• Home
  • Opini
  • Sisada Dekke, Tanpa Kehilangan Esensi
KSP Makmur Mandiri
Minggu, 15 Januari 2017 21:17:00

Sisada Dekke, Tanpa Kehilangan Esensi

Oleh: Ronsen LM Pasaribu
BAGIKAN:
FB/Ronsen LM Pasaribu
Ronsen LM Pasaribu
Cukup lama saya dapat memahami Sisada Dekke, yang disepakati "pemuka adat" di Surabaya dan sekitarnya. Beda dengan di Sumatra dan Jakarta, setiap Hula-hula, Tulang baik Tulang maupun Bona Tulang, Tulang Rorobot termasuk Tulang/Hula hula anak manjae, jika menghadiri Undangan Perkawinan tidak lagi membawa Dekke tapi cukup satu saja, yang dibawa oleh Hula-hula atau Tulang. Hukum adat ini berlaku bagi pihak Paranak dan Parboru.
 
Tentu ada alasannya, sebab selama ini setiap kelompok Hula-hula, wajib membawa Dekke yang terdiri dari Ikan Mas yang ukurannya besar-besar (diusahakan supaya tidak dianggap kurang menghargai). Jika ada kelompok Hula-hula ada lima maka dekke ada lima, setiap " tempat dekke" itu jumlahnya ganjil, boleh 3,5,7 atau 9 ekor tiap satu tempat.
 
Alasan pertama, pertimbangan praktis. Cukup Hula-hula atau Tulang yang menyiapkan sedangkan pihak hula-hula/Tulang lain tidak perlu lagi. Artinya kehadiranya tidak membawa dekke, tetapi sudah diwakili oleh Hula-hula dari pengundang atau Suhut. Praktis memang, memudahkan kehadiran mereka tanpa ada kerepotan untuk membeli, memasak dan membawa ke arena pesata adat. Ini sudah kesepakatan raja raja adat.
 
Alasan kedua, dipertanyakan Ikan sebanyak itu, siapa yang memakannya atau jadi mubazir saja. Memakan ini, bisa sebenarnya dipersoalkan, karena bisa saja waktu makan, ikan dibagi-bagi kepada undangan pada jamuan makan atau dibagi-bagi kepada para Dongan tubu yang masih betah di gedung sampai adat selesai yang biasanya sampai sore atau bahkan malam. Argumen ini tentu tidak jadi pilihan, karena sudah menjadi kesepakatan raja adat.
 
Alasan berikut dari sisi Idealnya bahwa pihak Hula-hula harus membawa Dekke, sebagai unsur penting dalam acara adat nagok dimana Hula-hula wajib memawa upa-upa yang dimanifestasikan pada wujud dekke, untuk adat Batak Toba. Inilah yang hilang, formalitas dekke secara fisik sudaha tidak lagi diadakan hanya karena alasan praktis tadi. Bagi sebagian kelompok Orang Batak, tentu sulit menerima sisada dekke ini, khawatir kehadirannya kurang memenuhi unsur adatnya. 
 
Argumen yang disodorkan atas keberatan ini adalah bukannya tidak membawa hanya disatukan, bukannya tidak diatat tetap dicatat membawa bahkan di umumkan kepada halayak forum adat bahwa Tulang Rorobot, Tulang anak manjae "marga tertentu" membawa Dekke. "Tajalo do dekke sian Tulang Siahaan", dan seterusnya.
 
Kenapa bisa berbeda, lebih efisien efektif di suatu daerah seperti Surabaya dengan Jakarta atau Sumatra?. Bagi Raja Adat dan Suhut Sihabolonan, pastinya akan lebih meringankan sudut biaya. Katakan satu unit Dekke harganya Rp. 500.000,00 (lima ratus rupiah) maka bisa efisien sebanyak kelompok yang wajib diundang. Sekalipun dalam praktek pihak Suhut yang menjadi pihak yang mengadakannya di katering. Ini yang disebut "manjalo di pestama Hula Hulai, sehingga tidak membawa langsung".
 
Perdebatan ini tidak mudah, butuh waktu untuk menyepakatinya oleh komunitas marga-marga di Surabaya. Tentu, satu aspek yang dianggap lebih maju dalam pelaksanaan adat istiadat. Apabila elemen lainnya bisa disederhanakan, tanpa kehilangan makna (tanpa mengurangi kehadiran Hula-hula), menurut penulis, pasti ditunggu oleh komunitas orang batak itu sendiri.
 
Upaya untuk efektif dan efisien sudah disepakati seperti "ulaon sadari", beberapa agenda rangkaian pernikahan jika itu dilaksanakan sesuai aslinya di Bonapasogit dahulu kala seperti manikkir tangga, mebat (malungun, Angkola) dan sebagainya sekarang sudah dijadikan dalam satu hari. 
Termasuk, di pagi hari Marsibuha-buhai, dilaksanakan di gedung. Namun, mangalap boru, tetap keluarga laki tetap harus datang dirumah perempuan, walaupun jauh kecuali disepakati kedua pihak memilih tempat disatu tempat penginapan atau Wisma. Menerima parumaen, dilaksanakan simbolik di gedung oleh pihak paranak agar tetamu tidak lagi pergilagi kerumah sebab selesainya sudah larut apalagi jarak gedung ke rumah jauh. Inipun, proses yang lama untuk dapat disepakati bahkan alot.
 
Bagaimana dengan elemen lainnya apakah masih harus dipertahankan atau ada yang bisa di revitalisasi agar supaya tanpa kehilangan makna sempurnanya suatu adat tetapi bisa mengurangi agregat biaya pernikahan secara adat. Ini yang perlu kita pikirkan dimasa mendatang ini.
 
Saya dan FBBI mengharapkan komunitas adat di perantauan ini berkomitmen untuk melaksanakan adat supaya sebagai orang batak dapat mengikuti dengan memberi dan menerima adat. Saatnya memandang penting revitalisasi kegiatan yang berdampak mahalnya suatu pernikahan adat batak. Elemen apa saja, silahkan dibahas mungkin Anda punya pandangan?
 
Hal ini guna menghindari generasi muda dimasa mendatang tidak menghindari perkawinan secara adat hanya karena biaya yang tidak mencukupi, sekalipun disebut acaranya skala kecil atau sedang. Semoga. Sriwijaya, Jakarta-Surabaya, tanggal 15 Januari 2017, pkl. 14.30 WIB. (Ronsen LM Pasaribu, Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia berkedudukan di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Restorasi dan Reformasi Mar-Adat Pasca Covid 19

    2 bulan lalu

    Oleh : Sampe L. PurbaPendahuluan Terjadinya pandemik CoronaVirus 19 (CoVid 19) yang melanda seluruh dunia, telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi saat ini

  • Pertemuan Kapolri dengan Firman Jaya Daeli, Ini yang Dibahas

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian bertemu dengan Firman Jaya Daeli (Mantan Tim Perumus UU Polri Di Pansus DPR-RI) yang membahas tentang komitmen dan konsistensi akan reformasi Polri, pemaknaan dan percepatan program Polri, pen

  • 24 ORNOP Minta Pemerintah Tertibkan Peredaran Burung Ilegal

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Koalisi Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP) untuk Penyelamatan Burung yang terdiri dari 24 organisasi dari pulau Jawa, Sumatera, Bali, Papua, dan Maluku, mendesak agar pemerin

  • Bisnis Asia Pasifik Siap Menjadi Pemimpin Digital, Menurut Studi Terbaru Forbes Insights

    4 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Berdasarkan laporan baru berjudul "How to Win at Digital Transformation: Insights from a Global Survey of Top Executives" dari Forbes Insights bersama dengan Hitach

  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb