KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 25 Agustus 2018 06:14:00

KABAR DARI SEBERANG

Samosir Pulau di Dalam Pulau

BAGIKAN:
Courtesy Akuratnews
Ikan mati di Danau Toba
Oleh Bachtiar Sitanggang

BELAKANGAN ini Pulau Samosir dan Danau Toba terus menjadi berita. Selain tekad  Pemerintahan Joko Widodo membangun Danau Toba sebagai tujuan wisata lebih konkret dari pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, dengan berfungsinya Bandara Internasional Silangit menjadikan pulau di dalam pulau itu menjadi berita.

Berita menggetarkan hati adalah peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun, Senin, 18 Juni 2018, dalam pelayaran Simanindo (Samosir) ke Tigaras (Simalungun) dengan 193 orang penumpang, hanya 18 orang yang selamat. Sampai sekarang kerangka kapal dan jenazah banyak lagi korban belum ditemukan.  

Pencarian dihentikan dengan segala pertimbangan teknis serta kemungkinan kondisi jenazah yang sudah begitu lama tidak ditemukan.  Penyebab tenggelamnya kapal itu serta siapa yang bertanggung jawab, kelihatannya tidak terpublikasi lagi.

Awalnya, Polres dan Polda Sumatra Utara telah mengamankan nakhoda kapal Polta Soritua Sagala, Karnilan Sitanggang (pegawai honorer Dishub Samosir sekaligus Kapos Pelabuhan Simanindo), Golpa F. Putra (PNS Dishub Samosir),  Rihad Sitanggang (Kabid ASDP Samosir). Kemudian Kadishub Samosir Nurdin Siahaan, tetapi bernasib baik. seusai diperiksa masih menghirup udara segar, tidak seperti anak buahnya langsung masuk ruangan berjeruji besi.

Menjadi pertanyaan dari seorang mantan Dirjen Hubla Kemenhub, mengapa seorang pegawai honorer sebagai tersangka,  karena pegawai honorer tidak memiliki tugas pokok dan fungsi (Tupoksi)? Tanpa mengurangi kecepatan dan kecermatan aparat penegak hukum, pertanyaan itu perlu menjadi bahan pertimbangan, terutama Pengadilan. 

Selain berita memilukan di atas, belakangan Danau Toba dan Samosir menjadi topik pemberitaan lagi dengan masuknya penerbangan AirAsia dan Malindo Air dari Kuala Lumpur, Malaysia,  ke Silangit,  yang tentunya akan mempermudah wisatawan negara jiran ke kawasan wisata tersebut. 

Namun, beberapa hari belakangan ini berita mencengangkan muncul dari Samosir dan Danau Toba, yang membuat tanda tanya,  apa yang terjadi. Kalau menurunnya permukaan air Danau Toba, memang biasa terjadi,  karena air yang masuk ke danau sedikit sedang yang keluar tetap besar untuk menggerakkan turbin PT Inalum di PLTA Sigura-gura, sebab kalau tidak maksimal perusahaan tersebut akan rugi. 

Sebenarnya  permukaan air Danau Toba tidak lagi mungkin maksimal dan bahkan secara alamiah akan semakin menurun dari waktu ke waktu karena kesalahan kebijakan pemerintah yang memberikan konsesi ke PT IIU dahulu dan PT Indorayon sekarang membabat habis hutan alam yang telah berusia ratusan tahun  dan diganti dengan eukaliptus. Diakui atau tidak,  itu akan memengaruhi pasokan air ke Danau Toba. Selain itu,  di era Orde Baru ada yang disebut Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan), yang ternyata hanya di atas kerta, dan bahkan ada dugaan jadi lahan korupsi. 

Kedua, berita yang mengagetkan adalah matinya sekitar 180 ton ikan emas, mujahir dan nila di perairan Pintusona, Pangururan,  ibukota Samosir, yang jarang terjadi. Sampai digunakan alat berat untuik mengangkut dan mengubur ikan-ikan itu. 

Ada apa yang terjadi dengan air Danau Toba dan Pulau Samosir yang disebut sebagai "Negeri Indah Kepingan Surga" itu? Ikan-ikan mati, apa benar karena kadar keasaman air sudah tinggi serta berkurangnya oksigen atau ada masalah yang berkaitan dengan kegunungberapian?

Kita berharap agar masalah tersebut tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat sekaligus menjadi penjelasan kepada turis, maka pemerintah daerah perlu bertindak cepat berkordinasi dengan Pemerintah Pusat, sehingga teridentifikasi apa dan mengapa yang terjadi. Danau Toba dan Samosir adalah bekas gunung api yang meletus ratusan ribu tahun lalu. Karena itu perlu dikaji ulang penggunaan kata "Samosir Negeri Indah Kepingan Surga", kok surga dikepingin. Surga itu adalah milik dan kuasa Allah, tidak tepat dari segi iman walau dari segi sastra indah kedengaran, tetapi tidak sama dengan misalnya,  "Pulau Dewata", yang jauh berbeda. 

Di seberang sini, Jakarta, beredar informasi warna air di sekitar Gunung Pusuk Buhit yaitu dari Boho sampai Pangururan,  kuning kecoklat-coklatan.  Fenomena alam apa itu? 

Matinya ikan-ikan juga perlu dicermati, kita mencurigai alam,  jangan-jangan penyebabnya bersumber dari pakan, misalnya. Untuk itu perlu kerja keras dan  komprehensif dari pihak-pihak yang berkepentingan.
(Penulis adalah wartawan senior dan advokat)
  BeritaTerkait
  • Investor Asal Australia Lirik Danau Toba

    4 tahun lalu

    Gencarnya promosi dan rencana pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pengembangan kawasan Danau Toba menarik perhatian para investor. Informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengidentifikasi minat investasi dari Australia di

  • Zulkaidah Harahap dengan Opera Batak

    4 tahun lalu

    PelitaBatak.com : Hiburan pementasan yang menghiasi perjalanan sejarah bangso Batak, opera batak, kini nyaris tidak dipentaskan lagi. Masuknya media televisi dan jejaring sosial, mengalihkan perhatian warga Bangso Batak dan masyarakat modern pada umumnya

  • Pembangunan Danau Toba Tak Boleh Hilangkan Budaya Batak

    4 tahun lalu

    Geliat pembangunan di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, mulai terlihat sejak 2016. Kala itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 49/2016 tentang Badan Otorita Pengelola Danau Toba tertanggal 1 Juni

  • Rizal Ramli : "Bunuh Diri Saja Kalau Otorita Danau Toba Ngak Jadi"

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): "Bunuh diri saja kalau sampai Otorita Danau Toba ngga jadi,". Kalimat ini menjadi closing statement  Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya DR. Rizal R

  • Tobatak Festival Kembali akan Digelar di Open Stage Tuk Tuk Siadong

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Tobatak Festival adalah sebuah pagelaran konser musik yang melibatakan beberapa artis baik  dari Eropa maupun daerah dan akan mengutamakan musik/lagu Batak.  Pagelaran

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb