• Home
  • Opini
  • Tanggapan Inti terhadap "Draft Aturan Peraturan HKBP 2002 Hasil Amandemen III"
KSP Makmur Mandiri
Minggu, 29 April 2018 09:23:00

Tanggapan Inti terhadap "Draft Aturan Peraturan HKBP 2002 Hasil Amandemen III"

BAGIKAN:
Ist
Pdt Dr Robinson Butarbutar
Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar Parsameanta, STT-HKBP

I. Dasar Ekklesiologi HKBP yang sudah disusun oleh para tokoh HKBP melalui sejarah pengalamannya bergereja yang sudah hampir 157 tahun adalah ekklesiologi reformis, yaitu yang didasarkan pada ajaran Yesus di dalam injil-injil dan para rasul dan yang lainnya di dalam surat-surat Perjanjian Baru, dan mengikuti ajaran reformator Martin Luther, serta mengadopsi filosofi budaya Batak yang sesuai dengan firman Tuhan, yaitu yang saling menghargai, semua berperan dalam fungsi yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda-beda pula, semua adalah anak-anak sang Raja, Allah Tritunggal yang telah memanggil mereka ke dalam kerajaan-Nya. 

Tidak ada perbedaan tingkat status di antara mereka. Semua adalah imamat am orang percaya. Menjadi pendeta lewat tahbisan di hadapan umat Allah tidak membedakan statusnya secara teologis dari anggota imamat am rajani lainnya, tetapi mereka, pendeta dan warga dibedakan secara fungsi, masing-masing memiliki peran di dalam penataan hidup bergereja. Pendeta mewakili Kristus melakukan tugas-tugas-Nya, tetapi bukan mewakili eksistensinya sebagai Allah yang kudus dan mulia, yang berada di atas segalanya, karena hanya Kristuslah Sang Kristus. 

Ia tidak dapat digantikan oleh siapapun. Karena pemahaman itulah HKBP memberi pengakuan pada tugas penting pendeta, tetapi tidak dalam artian dia itu adalah Kristus itu sendiri, juga tidak dalam artian bahwa status keimamannya berbeda dari anggota imamat am rajani lainnya. Itu sebabnya HKBP dalam praktiknya tidak menyerahkan pengambilan keputusan pada pribadi dan kehendak pendeta, melainkan harus melalui kewenangan rapat. 

Tetapi memang hanya pendetalah melakukan tugas yang sudah diperuntukkan baginya. Tidak boleh oleh yang lain. Tetapi dalam hal tertentu, misalnya baptisan dalam kondisi darurat anggota imamat am yang lain bisa melakukan tugas yang diperuntukkan bagi pendeta, misalnya dalam baptisan darurat seorang penatua atau orang tua dari si bayi yang belum terbaptis dapat melayankan baptisan terhadapnya jika pendeta tidak tersedia. 

Itu dilakukan walaupun tugas pendetalah melayankan Sakramen Baptisan. Malah pada tingkat rapat sinode, walau Ephorus adalah penyelenggara sinode, tetapi di sinode ia tidak memimpin sidang-sidang sessi, melainkan Ketua Majelis Persidangan yang diangkat oleh sinodelah yang memimpin. Ephorus melaporkan pertanggung jawaban pelaksanaan tugasnya untuk dievaluasi oleh peserta sinode. Semua berperan. 

Hanya dalam hal tidak ada keputusan maka Ephorus mengambil keputusan terakhir agar tidak ada masalah yang tidak terselesaikan dan mengganggu roda pelaksanaan tugas gereja. Tetapi selalu diusahakan melalui konsensus, dan kalau perlu melalui pemungutan suara, kehendak peserta rapat.

II. Tanggapan terhadap Draft AP Hasil Amandement III Oleh karena pemahaman ekklesiologis seperti di atas itu, maka berikut merupakan beberapa hikmat terhadap draft AP 2002 hasil Am. 3 yang kini tengah digumuli di jemaat-jemaat dan jika tidak mendapat perubahan dari jemaat-jemaat akan bisa menjadi konsep akhir untuk dibicarakan dan diputuskan oleh Sinode Godang Oktober 2018, yang menurut AP 2002 Hasil Amandemen 2 juga oleh keputusan SG Sep 2016 merupakan Sinode Kerja, yang satu di antara materinya membicarakan cara pemilihan para pemimpin HKBP yang pada pemilihan pada sinode September 2016 lalu memakai cara yang diaturkan pada AP 2002 Hasil Amandemen 2 yang dianggap belum memuaskan semua pihak: 

1. Rapat Pendeta harus dijaga dari kompetisi kekuasaan. Pemilihan Ketua Rapat Pendeta saja yang tidak punya kekuasaan struktural sudah bisa menggesek persaudaraan di antara para pendeta. Rapat pendeta membahas pergumulan kita, peningkatan parhahamaranggion kita sebagai satu tohonan dengan tugas dan hak yang sama, dan dogma kita. Berkompetisi menuju dan di SG dengan cara pemilihan seperti yang lalu-lalu saja sudah membuat luka-luka berat yang lebih sering dari bukan, tidak pernah sembuh, walaupun kita mengenal ajaran Kristus yaitu saling mengampuni. 

Apalagi jika dimulai dari Rapat pendeta seperti diusulkan dalam draft menjadi wadah pemilihan balon pimpinan HKBP. Bisa tumbuh luka-luka baru yang lebih besar, bukan hanya di antara pendeta resort, ruas Sinode Godang, tetapi juga di antara semua kita pendeta, bukan hanya di antara yang sudah berpengalaman tetapi juga di antara yang muda pengalaman dan di antara kedua mereka. Citra kita pun sebagai pendeta yang bertugas menyatukan anggota tubuh Kristus akan tergerus tajam di mata umat dan di dunia ini. 

Itu sebabnya diusulkan di SG 2016 agar dicari jalan bagaimana agar tidak ada luka-luka itu, misalnya dengan merevisi cara pemilihan yang sudah lama kita pakai, yang menyebabkan ada kampanye untuk menggalang suara, atau manjomput na sinurat, yang sudah ditolak SG 2014. 

2. Ditariknya pencalonan balon Praeses dari Sinode Distrik membuat roh partisipatoris yang sesuai Injil dan nilai budaya Batak yang indah (rap mangarangrangi dht mangulahon sude ulaon) yang selama ini merupakan kekuatan gereja ini, walau kelemahannya dapat diperbaiki, juga sangat berbahaya. HKBP menghidupi roh partisipasi semua selama ini di semua lini. Itu sesuai dengan roh reformasi, walau masih ada wewenang masing-masing. 

Itu sebabnya tohonan tidak membedakan harkat kita sebagai imamat am yang rajani, tetapi ada tugas masing-masing dan penghargaan terhadap nilai pemangku tugas-tugas itu. Tohonan tidak membedakan status kita, tetapi mengatur fungsi kita di dalam gereja. 

3. Dihapusnya Ketua Rapat Pendeta dan Ketua Rapat Partohonan lainnya, juga Kepala Departemen, kini semua dipegang Ephorus, sangat tidak sehat.Yang sekarang saja, di mana sudah ada sharing of power dan responsibility yang terbatas, masih memperlambat mesin organisasi gereja kita, karena semua harus lewat persetujuan Ephorus. Dulu dua pejabat Eph dan Sekjen saja telah mengakibatkan HKBP konflik terus. Kalau yang lima pimpinan sejak periode 2004 hingga sekarang masih belum bisa maksimum bekerja seperti diminta AP 2002 sebelum dan sesudah hasil amandenen 2, itu karena faktor manusianya. 

Perubahan perilaku berorganisasilah yang harus kita tingkatkan untuk mengatasi kelemahan pencapaian tugas yang besar yang sudah diatur oleh AP 2002 hasil Amandemen 2 yang sudah diputuskan SG 2014. 

4. Persyaratan menjadi pimpinan (lama kependetaan dari 15 tahun untuk Praeses dan Sekjen, dan dari 20 tahun untuk Ephorus, menjadi lama kependetaan 20, 25, 30 tahun untuk Praeses, Sekjen, Ephorus) tidak memerhatikan preseden selama ini yang mampu menampung inklusivitas kita, tetapi menyingkirkan yang satu dan yang lainnya, tidak kuat memupuk kesatuan kita, malah dapat mengancamnya. 

5. Di antara cara Mandabu Petek dengan sistim setengah N tambah satu (cara kita sejauh ini, yang dilihat tidak memuaskan semua pihak pada sinode Oktober 2016) dan Manjomput na Sinurat (yang ditolak pada voting SG Oktober 2014) ada cara bijak yang dapat dipertimbangkan dalam mencegah adanya kampanye dan pengelompokan sebelum, pada saat dan sesudah Sinode Godang tanpa menolak sistim Mandabu Petek tetapi tetap mendengar motivasi dan tujuan dari keinginan mengapa Manjomput na Sinurat diusulkan (untuk mencegah gontok-gontokan), yaitu "Melarang Adanya Kampanye dan Politik Uang dan Pengaruh serta Penggunaan Kekuasaan apapun) dalam bentuk apapun dan kapanpun" dengan sinode mengangkat Tim Pengawas/Pemantau independen yang berintegritas dan kinerjanya diatur aturan dengan ketat dan sebaik mungkin untuk bebas dari nepotisme dan seterusnya, yang kedapatan kampanye didiskualifikasi dan anggota pengawas yang tidak taat SOP ditindak oleh Rapat MPS sebagai perpanjangan tangan Sinode Godang di antara Sinode Godang, maupun oleh Sinode Godang. 

Data Personel HKBP yang memenuhi syarat dibuat tersedia dan dikirim ke para anggota sinode di tempat mereka masing-masing untuk mempelajari track record seseorang. Biarlah semua berdoa untuk memilih berdasarkan hati nuraninya. Itu mungkin cara yang dapat dipertimbangkan, jalan tengah merespons permintaan sinode mencari cara pemilihan yang lebih sehat yang menunjukkan bahwa kita adalah tubuh Kristus, karena cara itu menghargai kedua roh, yaitu roh pentingnya orang Kristen sebagai manusia baru mengambil tanggung jawab sendiri memilih pemimpinnya yang bertanggung jawab pada pemilih, dan roh campur tangan dan tuntunan Tuhan sebagai pemimpin gereja-Nya yang Ia kuduskan dan tugaskan lewat kuasa doa yang sungguh-sungguh dan dilakukan dalam kebenaran. 

Setiap pemimpin bertanggung jawab kepada pemilihnya dan kepada Tuhan pemilik Gereja-Nya yang memilihnya melalui para pemilih yang memilih lewat doa kepada-Nya dan dengan mendengarkan suara hati dari manusia barunya. Tidak sehat jika satu atau yang lainnya ditiadakan. 

III. Penutup Intisari AP HKBP harus dibuat dan dirumuskan dengan seksama, penuh pergumulan dan doa. Aturan dan Peraturan bukan soal mempertahankan atau perebutan kekuasaan, melainkan untuk mengatur kehidupan dan tugas panggilan bersama dalam gereja. Salam dan doa  Pematangsiantar.(*)
  BeritaTerkait
  • Paguyuban Sarjana Hukum dan Bantuan Hukum HKBP Distrik VIII DKI Jakarta Dilantik

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :Paguyuban Sarjana Hukum dan Bantuan Hukum HKBP Distrik VIII DKI Jakarta dilantik oleh Pdt. Midian KH Sirait, MTh., di HKBP Pulo Asem Jakarta Timur, Minggu, 11 Juni 2017.Paguyub

  • Ini Pendapat Ephorus Emeritus HKBP Pdt JR Hutauruk tentang Pdt Robinson Butarbutar

    4 tahun lalu

    Sipoholon (Pelita Batak) :<br></br> Emeritus Ephorus HKBP (Periode 1998-2004) Pdt Dr JR Hutauruk meminta kepada seluruh warga jemaat dan para calon untuk tetap menjaga semangat kedamaian serta persatuan HKBP dalam melaksanakan Sinode Godang d

  • Tulisan Kedua: Menyambut Seminar Ekklesiologi HKBP - Komisi Teologi HKBP Menuju Sebuah Gereja Pendeta?

    3 tahun lalu

    Oleh: Ephorus Emeritus HKBP Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk   Paparan ini merupakan lanjutan dari paparan terdahulu yang telah terkirim kepada Komisi Teologi HKBP via email, 17 April lalu

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Ketujuh)

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. HutaurukIV. Apa Artinya "Pendeta Representasi Figur Kristus"?1. Kemajemukan Jabatan:  Pendeta pada Urutan KeempatJabatan gerejawi di HKBP adalah beragam, bukan manunggal

  • Robinson Butarbutar Effect, KRP, dan Masa Depan HKBP

    3 tahun lalu

    KETIKA Ketua Rapat Pendeta HKBP 2017-2021 mampu membawa kualitas pelayanan pendeta naik kelas dengan sejumlah prestasi yang bermulplipief effect (efek besar) bagi jemaat HKBP, saya menyebutnya dengan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb