• Home
  • Opini
  • Tidak Menjual Tanah, Budaya Lokal Orang Batak
KSP Makmur Mandiri
Senin, 06 Maret 2017 10:39:00

Tidak Menjual Tanah, Budaya Lokal Orang Batak

Oleh: Ronsen LM Pasaribu
BAGIKAN:
Ist
Ronsen LM Pasaribu, Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia
Menarik sekali melihat sistem "subak" di Bali dimana dikatakan para petani sangat taat melaksanakan tehnologi pertanian yang bersifat turun temurun. Kecuali ada tehnologi baru yang tidak merugikan petani secara kolektif, petani mau menerapkannya. Jaminan saluran dari tali air dengan pengaturan secara gotongroyong, memastikan air tersedia tanpa ada yang berbuat curang dengan diam diam menutup mengakibatkan sawah sebelah kering. Perbuatan itu jarang terjadi. 
 
Begitu juga waktu tanam, akan dilakukan secara serempak sebab waktu tanam bagi petani sudah sejak jaman dahulu diatur dengan menyesuaikan iklim, serta menghindari dari hama seperti tikus, burung dan lainnya.
 
Hasil panen merupakan andalan tetap untuk konsumsi setahun berikut. Artinya bahwa kehidupan satu keluarga sepenuhnya berasal dari hasil sawah tersebut. Tiap panen, disimpan dalam lumbung tanpa dijual ke pasar. Prinsip lain hasil sawah tidak ditakar dari untung rugi, menurut mereka ketika panen surplus disyukuri, tidak optimal juga disyukuri. Sawah sudah sedemikian baik, menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Bahkan, dikatakan sawah adalah nyawa pemilik tanah.
 
Cara pandang inilah betapa kehidupan petani tergantung menyatu dengan tanah sehingga tanah pertanian mereka perlu dipertahankan sampai kapanpun. Apalagi rencana menjual tanah, tidaklah menjadi pilihan sesulit apapun kehidupan mereka. Menjual sawah sama artinya dengan menjual “nyawa”. Patutlah kita saksikan, kehidupan yang guyup, kebersamaan dalam memperbaiki tali air (bondar), masih hidup sampai sekarang bahkan sampai kapanpun tak akan berubah menjadi individualistis sebab bendar akan mengaliri sawah dari hulu sampai hilir, selamanya.
 
Bagaimana dengan di daerah kita, di Tano Batak? Wisdom lokal atau kebiasaan bertani di bonapasogit, dikenal juga seperti sistim subak di Bali. Walau belum ada istilah yang baku. Yang berbeda ketaatan dalam mengelola bondar, masih belum kompak seperti di Bali. 
 
Satu tali air, bondar,mengaliri banyak sawah, dari hulu sampai hilir dan biasanya airnya mengandung hara sehingga menjadi pupuk bagi tanaman padi. Karena itu, sawah yang dialiri air gunung selalu subur, dialiri air yang membawa pupuk kompos alam sebagai karunia Tuhan, hadiah gratis sehingga pupuk tambahan tidak terlalu banyak lagi.
 
Begitu juga etika mengatur air, seperti disubak, sudah menjadi kebiasaan tercipta kerjsama, gotong royong tanpa ada yang menutup air di hulu. Semua dipastikan air kebagian, karena ketergantungan air disawah basah ini sangat tinggi. Pelanggarn atas hukum kebiasaan mengatur air ini, merupakan pelanggaran berat dan mendapatkan sanksi sosial. Dan sejauh yang saya tahu, pelanggaran ini jarang terjadi. Sifat gotongroyong, masih hidup dimasyarakat kia.
 
Sedikit pengecualian, dalam penentuan musim tanam. Secara adat kebiasaan juga selalu ada ritme, waktu tanam, waktu menyiangi,waktu pelihara bulir dan sampai panen. Ini tehnologi yang tak boleh juga di simpangi, jika seorang menyimpangi, akan menjadi buah bibir dan cemooh karena akan memancing hama dalam pertanian.
 
Ekspektasi masyarakat tani akan hasil sawahpun begitu tinggi kepada hasil pertanian, entah sawah mapupun tanah ladang. Harapan hidup dari panennya sangat tinggi. Bolehlah dikatakn bahwa sawah dan ladang bagi petani, merupakan bagian dari kehidupannya. Keluarga, anak yang sekolah, tergantung pada kemurahan hati tanaman ini. Makanya,tidak berlebihan oleh tehnologi pertanian yang sering dilupakan oleh petani adalah memperlakukan tanaman sebagai bagian hidupnya, sehingga memerlukan apa yang disebut psikologi tanaman.
 
Ayah saya mengajarkan, bahwa setiap menabur bibit, selalu bersimpuh berdoa terlebih dahulu. Begitu menanam sampai tahapan panenpun, wajib dilakukan dialog dengan tanaman ini agar menghasilkan dengan optimal serta dijauhkan dari bencana alam, musuh dan hama seperti babi, burung pipit, babi atau tikus. Tiap hasil, ditabung disimpan di sebuah lumbung padi, di sebelah rumah agar menjadi cadangan makanan selamu setahun penuh. Begitulah, berapapun hasilnya selalu disyukuri, tak ada istilah rugi. Semuanya berkat.
 
Dengan pertimbangan diatas, maka pantaslah pemerintah mengeluarkan aturan melarang menjual tanah pertanian kepada masyarakat diluar kecamatan (absentee) maksudnya memastikan masyarakat di Kecamatan itu terjamin hidupnya. Hukum Pertanahan digali dari hukum adat, dimana di daerah Batakpun dilarang menjual tanah. Artinya sadar akan arti pentingnya sawah sebagai bagian kehidupannya bagaikan rohnya. Menjual tanah, sama saja menjual sebagaian nyawanya, membuat hidupnya menjadi tidak pasti dikemudian hari.
 
Jika dan jika jual tanah ini terjadi, maka disamping tergusur dari tanah leluhurnya, juga dimaknai tidak menghormati orangtua yang membuka tanah tersebut, memutus cita-cita agar keturunan terjamin kehidupannya.
 
Demi menjamin tidak terjadi jual beli tanah kecuali Warisan, ada baiknya didorong untuk menerbitkan Perda guna memastikan lahan pertanian tidak beralih ke masyarakat diluar Kecamatan. Jikapun terpaksa, juallah kepada masyarakat setempat yang profesinya memang petani juga. Sebab, jika tidak tanah jatuh kepada pemodal. Kondisi ini menciptakan ketidakadilan baru, petani menjadi buruh ditempatnya dan kemiskinan akan semakin banyak. Ginirasion pemerataan tanahpun akan semakin besar. Itu tidak kita harapkan.(Ronsen LM Pasaribu, Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia)
  BeritaTerkait
  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    4 tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  • Indahnya Persaudaraan: Orang Kristen, Muslim, Yahudi, Bersatu di Kebun Kopi

    4 tahun lalu

    Uganda (Pelita Batak): Hubungan yang tadinya jauh dan berjarak antara orang Kristen, Islam dan Yahudi, ternyata dapat diakrabkan lewat usaha koperasi pemasaran kopi.     Daripada

  • Tri Dukung Karya Anak Bangsa Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :Generasi muda saat ini bisa dikatakan punya lebih banyak keuntungan dalam berbisnis dari pada generasi sebelumnya, dengan tersedianya berbagai teknologi yang dapat digunakan

  • Ini Kekuatan Orang Batak Toba Menurut Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):   Orang Batak Toba memiliki kelebihan-kelebihan. Demikian disampaikan Pastor Dr. Herman Nainggolan, OFMCap dalam Seminar Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan-Aceh,

  • GMKI : Pemerintah Harus Lebih Kerja Keras Membangun Sumatera Utara

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo (Jokowi) datang ke Sumut di Taman Raja Batu, Mandailing Natal, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (25/03/2017)menyerahkan 1.158 sertifika

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb