Jumat, 10 Maret 2017 11:11:00

GMKI Diminta Terus Tanamkan Nilai Spiritualitas Bagi Generasi Gereja

PP GMKI Saat bertemu dengan Sekda Kota Pematangsiantar

Siantar (Pelita Batak) :
Pengurus Pusat GMKI beraudiensi dengan sejumlah pihak di Kota Pematangsiantar. Menjalin silaturahmi dan memaparkan sejumlah program kerja dalam upaya mendukung program pembangunan kota.

Rombongan yang terdiri dari Sekretaris Umum PP GMKI, Alan C. Singkali didampingi Kordinator Wilayah 1 NAD - Sumut PP GMKI, Swangro Lumban Batu beserta BPC GMKI Pematang Siantar Simalungun yang baru saja dilantik menjumpai pimpinan universitas dan gereja di Kota Pematangsiantar.


Audiensi dengan pucuk Pimpinan Gereja Pentakosta


Rektor Universitas Simalungun (USI), Prof. Dr. Marihot Manullang menerima delegasi GMKI di ruang kerjanya. Beberapa pokok pembicaraan antara lain disampaikan harapan GMKI melalui Korwil 1 PP GMKI agar USI senantiasa membuka ruang untuk kegiatan ekstrauniversiter, khususnya GMKI. Pembelajaran luar kampus yang didapatkan di organisasi GMKI menjadi bekal komplementer bagi mahasiswa. Disepakati bahwa aktivitas kerohanian di kampus akan melibatkan GMKI bersama civitas akademika yang lainnya. Titipan rektor buat GMKI agar kader-kader dari USI bisa dilibatkan dalam aktivitas-aktivitas inti di GMKI.

Dalam kunjungannya ke pimpinan Gereja Pentakosta Yayasan Lukas, Pdt. Ev. Diane Evapora Siburian, Ketua Cabang GMKI Siantar Wahyu Nolin Siregar menyampaikan perlunya untuk terus menerus menanamkan nilai-nilai spiritualitas bagi mahasiswa Kristen agar GMKI tidak tumbuh dengan semangat sekularisme. Pimpinan gereja menjanjikan akan terus mendukung GMKI menanamkan nilai-nilai spiritualitas serta juga meminjamkan fasilitas gereja untuk kegiatan-kegiatan GMKI Pematang Siantar Simalungun.


Audiensi dengan Rektor Universitas Simalungun

Kunjungan ketiga, delegasi GMKI diterima oleh Sekretaris Daerah Kota Pematang Siantar, Renward Simanjuntak. Dalam diskusi yang panjang di ruang kerja Sekda, Sekretaris Umum PP GMKI menyampaikan apresiasi atas toleransi kehidupan berbangsa dan beragama di Kota Pematang Siantar. Semangat toleransi antar warga ini harus dijadikan rujukan bagi daerah-daerah lain di Indonesia, khususnya Jakarta.

Disampaikan pula, bahwa alokasi anggaran pemerintah pusat untuk pengembangan Danau Toba melalui BODT harus turut diawasi oleh mahasiswa agar tidak menjadi lahan korupsi baru bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Konflik horizontal di berbagai daerah yang mengatasnamakan SARA kadang disebabkan oleh gesekan politik sosial ekonomi dan perebutan sumber daya.(TAp/Rel)