Minggu, 30 Desember 2018 18:52:00

'Sheng Dan Kuai Le' : Selamat Hari Natal dari Negeri Formosa Taiwan dan Impian Mendirikan Kampung Mandarin di Humbahas

Pelitabatak.com - 
Di penghujung akhir tahun 2018 ini, seorang Pekerja Migran Indonesia, Herpianti boru Togatorop asal Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara memberikan kado manis yang spesial kepada masyarakat Sumatera Utara dengan berhasil meraih prestasi sebagai Juara Lomba Pidato Bahasa Mandarin yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Taipei bagian ketenagakerjaan. Herpianti yang sudah hampir enam tahun bekerja di Taiwan sebagai seorang suster (perawat), merupakan anak terakhir dari sepuluh orang bersaudara. Ia lahir dan besar di Humbang Hasundutan dan dikenal sebagai orang yang senang belajar oleh keluarga dan teman-temannya. 

Herpianti sebenarnya sempat kuliah seminari di Kota Medan, namun akibat tidak memiliki uang untuk membayar biaya kuliah, akhirnya ia memutuskan berhenti kuliah dan mencari pekerjaan. Berkat informasi yang diterimanya dari seorang teman tentang peluang bekerja di Taiwan, akhirnya ia memberanikan diri berangkat ke Jakarta untuk melamar melalui sebuah agensi penyalur tenaga kerja ke Taiwan. 

Setelah melalui tahap pelatihan dasar bahasa Mandarin dan ketrampilan terkait pekerjaan, akhirnya Herpianti pun berangkat ke Taiwan di tahun 2017 lalu. Ini merupakan pengalamannya pertama kali ke luar negeri dan bekerja di negeri Formosa yang juga dikenal sebagai Taiwan (nama resmi:  Republic of China), sebuah negara yang sempat familiar di telinga orang Indonesia lewat drama Meteor Garden. 

Awalnya, Herpianti mengalami sedikit kesulitan bekerja karena kendala di bahasa. Namun, dengan tekad yang kuat, di sela-sela jam istirahat pekerjaan atau setelah selesai bekerja, ia belajar sendiri bahasa Mandarin dengan sangat giat. Ia juga mendaftarkan diri di sebuah kursus belajar Mandarin yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan media cetak majalah Indonesia di kota Taipei. Alhasil, kemampuan bahasanya pun semakin meningkat pesat dan ia sekarang dapat berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Mandarin secara fasih baik kepada bos nya sendiri, maupun kepada orang-orang yang dijumpainya di pasar, di rumah sakit, dan di gereja. 

Herpianti sangat senang bisa bekerja dan tinggal di Taiwan. Selain gaji yang diterimanya lumayan cukup besar (sekitar Rp 8 juta per bulan), ia merasakan kehidupan sosial masyarakat Taiwan sangat teratur, di mana-mana orang Taiwan hidup dengan sangat disiplin, memiliki budaya antri dan tepat waktu serta berlomba-lomba untuk mengejar prestasi. Hal ini pulalah yang menjadi pendorong baginya untuk mencontoh dan menerapkan kebiasaan positif dari orang-orang Taiwan dalam kehidupannya sehari-hari. Herpianti berulang kali mendaftar dan ikut perlombaan dan berhasil menyabet gelar juara, diantaranya Juara 2 lomba busana adat favorit yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Universitas Terbuka Taiwan, Juara 1 Pelatihan Suster Profesional yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Veteran Taipei). 

Tidak berhenti di situ saja, ia pun berhasil mengukir sebuah prestasi menjuarai lomba pidato dalam bahasa Mandarin di penghujung akhir tahun 2018 ini. Dalam pidatonya, ia memaparkan tentang kampung halamannya dan panorama indah Danau Toba. Ia juga mengajak orang-orang Taiwan untuk datang berwisata ke Danau Toba dan melihat sisi kehidupan etnis Batak Toba yang juga masih satu rumpun dengan bangsa Austronesia, yang juga dapat ditemui di Taiwan (suku penduduk asli Taiwan) yang telah bermukim ratusan tahun lampau, yang bermigrasi dari Cina Selatan ke Pulau Formosa. 

Kemampuan Herpianti berpidato dalam Bahasa Mandarin yang sangat fasih dan enak didengar ini, sangat memukau para dewan juri sehingga ia pun menyabet gelar juara pertama dengan hadiah uang tunai sebesar NT$ 20,000 元 (setara Rp 9,4 juta). Lomba ini didukung penuh oleh Pemerintah Kota Taipei bagian ketenagakerjaan.

Gelar juara ini ia persembahkan untuk keluarganya di Indonesia, khususnya di  Humbang Hasundutan sebagai hadiah Natal dan Tahun Baru 2019. Intinya, "selain untuk bekerja demi mendapatkan uang, sebenarnya pekerja migran memiliki banyak peluang dan kesempatan yang untuk mengembangkan diri dan meraih prestasi," imbuh Herpianti.

Herpianti yang juga merupakan mahasiswa aktif di Universitas Terbuka Taiwan jurusan Manajemen semester 2 punya keinginan agar kelak dapat mendirikan Kampung Mandarin di kampung halamannya di Humbang Hasundutan, sehingga dapat mendidik warga di kampungnya (khususnya anak-anak remaja dan pemuda) untuk belajar Bahasa Mandarin. Ke depannya, ia melihat sebuah potensi hubungan Indonesia (khususnya wilayah Sumatera Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan) dengan Taiwan, Cina akan semakin erat di sektor perdagangan, pendidikan, dan pariwisata. Hal ini tentu saja akan sangat membutuhkan orang-orang yang bisa berbahasa asing, yaitu Mandarin.

Sebagai penutup wawancara dengan Herpianti, secara khusus ia ingin menyampaikan Ucapan Selamat Natal kepada seluruh keluarganya di tanah air, khususnya yang tinggal di wilayah Humbang Hasundutan (Humbahas) dan kepada Pemerintah Pusat Indonesia serta Pemerintah Daerah Kabupaten Humbahas. Natal di tanah rantau telah mengajari untuk memandang Natal dari sudut pandang yang berbeda. Natal bukanlah tentang perayaan yang gemerlap, melainkan Natal adalah sebuah peristiwa tentang penyertaan Allah atas kita umat manusia. Apapun keadaan kita hari ini, entah kita merayakan Natal bersama dengan keluarga ataupun seorang diri, kiranya refleksi Natal sederhana ini boleh mengingatkan kita kembali untuk mengucap syukur atas kebaikan Allah dan meneruskan kebaikan itu kepada orang lain.

'Sheng Dan Kuai Le' '圣诞快乐', Merry Christmas. Selamat Natal!

Penulis: Flemming Panggabean
(Alumni Taiwan, Dosen Universitas Nasional Karangturi Semarang).