Rabu, 24 Juni 2020 07:57:00

Kebersihan Standar Magelang, Batak, dan Denmark

Jansen Sinamo sang Guru Etos
OLOB mampir ke kamar kosku yang rada kumuh di Bandung medio 1978, Jumat sore kala itu. Dari Magelang dia, usai mengikuti diklat keamanan di institusi militer terkenal itu beberapa minggu. Otw pulang ke Medan, disempatkannya mengunjungi aku, sobat kental masa kecilnya di Sidikalang dulu. Segera saja kami terlibat baku cerita sampai jauh lewat tengah malam; update segala hal. 

Sabtu pagi kutinggalkan dia masih nyenyak; kuliah beberapa jam. Hampir tengah hari kembali ke kos itu, takjub betul aku: Olob telah menata kamarku menjadi sangat bersih, terang, teratur, dan beraroma oksigen segar. Tiada lagi abu-debu dan benda-benda sisa yang bertengger tak senonoh. Semua apik bin resik.

Tak tahan aku di kamarmu ini, kata Olob memulai ceramahnya. Kalau begitu, kau harus ke sini tiap bulan, bersihkan kamar ini, ha-ha-ha-ha, kubayarpun ongkosmu, kataku dengan girang.

Olob menjilat ujung telunjuk kanannya, lalu menggosok tepi meja, dia tunjukkan ke depan hidungku: tak ada selapis debupun lagi. Bersih betul. Dia ulangi menggosok tepi dipan. Bersih sekali. Juga radio tape set. Bersih semua. Pamer kebersihan si Olob; apa artinya bersih berstandar militer Magelang. Takjub aku. Maka kutraktir bakmi dia ke Gang Sempit. Paling enak di Bandung kala itu.
                               *** 

Zaman kami SMP dulu, 1970an, dalam pelajaran Bahasa Daerah, kuingat ada slogan kebersihan yang diajarkan guru kami, dalam bahasa Batak Toba sebagai berikut
1. Paias pamatangmu (bersihkan tubuhmu)
2. Paias paheanmu (bersihkan pakaianmu)
3. Paias jabum (bersihkan rumahmu)
4. Paias alamanmu (bersihkan halamanmu)
5. Paias hutam (bersihkan kampungmu)

Presiden Jokowi hampir 50 tahun kemudian mengeluarkan Inpres Revolusi Mental 2016 yang fokus pada 5 gerakan
1. Indonesia Bersih
2. Indonesia Tertib
3. Indonesia Mandiri
4. Indonesia Bersatu
5. Indonesia Melayani

Tapi slogan sangat bagus yang dibingkai dengan Inpres sekalipun ternyata belumlah cukup, Di seantero negeri Batak, kawasan wisata Danau Toba khususnya, kebersihan bukanlah ciri yang khas, malahan hampir sebaliknya. Dan semenjak zaman Orba sudah begitu. Termasuk di Parapat, kota wisata utama sejak era kolonial di pantai timur Danau Toba itu.
                                       *** 

Tapi setahun terakhir ini, Parapat berubah drastis menjadi sangat bersih, tertata rapi jali, sehingga enak dilihat dan nyaman dipandang.

Pemkab Simalungun yang membawahi kota kecamatan itu ternyata mengontrakkan program kerja kebersihan kota itu kepada PT ISS Indonesia yang berstandar Denmark, Eropa Utara.

ISS adalah perusahaan kebersihan pertama di dunia dan paling utama dewasa ini: meliputi kebersihan kantor, mal, hotel, bandara, stadion, dermaga, rumah sakit, stasiun kereta api, mrt, dan fasilitas publik lainnya. 

Cobalah ke Terminal 3 Soekarno-Hatta atau Mal Pondok Indah. Itu dua contoh manajemen kebersihan yang ditangani ISS. 

Bermula tahun 1901 di Kopenhagen, Denmark, kini ISS telah meliputi seluruh dunia, mempekerjakan sekitar 600 ribu karyawan; beroperasi di Indonesia sejak 1996, kini hampir 65 ribu pekerjanya; melayani 3 ribuan klien.

Tak sekadar cleaning lagi mereka, kini juga termasuk parking, security, gardening, bahkan catering.

Di bawah tuntutan protokol kesehatan (baca: protokol kebersihan) era new normal dewasa ini, mungkin sampai berdekade ke depan, dapat diduga jasa kebersihan berstandar Denmark ini akan meluas terus dibutuhkan mencakup kebersihan komplek perumahan, kampus, pabrik,.kawasan industri, superblocks, kawasan wisata, kota-kota, sungai-sungai, danau serta laut. 

Danau Toba, Sungai Citarum, dan Teluk Jakarta misalnya; bukankah ketiganya harus bersih dan bening?*