Rabu, 19 April 2017 11:20:00

Komnas Perlindungan Anak Segera Bertemu Polda Sumut

Arist Merdeka Sirait
Jakarta (Pelita Batak) :
Brutalisme, tindakan sadisme yang terjadi beberapa minggu terakhir ini  ditengah-tengah masyarakat Medan Sumatera Utara  telah menunjukkan suatu tindakan yang sangat sadis, keji  dan sulit diterima  akal sehat manusia. Dua kasus yang terjadi oafa keluarga Ryanto dan Mariati ini tergolong pembunuhan berencana dan merupakan kejahatan sadis terhadap kemanusiaan.
 
Baru saja peristiwa pembantaian yang teramat keji terhadap keluarga Ryanto (40) di Kampung Mabar, pasar 1, Medan Sumatera Utara terungkap dan pelakunya juga baru saja ditangkap tim buruh sergap Kasubdit III Jatantras Polda Sumatera Utara juga telah memperagakan suatu tindakan pembunuhan berencana.
 
Belum saja usai proses pengungkapan tabir pembunuhan berencana dan proses hukum kepada si pembantaian Andi Lala (32) dan 3 pelaku lainnya, warga masyarakat Sidomulyo, Kecamatan Medan Tuntungan dikejutkan dengan peristiwa pembunuhan masal yang sangat brutal juga terhadap keluarga   Mariati Sinuhaji (50). Keluarga Ganda Ginting ini disinyalir dibunuh dengan berencana dengan cara membakar satu keluarga yang terdiri dari  seorang anaknya F(30) dan kedua cucunya S (5) dan K (3) hidup-hidup di rumahnya sendiri pada saat suami Mariati Sinuhaji tidak berada di tempat dilatarbekangi sengketa rumah.
 
Sebelum di evakuasi warga, Jenazah korban ditemukan dalam kondisikan terpisah dan menyedihkan di dapur rumahnya tanpa mendapat pertolongan dari warga sekitar sekalipun telah terlihat api menghanguskan rumah Mariati.
 
Pemadam kebakaran yang menerima kabar terbakarnya rumah Maruati dari warga masyarakat juga sangat terlambat memberikan bantuan pemadaman mengakibatkan rasa kecewa warga masyarakat.
 
Prilaku tindakan brutal dan sadis lainnya juga sedang marak-maraknya terjadi seperti kasus kejahatan seksual bergerombol (geng rape) terhadap banyak anak di Medan. Tidak jarang pula perbuatan sadisme itu  mengakibatkan para korban anak-anak dan perempuan  mengalami cacat fisik secara permanen, bahkan berdampak cacat dan  merusak organ-organ seksualitas anak secara permanen bahkan tidak jarang berujung pada kematian yang sangat mengerikan.
 
Dari peristiwa-peristiwa sadisme dan brutalisme itu tidak jarang pula anak-anaklah yang selalu menjadi korban utama.
 
Tidak jarang pula anak-anak usia balita dipaksa mati sia-sia seperti apa yang dirasakan dua anak dari Ryanto korban pembunuhan masal di Mabar yang dilakukan Andi Lala dan dua anak balita cucu dari Mariati korban pembunuhan berencana dengan cara dibakar hidup-hidup di Medan Tuntungan.
 
Demikian juga dengan peristiwa kejahatan seksual bergerombol atau masal  yang terjadi di desa Namorambe, Kabupaten Deliserdang, di Siantar Simalungun, Batubara dan Tanjungbalai bebetapa bulan lalu, dilaporkan  ada beberapa korban anak mati sia-sia dengan cara dicabut paksa hak hidupnya setelah sebelumnya di paksa mengkonsumsi Narkoba, dan mengalami kekerasan seksual dan perkosaan sangat sadis.
 
Mencermati kasus-kasus brutalisme dan sadisme yang terjadi di wilayah hukum Sumateta Utara, Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai institusi pelaksana tugas dan fungsi keorganisasian dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat dibidang promosi, pemenuhan dan perlindungan anak di Indonesia mendesak penyidik Polri di wilayah hukum Poldasu untuk segera mengungkap pelaku pembakaran masal keluarga Mariati di Medan Tuntungan dengan menerapkan ketentuan pasal berlapis yakni pasal 340, 338 junto pasal 82 UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan anak dengan ancaman pidana penjara seumur hidu bahkan hukuman mati.
 
Persitiwa yang telah mengorbankan banyak jiwa raga anak-anak yang sesungguhnya wajib mendapatkan perlindungan sebagai nanusia yang bermartabat, Komnas Anak mengagendakan bertemu dengan jajaran Poldasu dan gubernur Sumatera untuk menyusun kejasama strategis dan berkesinambungan melalui program Membangun Gerakan Nasional Perlindungan Anak Sahuta (kampung) diseluruh wilayah Sumatera Utara.
 
Disampaikan Ketua Umum Komnas Anak Arist Merdeka Sirait dalam rilis nya, Rabu (19/4/2017), aksi pencegahan, deteksi dini serta respon terhadap kasus ini yang dimulai dari kampung atau huta ini telah dicanangkan dan dimulai dengan melibatkan partisipasi masyarakat Karangtaruna, PKK Desa dan Kecamatan, Babinsa, hansip, ketua Rukun Tetangga serta kepala Desa di Kabupaten Deliserdang, Serdang Bedagai, Batubara, Kabupaten Gianyar Bali, Tangerang Banten.
 
Melalui aksi masyarakat ini diyakini dapat memulai memutus mata rantai kekerasan terhadap anak. Peningkatan dan penumbuhan interaksi ekonomi sosial dan spritualitas  warga kampung dengan menanamkan nilai keagamaan juga diyakini dapat menjadi salah untuk menekan prilaku brutalisme dan sadisme ditengah-tengah kehidupan masyarakat.(TAp)