Rabu, 18 Desember 2019 21:23:00

Dispar Dan KNPI Padangsidimpuan Gelar Dialog Pemuda Berantas Radikalisme Dengan Pemberdayaan Ekonomi

Padangsidimpuan (Pelita Batak) :
Dinas Pariwisata Kota Padangsidimpuan bekerjasama dengan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Padangsidimpuan melaksanakan kegiatan Dialog Pemuda Tahun 2019 Padangsidimpuan dalam Tajuk, "Memberantas Radikalisme Dengan Pemberdayaan Ekonomi", bertempat di Aula MAN 2 Padangsidempuan, Rabu 18 Desember 2019.

Hadir dalam kegiatan Dialog tersebut, Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Kota Padangsidimpuan, Mei Jenni mewakili Kepala Dinas, Kasat Intelkam Polres Kota Padangsidimpuan, AKP M.Fauzi mewakili Kapolres, Andi Lumalo Ketua DPD KNPI Padangsidimpuan dan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Padangsidimpuan, Muhammad Iqbal Harahap, dan para OKP, Ormas serta organisasi kepemudaan lainnya.
 
Mewakili Kadis Pariwisata Kota Padangsidimpuan, Sekretaris Dinas, Mei Jenni dalam laporannya menyampaikan, dasar kegiatan pelaksanaan Dialog Pemuda Tahun 2019 yang bekerjasama dengan DPD KNPI Padangsidimpuan adalah keputusan Walikota yang bertujuan untuk memberikan ruang dialog bersama Organisasi Kepemudaan tentang pemahaman Radikalisme, Intoleransi ataupun terorisme.

Sebelumnya, Ketua DPD KNPI Kota Padangsidimpuan Andi Lumalo berharap agar semua peserta termasuk seluruh pengurus KNPI yang hadir kiranya dapat mengambil kebaikan serta wawasan  dari acara yang terlaksana.

"Walau bersifat seremonial harus ada yang terserap oleh peserta dan kiranya ada titik paham personal yang terkena dampak radikalisme," ujarnya

Kasat Intelkam Polres Padangsidimpuan AKP Ahmad Fauzi  selaku narasumber memaparkan materi persepsi radikalisme dan ancaman ditengah - tengah masyarakat

"momen seperti ini sangat ditunggu dan memang lagi ramai dibicarakan," ujar Kasat mengawali.

Intoleran menurutnya tidak bisa menerima perbedaan, baik hak sosial politik. Radikalisme merupakan suatu ideologi atau faham yang melakukan merubahan dengan cara kekerasan akan tetapi untuk di Indonesia sendiri menunjukkan intoleran dalam artian anti pancasila.

Diterangkan Fauzi lagi, Radikalisme itu melanda semua agama bukan dituduhkan untuk satu agama atau dikonotasikan pelakunya adalah Islam.

"Kalau bukan sepaham dengan pelaku halal darahnya dimana dari pengamatan saya, pelaku terorisme dan radikalisme itu saat ini terafliasi dengan jaringan ISIS.

Mereka melakukan teror dan kekerasan di semua tempat juga di rumah ibadah. Sedangkan jaringan dari Afganistan sudah melemah," ujar Ahmad Fauzi.

Ketua HIPMI Padangsidimpuan, Muhammad Iqbal Harahap dalam kesempatannya menyampaikan, Negara Eropa sudah melewati masa lalu soal radikalisme disebabkan telah terpenuhi berbagai aspek, baik itu kesejahteraan, Sosial dan Keadilan karena kuatnya pondasi ekonomi.

"Akarnya karena kemiskinan dan kebodohan serta ketidak adilan. Kita adalah negara penduduk usia muda. Harus disadari bahwa Indonesia tempat terbaik untuk hidup dan untuk 50 tahun kedepan, jika kita lalai dan larut dalam perdebatan dan pertikaian radikalisme maka akan lebih jauh tertinggal," terang M.Iqbal Harahap.

Lanjut Iqbal, secara pribadi dirinya menyampaikan terimakasih kepada DPD KNPI Padangsidimpuan khususnya Ketua Andi Lumalo yang telah mengadakan kegiatan Dialog Pemuda Tahun 2019 ini.

Dari forum dialog tersebut, Ketua HiPMI berharap agar Stakeholder di Padangsidimpuan  yang terkait dengan perberdayaan ekonomi untuk berkolaborasi mengatasi persoalan ini melalui Ekonomi.

"Akan bisa diberdayakan kalau kita khususnya pendapatan kita naik kelas dan semua harus duduk bersama dalam mengatasi ini. Kita tidak ingin usia dan waktu kita habis karena berkutat pada pembahasan radikalisme. Ancaman - ancaman lainnya sedang mengintai kalo kita tidak persiapkan menghadapi tantangan ini kecanggihan zaman yang lagi berkembang, " paparnya.

Dalam amatan Wartawan setidaknya ada 3 (tiga) orang peserta mewakili lembaganya memberikan tanggapan saat sesi diskusi berlangsung.

M. Asroy dari BKPRMI dalam tanggapannya menyampaikan, kalau penyebutan faham radikal itu belum tertafsir sepenuhnya.

"Sepertinya kita harus lebih sering melakukan diskusi agar pemahaman radikalisme seperti apa yang dimaksud menjadi ancaman. Kita tidak ingin di Kota  Padangsidimpuan ini terjadi nantinya kata 'Radikalisme' itu menjadi dasar fitnah maupun alat kekuasaan dalam menganiaya orang ataupun kelompok masyarakat," kata Asroy yang juga sebagai penceramah dalam aktifitas kesehariannya.

Katanya lagi, Modal utama untuk membangun kebersamaan menangkal radikalisme lawan dengan pemikiran. Karena seperti yang diterangkan Kasat intelkam Polres Padangsidimpuan bahwa Radikalisme adalah faham,maka dilawan lagi dengan pemikiran.

"Kita aplus kepada Dinas Pariwisa Kota Padangsidimpuan dan khususnya kepada adinda Andi Lumalo yang telah membuka ruang Dialog Kepemudaan ini untuk duduk bersama, berdiskusi untuk membawa generasi muda kita ke arah yang mandiri. Mandiri secara pemikiran juga mapan dari sudut ekonomi," tandasnya.(Saut Togi Ritonga)