuali: orang kaya atau miskin, orang terhormat atau orang biasa, penguasa atau masyarakat, pengusaha besar atau kecil, petani biasa atau pemilik lahan luas, orang dewasa atau anak-anak, sehat atau sakit, laki-laki atau perempuan. Semua sama di hadapan Allah: siapa pun yang berseru kepada-Nya, Dia mendengarkan.

Namun, saudara-saudara sekalian, pada Minggu ini, tentang serum permohonan kepada Tuhan, kita hendak belajar dari dua orang buta yang berada di tepi jalan di luar kota Jerikho. Dua orang dengan disabilitas ini mengalami perjumpaan yang dahsyat dengan Yesus. Mereka tidak melihat, tapi mendengar suara kaki dan bisik-bisik orang banyak (Yunani: oxlos polus) bahwa Yesus Anak Daud, Sang Penyembuh (Mat 4: 23-25), sedang lewat di jalan itu. Tanpa membuang kesempatan, berangkat dari kemauan untuk memohon sesuatu yang paling krusial di dalam hidup mereka, dari kedalaman hati yang diungkapkan dengan sekuat mungkin mereka berseru (Yunani: ekraksan ) memanggil Yesus. 

Meski dihalang-halangi dan disuruh diam oleh orang banyak, mereka tetap berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" Setelah memanggil mereka, mencari tahu dan memastikan apa kebutuhan mereka yang sebenarnya, yaitu melihat, maka - karena hatinya tergerak oleh belas kasihan (Yunani: splagxnistheis = unsur terdalam tubuhnya terguncang) - sebagaimana  dokter bekerja, Yesus pun - yang tidak terhalangi oleh siapapun - kemudian menjamah dan menyembuhkan mata mereka. Seketika itu juga mereka dapat melihat. Setelah itu, mereka mengikuti Dia. Ini adalah sebuah respons yang menarik atas sebuah kesembuhan. 

Lalu, bagaimana dengan kita? Bagaimana cara kita selama ini berseru kepada-Nya tatkala kita membutuhkan pertolongan dari Dia? Bagaimana pula jawabanNya selama ini? Sudah sepatutnya kita belajar dari dua orang buta (disabilitas) dalam teks ini. Seruan permohonan itu keluar dari hati yang paling dalam dan atas dasar percaya akan kuasa Tuhan. Dan satu lagi, mereka meminta apa yang paling mereka butuhkan, yaitu melihat. 

Mungkin selama ini kita memang berseru pada Tuhan, tapi apakah sungguh-sungguh dari hati yang paling dalam? Apakah permintaan kita itu benar-benar yang paling kita butuhkan? Apakah seruan kita itu dapat menggerakkan hati Tuhan? Pengalaman kita, apakah sudah begitu atau belum, dan bagaimana jawaban Tuhan selama ini kepada isi seruan kita, menjadi guru bagi kita ke depan. Dalam tuntunan Roh Kudus, di masa pandemi Covid-19 ini, penting bagi kita untuk memikirkan kembali dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.