Sabtu, 10 Oktober 2020 18:45:00

Buku "Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton" Diluncurkan di Pangururan

Foto bersama Pengurus Punguan Marga Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk, Sidauruk pada acara Peluncuran buku Tarombo Raja Sitempang Anak Raja Nai Ambaton di hotel Sitio-tio Pangururan Samosir.
Pangururan (Pelita Batak):
Buku 'Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja  Nai Ambaton" diluncurkan di Hotel Sitiotio, Pangururan, Kabupaten Samosir, Sabtu, 10 Oktober 2020. 

Buku yang disusun oleh Bachtiar Sitanggang, SH (wartawan dan advokat senior) dan Brigjen Polisi (Purn) Drs. Antonius Sitanggang, SH, MH adalah buku terbaru mengenai silsilah keturunan Raja Sitempang, yang bersumber dari banyak buku dan tulisan. Antara lain, "Pustaha Batak, Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak" karya WM Hutagalung; buku "Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba" karya JC Vergouwen; buku "Perihal Bangsa Batak" karya E. St. Harahap; buku "Patik dan Uhum" karya Raja Patik Tampubolon, serta sejumlah buku karya  Dr. Ir. Bisuk Siahaan; Raja Napogos JP Sitanggang; dan Marcus Albert Sitanggang, dan lainnya. 

Buku tarombo ini terdiri atas sembilan BAB, dilengkapi dengan sejumlah ranji atau pohon keluarga (family tree). Setelah BAB I sebagai Pendahuluan,  uraian selanjutnya adalah BAB II tentang Si Raja Batak (Asal-usul Orang Batak), BAB III Raja Nai Ambaton, BAB IV Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton, BAB V Raja Natanggang Gelar Ompu Raja Pangururan, BAB VI Sitanggang - Simbolon, BAB VII Harajaon di Pangururan, BAB VIII Pelurusan Buku Tarombo Parna, dan BAB IX Penutup yang dilengkapi dengan Kesimpulan dan Saran. 

Dalam Kata Pengantarnya pada Buku Tarombo ini, Ketua Umum Punguan Pomparan Raja Sitempang (Paporata) Indonesia, Raja Napogos JP Sitanggang, antara lain, menyatakan, setelah  menunggu 40 tahun akhirnya buku Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton terbit. 

Penulis dalam sambutannya pada peluncuran buku di Panguruan, yang dihadiri Pomparan Raja Sitempang; Raja Sitanggang; 
Raja Sigalingging; Punguan Raja Simanihuruk; Punguan Raja Sidauruk; dan Sitanggang Gusar, se- Sumatra Utara, yang dihadiri oleh Sekda Pemkab Samosir Jabiat Sagala yang mewakili Pjs Bupati Lasro Marbun.  

Dalam kata sambutannya, Jabiat Sagala menyambut terbitnya buku Tarombo Raja Sitempang ini, karena Kabupaten Samosir sebagai tujuan wisata harus didukung sarana sejarah dan Tarombo. Tarombo sangat perlu bagi orang Batak, maka dengan buku Tarombo Raja Sitempang ini akan pegangan yang jelas dengan buku tersebut.

Hadir juga Prof. Dr. Djuang Sitanggang dan Brigjen Pol. Drs. Antonius Sitanggang SH, MH, yang khusus datang dari Jakarta. 

Menurut Bachtiar acara ini "bersejarah" karena kita yang masih diberi Tuhan kesempatan menyongsong suatu era baru, yaitu me ndalami bersama TAROMBO ni       Ompunta RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON  secara bersama-sama sesama Pomparan ni Ompui RAJA SITEMPANG di Bona Pasogit, manang huta napinungkana on, di huta Pangururan yang sekarang menjadi Ibukota Kabupaten Samosir, di bona ni Dolok Pusuk Buhit.

Buku tarombo ini adalah kumpulan fakta dan data yang telah ada dalam berbagai buku, sekaligus meluruskan dan berupaya mengoreksi berbagai buku dan pendapat dengan memperbandingkan dan mempersandingkan untuk memperoleh suatu kesimpulan.

Dalam buku ini kita kemukakan juga sisi lain yaitu: Bahwa berdasarkan hasil test DNA Orang Batak sama dengan orang-orang yang berasal dari Afrika (buku Dr. Ir. Bisuk Siahaan. “Batak Satu Abad Perjalanan Anak Bangsa”, 2011.24).Bahwa menurut buku Batara Sangti (“Sejarah Batak”. 1977.235) leluhur sukubangsa Tobatua adalah akibat “pengisolasiandiri sendiri”. Si Raja Batak dan kedua puteranya Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon beserta keluarganya di Pusuk Buhit. Legenda-legenda  tersebut dimuat secara terbatasdan menyerahkan kepada pembaca menyimpulkannya, apakah nenek moyang Orang Batak  lahir dari putri khayangan.  Bahwa Si Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Raja Isumbaon memperanakkan Raja Sorimangaraja, Raja Asiasi, Raja Songkar Somalidang.

Menurut Bachtiar Sitanggang, buku tarombo ini berdasarkan fakta dan data  dalam buku-buku sebelumnya memuat: Bahwa Raja Sorimangaraja anaknya tiga, yaitu: Sorba Dijulu Raja Nai Ambaton yang juga disebut Sindar Mataniari, Sorba Dijae, Sorba Dibanua.

Sorba Dijulu/Nai Ambaton anaknya dua, yaitu Raja Sitempang dan Raja Nabolon. Raja Sitempang anaknya dua, yaitu Raja Hatorusan dan Raja Natanggang (Raja Pangururan).  Raja Natanggang/Raja Pangururan anaknya Raja Panukkunan (Tanjabau) kemudian menjadi Sitanggang Bau, Raja Pangadatan dan Raja Pangulu Oloan/Raja Sigalingging.

Raja Panukkunan/Sitanja Bau  atau Sitanggang Bau anaknya dua, yaitu Raja Sitempang (mengambil nama Ompungnya) dan Raja Tinita; Raja Sitempang kemudian memperanakkan Raja Gusar yang memakai Sitanggang Gusar. Raja Sitempang adalah nama turun temurun oleh karenanya hanya disebutkan “memperanakkan”.

Raja Pangadatan anaknya tiga yaitu: Raja Lipan menjadi Sitanggang Lipan, Raja Upar menjadi Sitanggang Upar, Raja Silo menjadi Sitanggang Silo. 
Raja Silo memperanakkan Sitanggang Silo, Raja Simanihuruk dan Raja Sidauruk. Simanihuruk dan Sidauruk menjadi Marga Simanihuruk dan Marga Sidauruk.

Raja Pangulu Oloan/Raja Sigalingging menjadi Marga Sigalingging, anaknya tiga, yaitu Guru Mangarissan (Sigorak), Raja Tinatea (Sitambolang), Namora Pangujian (Parhaliang). 

Guru Mangarissan (Sigorak) anaknya tiga, yaitu: Ompu Limbong, Ompu Bonar dan Mpu Bada. Mpu Bada anaknya enam yaitu : Tendang, Banuarea, Manik, Beringin, Gajah dan Berasa. Dan kemudian nama-nama keturunan Mpu Bada menjadi  marga. 

Buku ini juga disarikan dari berbagai buku serta tarombo, yaitu: Tarombo Si Raja Batak oleh Nahum Sidabutar (Tomok 1976);  Tarombo Nahoda Raja SimbolonTua Si Onom Hudon yang dibacakan  Raja Oloan Tumanggor pada Diskusi Tarombo PARNA, Minggu,  8 Maret 2020 di Aula Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI)  Jakarta.  

Tarombo tersebut sekaligus meluruskan dan membantah buku WM Hutagalung (Pustaha Batak,  Tarombo dohot Turi-turian ni Bangso Batak.1991.137) serta buku JC Vergouwen (Masyarakat dan Hukum Adat Toba) dan penulis lain yang mengacu kepada buku WM Hutagalung tersebut.

Dengan demikian bahwa Raja Sitempang tidaklah sama dengan Munte sebagaimana buku WM Hutagalung, dan Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk dan Sidauruk bukanlah keturunan Munte atau Munthe.

Menguatkan argumentasi tersebut dimuat juga dua tulisan dalam buku ini,  yaitu tulisan: Jahaum Simalango dan  R. Monang PSPH Munthe, tentang Asal-usul Marga Munthe yang mana kedua penulis tersebut  sama sekali tidak mengaitkan Munte dengan Raja Sitempang, apalagi dengan Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk dan Sidauruk.

Fakta konkrit juga dikemukakan  Juru Bicara Forum Komunikasi Munte Se-Indonesia pada Diksusi Tarombo PARNA, 8 Maret 2020 di aula FH UKI Jakarta, yang dengan tegas menyatakan bahwa Munte berasal dari Tambatua.

Untuk menguatkan bahan-bahan bahwa Anak Raja Nai Ambaton bukan enam, bukan lima atau empat, tetapi dua, yaitu Raja Sitempang dan Raja Nabolon, walau penyebutannya berbeda, oleh Nahum Sidabutar: Raja Sotempang; Tarombo Nahoda Raja Simbolon Tua Si Onom Hudon menyebut Sitanja Bau. 

Khusus tentang Sitanggang dan Simbolon di Bonaposogit ini selalu satahi saoloan, taat di PODA dan TONA, rap Sihahaan rap Sianggian, IPAR-IPAR ni Partubu. Selalu berpedoman pada DALIHAN NA TOLU, Somba Marhula-hula, Elek Marboru, MANAT mardongan tubu.

Tona Raja Nai Ambaton bahwa keturunannya si sada anak si sada boru na so jadi masiolian, sampai sekarang masih dipegang teguh.

Penulis mengharapkan buku ini dibaca secara utuh, karena memuat perbandingan dan persandingan, sesuai fakta dan data dari berbagai sumber, sehingga tidak bisa dielakkan terjadinya pengulangan. 

Bachtiar mengatakan, menurut  Prof Tatang Ary Gumanti, yang berkenan mengoreksi,  buku ini telah memenuhi standar akademik. Sedang menurut editornya, Enderson Tambunan, “alurnya mudah dibaca dengan bahasa sederhana".
 
Sebelumnya memberikan kata sambutan juga Ketua Punguan Pomparan Raja Sitempat se Indonesia Ir, Jan Piter Sitanggang, sejarah penulisan buku ini dijelaskan Oleh Prof. Dr. Djuang Sitanggang dan Drs. Anton Sitanggang. 

Ketua Punguan Sitanggang, Sigalingingging, Simanihuruk dan Sidauruk serta utusan-utusan dari berbagai daerah di Sumatera Utara juga memberikan kata Sambutan. Peluncuran yang sama telah dilakukan 16 Agustus 2020 di Universitas Bhayangkara Jaya di Kota Bekai. (PR)