Minggu, 22 Mei 2016 12:54:00

Kemajuan Teknologi Belum Berdampak Bagi Kesejahteraan Masyarakat Batak

Prof Posman Sibuea

Medan (Pelita Batak):
 
Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan kemajuan kebudayaan kita. Kita tidak mampu secara kreatif menata kembali hubungan dan struktur sosial, politik dan ekonomi kita. Kita mengalami perapuhan  (decay) nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi mesin pendorong  kian berkembangnya perilaku yang korup di tengah masyarakat, mendahulukan kepentingan pribadi daripada kelompok dan kepentingan bangsa. Yang bermuara pada kian dalamnya ketimpangan dan gap sosial, ekonomi, hukum dan memunculkan kantong-kantong kemiskinan baru.

Hal itu disampaikan Prof Posman Sibuea dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh, 21 Mei 2016 di Hotel Danau Toba, Medan. "Fenomena yang sama kini tengah terjadi dan  bakal berlanjut di tengah kawasan Danau Toba (DT). Kemajuan teknologi seharusnya memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Batak di sana. Namun karena penggunaannya tidak dibarengi dengan pengawalan kebudayaan dan kearifan lokal, kehadirannya telah membawa sisi buruk terhadap wajah kehidupan warga. Akibat pembukaan dan pertumbuhan kerambah jaring apung (KJA) yang amat signifikan kualitas air DT kian memprihatinkan,"ujarnya.  

Kematian sekitar 1.820 ton ikan, dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 41 miliar,  di kawasan Danau Toba di Kecamatan Haranggaol, Simalungun dalam minggu-minggu terakhir diduga disebabkan kualias air yang makin menurun. Ketersedian oksigen terlarut semakin minim akibat kerapatan ikan di KJA cukup tinggi. Jumlah populasi ikan tidak sebanding lagi dengan luasan area.

"Derajat keasaman (pH) air Danau Toba diduga sudah meningkat. Hasil penelitian di Desa Tipang, Kecamatan Baktiraja, Humbang Hasundutan (Humbahas) yang mengambil sampel air dari tiga lokasi menunjukan penaikan pH  yang amat mengejutkan.  Derajat  keasaman air sudah mencapai angka 9.  Nilai batas normal berada di kisaran 6,7 sampai dengan 7,5. Laju kenaikan pH didorong karena diduga ada pencemaran yang berdampak buruk pada pasokan oksigen di dalam air dan sangat berpeluang menimbulkan kematian ikan,"paparnya.

Menurutnya, penggunaan pakan ikan KJA  yang sudah berlebihan, sebagian akan terurai menghasilkan polutan ammonia (NH3),  methan (CH4) dan asam sulfida (H2S). Pembentukan senyawa-senyawa beracun inilah yang juga menurunkan kelarutan oksigen di perairan DT.

"Danau Toba berada di bawah bayang-bayang ancaman krisis lingkungan yang kian massif. Secara umum, pH air yang mengalami peningkatan ialah akibat terkontaminasi limbah  industri. Fakta menunjukkan, sejumlah industri yang beroperasi di seputar kawasan DT kerap membuang limbahnya secara langsung ke perairan. Hal ini menjadi faktor pendorong naiknya tingkat keasaman air di DT," jelasnya.

Danau Toba yang sudah menjadi landmark Sumatera Utara itu kini tidak bisa serta merta menjadi Monaco of Asia seperti didengungkan pemerintah belakangan ini. Alamnya yang dahulu indah, airnya yang jernih  dan  hutannya yang memberi keteduhan bagi warganya nyaris tak ada lagi. Kehadiran industri ikan KJA dan industri pulp menyebabkan air DT tercemar dan hutan kian gundul.  

"Pemerintah tidak hadir untuk membela keberadaan masyarakat adat sebagai petani dan nelayan lokal, pemilik hutan dan lahan pertanian. Pemerintah cenderung lebih mengakomodasi kepentingan pemilik modal untuk menguras kekayaan alam DT demi mengisi pundi-pundi PAD," ujarnya.

Atas fenoma degradasi lingkungan itu, sejumlah aktivis lingkungan asal Sumatera Utara pernah mengembalikan penghargaan yang diterima dari pemerintah sebagai bentuk protes atas kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kawasan DT (Sibuea, 2014). Hutan di kawasan DT telah berkurang luasnya sejak beroperasi perusahaan industri bubur kertas yang membutuhkan kayu sebagai bahan bakunya. Kualitas airnya pun sudah terkontaminasi limbah industri budidaya perikanan dari keramba jaring apung dan limbah peternakan babi.

"Perusakan lingkungan yang kian massif itu kini bermuara pada ancaman kelaparan di tengah warga.  Nelayan lokal kini  semakin sulit menangkap ikan di kawasan perairan karena secara kuantitas ikan sudah berkurang jumlahnya. Usaha pertanian lokal pun acap mengalami krisis air dan gagal panenpun tidak terhindarkan," katanya.

Korporasi bermodal besar dengan izin yang sah dari pemerintah dapat menebang pohon semaunya untuk mengambil kayu demi keuntungan pribadi. Keseimbangan alam pun terganggu. Penyakit baru kian sering muncul karena udara dan air tercemar  limbah industri. Tragedi Minamata di Jepang dapat disebut sebagai contoh dampak ketidakpedulian manusia pada kesimbangan alam yang menetaskan penderitaan. Romantisme yang disuguhkan hutan dan riak air mengalir di kawasan DT dalam waktu yang tidak lama lagi “bisa jadi” hanya tinggal kenangan.(**)