• Home
  • Opini
  • Pemuda Pancasila di Era Industri 4.0
KSP Makmur Mandiri
Jumat, 08 November 2019 09:30:00

Pemuda Pancasila di Era Industri 4.0

Oleh: Prof. Dr. Marihot Manullang (Ketua Dewan Pakar MPW PP Sumut)
BAGIKAN:
ist|pelitabatak
Prof. Dr. Marihot Manullang (Ketua Dewan Pakar MPW PP Sumut)
SUMPAH pemuda 91 tahun yang lalu merupakan sebuah peristiwa yang sangat historis dan juga heroik bagi bangsa ini. Melalui sumpah pemuda anak-anak muda kala itu dengans ebuah kebulatan tekad yang satu mengikrarkan bahwa Indonesia yang satu harus tegak. Mereka tidak peduli datang dengan latar belakang yang berbeda, tujuan mereka hanya satu, terwujudnya bangsa Indonesia yang satu, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Tekad itu pun membuahkan hasil, tepatnya 17 Agustus 1945 bangsa ini menjadi bangsa yang merdeka dan sebagai cikal bangsa indonesia sebagai "negara bangsa" (nation state) yang modern. Dalam konteks NKRI yang kekinian, bagaimana peran pemuda dalam membangun bangsa ini di tengah industri revolusi industri 4.0 saat ini? Apa yang harus dilakukan oleh pemuda di tengah abad yang serba inovatif dan kreatif saat ini?

Mengubah paradigma berpikir tentu sebuah keharusan, dan bukan sekedar tuntutan. Bagaimana bisa melakukan kontribusi kalau tidak di dukung oleh sumber daya manusia pemuda itu sendiri? Salah satu organisasi pemuda saat ini dengan jangkauan yang sangat luas, jaringan yang luas juga seperti Pemuda Pancasila yang lahir pada 28 Oktober 1959 juga harus melakukan peran yang sama. Seperti apa peran Pemuda Pancasila sehingga kehadirannya adalah kehadiran yang membawa manfaat, dampak, dan juga benefit bagi bangsa dan juga bagi masyarakat pada khususnya. Untuk itu, perlu sebuah revolusi berpikir yang mampu beradaptasi dengan tuntutan dan tantangan jaman seperti revolusi industri 4.0. apalagi menjelang musyawarah besar Pemuda pancasila yang ke 60 ini perlu sebuah revitalisasi peran yang lebih bermanfaat bagi bangsa ini.  

Sekedar mengingatkan kita labelisasi negatif terhadap OKP tidak bisa kita hindari lagi. Tetapi saat ini dalam konteks Pemuda Pancasila Sumatra Utara labelisasi itu sudah terus dihilangkan di bawah kepemimpinan KOdrat Shah. Bahkan dalam organisasi Pemuda Pancasila Sumatera Utara yang dikenal dengan MPW PP Sumut dalam struktur organisasi di kenal struktur Dewan Pakar sebagai sebuah "think tank" dalam merumuskan isu-isu terkini dalam perpsktif keilmiahan.

Harus kita akui memang,  OKP itu kata yang tidak bisa dimiringkan/diidentikkan dengan preman maupun organisasi preman. Jika mencermati pekembangan masyarakat yang ditopang dengan teknologi dunia maya, akhir-akhir ini tampaknya kata preman telah mengalami perubahan makna yang cukup signifikan, sehingga menciptakan apa yang disebut "pradoks global".Arah perkembangan para pekerja keras boleh dibilang telah mengikuti pola perkembangan linear modernisasi menuju kemajuan (progress).

Julukan pekerjaan rodi kini telah menggali bentuk-bentuk vitalitas kehidupan masa depan dengan cara bergabung kedalam suatu organisasi yang harus dikelola secara professional. Sebab pergeseran pola kemajuan semakin tidak terbendung. kala itu para preman tidk memiliki tujuan yang jelas, bersifat musimsn, tidak memilikinorma- norma, dantidak memiliki birokrasi. Ironisnys mereka sering dijadikan sebagai mangsa aparat mencari keuntungan sesaat.

Selanjutnya, bila dikaji Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) unsur-unsur di atas saat ini kini telah berubah bentuknya. OKP teleh memiliki Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, memiliki visi dan misi, Restra ( rencana Strategis),program kerja tahunan terutama menghadapi era global misalnya membuka cabang (ekspansi) ke daerah lain administrasi keanggotaan yang tertata dengan apik dan mantap. Bahkan memiliki rasa sosisl kebersamaan yang sangat tinggi baik sesama anggota, di luar anggota tanpa membedakan suksu dan agama maupun antar organisasi lainnya. Tegasnya, ciri-ciri Birokrasi yang dibadani legendaries Sosiolog Jerman Max Weber (1886-1920) telah dipenuhi OKP. Sehingga patut dipertegas apapun ceritanya sekali lagi OKP bukan preman dan tidk boleh dimiringkan dengan preman. Sehingga, axioma itu dapat segera dihilangkan.
   
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada preman yang mendapatkan legalitas, masuk kedalam OKP setelah mengikuti tahap seleksi yang objektif tanpa ada unsur KKN. Tetepi setelah yang bersangkutan anggota OKP kadang-kadang juga membedakan perilaku organisasi dengan perilaku individu. Misalnya, ada oknum-oknum OKP lupa diri melakukan aktivitas yang bertentangan dengan norma - norma organisasi, sehingga terjadi perbedaan persepsi antara segelintir pemuda, lalu pemuda itu membawa symbol organisasi untuk mendapatkan pengaruh melekukan preser group (tekanan) terhadap phak lain. Pada hal sesungguhnya aktivitas individu itu tidak berkaitan/berhubungan dengan organisasi itu. Sehingga persepsi masyarakat OKP-nya yang disalahkan bukan individu.
        
Sesungguhnya OKP tidak jauh beda dengan organisasi- organisasi lainnya, seperti organisasi pemerintahan maupun bisnis. Semua memiliki aturan yang jelas dan selalu terdapat oknum-oknum yang menyimpang dari norma yang disepakati. Seperti menggorogoti uang Negara dengan cara berdasi, sehingga birokrasi dijuliki korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang kadang kala lebih sadis dari preman. Jelasnya lagi, kita harus mampu membedakan mana kesalahan individu dengan kesalahan organisasi. Karena itu mana kala ada oknum-oknum OKP dan aparatur pemerintah mengabaikan peraturan dalam menghadapi kondisi lapangan sepatutnya masyarakat, baik pelaku bisnis maupun aparatur harus dapat membedakan antara oknum dengan OKP.

Disinilah letak paradigma berfikir OKP terutama menghadapi era revolusi industri 4.0. Artinya anggota OKP dalam menghadapi benturan dan aktivitas itu berhubungan dengan kepentingan OKP sudah pasti ada semangat korps (kebersamaan) di organisasi manapun hal ini lazim terjadi dengan cara memberdayakan segala potensi yang ada dan keputusan yang diambil umumnya bersifat global demi harkat dan martabat organisasi. Sebaliknya, jika ada oknum- oknum OKP berbenturan di lapangan demi kepentingan pribadi tentu harus berfikir dengan paradigma kontekstual (tergantung pada situasinya) dengan profesionalisme yang tinggi.
    
Boudon dalam bukunya Teories of social (1991) sikap bertindak lokal dan berpikir global perlu dilakukan "bagaimana secara piawai mengelola aktivitas local (individu), menuju bangun abad aktivitas organisasi adihulung yang menempatkan modernisasi organuisasi". Mencermati statement futurist itu, bagaimana paradigma OKP di era Globalisasi bertindak dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian (uncertainty) dan bergejolak (turbulent).

Ada dua variabel yang perlu dipahami dan itu bukan suatu utopi yang tak tercapai, tetapi bukan pula hal yang mudah diraih. Karena menilai aktivitas pemuda ditingkat local adalah yang paling sulit di nilai, diatasi dan merupakan tanggungjawab kita semua. Kesulitan ini tercermin dari sulitnya mendapat lapangan kerja. Banyak pemuda yang putus sekolah dan sarjana para penganggur yang tinggal di kota, tetapi enggan menjadi supir, tukang beca, tukang batu atau pekerja lepas lainnya. Pada hal secara pribadi dia tidak menginginkan menjadi laki-laki bebas (freeman).

Karena itu setiap insane perlu melakukan brainstorming atau curah piker mencari paradigma agar mampu menyelaraskan antara pola pikir, pola sikap dan pola tindak dalam menghadapi Globalisasi. Sehingga OKP kita diseluruh tanah air dapat beradaptasi dengan melihat konsep holistiknya. Akhirnya kita melihat preman bukan suatu konsep yang menakutkan yang sifatnya otonom. Akan tetapi harus dipikirkan secara interdependensi dan mengawinkan konsep-konsep lainnya. Misalnya memberikan pelatihan dengan muatan - muatan materi kewirausahaan serta mengadopsi Era revolusi industri 4.0 yang mendengungkan budaya mekanisme pasar (market oriented).

Sebab, jika Era itu nantinya bergema profesionalisme OKP kita akn semakin dituntut menghadapi tantangan itu, bahkan harus dapat mengubahnya menjadi peluang yang pada gilirannya OKP kita akhirnya dapat menjadi soko guru perekonomian nasional, dan mampu memberdayakan (empowering) perekonomian secara nasional dan bukan hanya tukang parkir, jaga malam, bongkar muat dan sebagainya. Sebab mereka adalah saudara-saudara kita yang mamiliki peluang yang sama di negeri ini.

Kita harapkan  melalui musyawarah besar Pemuda Pancasila yang ke 60 ini peran sentral Pemuda Pancasila sebagai role model organisasi kepemudaan semakin nyata. Harapan kita kedepan, Pemuda Pancasila bisa memainkan perannya sebagai mitra strategis pemerintah yang kritis, bersimbiosis dengan masyarakat dalam memajukan bangsa, mampu jadi pelaku ekonomi kerakyatan, sebagai wadah diskusi yang membangun, mendorong budaya literasi, dan peran yang sifatnya mengkonstruksi pada semua aspek kehidupan bangsa. Dengan demikian, Pemuda Pancasila akan punya manfaat dan benefit yang luar biasa pada masyarakat kita.

Pemuda Pancasila sebagai sebuah wadah kepemudaan saat ini harus mampu merefleksikan bagaimana spirit para pemuda pada 28 Oktober 1928 melalui sebuah karya yang sangat besar bagi bangsa ini sebagai cikal bakal munculnya bangsa Indonesia. Kita harapkan melalui  perayaan Pemuda Pancasila yang ke 60 di tengah usia Sumpah Pemuda yang ke 61 menjadi tonggak sejarah baru bagi Pemuda Pancasila sebagai sebuah organisasi modern yang punya visi kerakyatan, visi kebangsaan, dan mampu menjaga Ideologi Pancasila sebagai harga mati demi kejayaan bangsa yang kita cintai ini. (*)

Penulis adalah: Guru Besar Manajemen dan Kepemimpinan UPMI Medan/ Ketua Dewan Pakar Pemuda Pancasila

  BeritaTerkait
  • Pengembangan Kepulauan Nias Dan Pembangunan Kawasan Strategis di Indonesia

    2 tahun lalu

    Oleh : Firman Jaya Daeli Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Indonesia Raya dengan ideologi Pancasila, yang dapat diletakkan dan dipetakan dalam beberapa pertimbangan. Indonesia R

  • Raih Rekor Asia, Albert Masli Dapat Pujian Dari Gubernur Sumut

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi bangga atas prestasi Albert Masli, peraih Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai motivator termuda pada 12 Mei 2016, kembali meng

  • Pertobatan Tanpa Pamrih

    11 bulan lalu

    PERISTIWA politik yang sungguh menarik di tahun politik saat ini adalah perilaku seorang tokoh nasional yang menyatakan dirinya bertobat dan menyesali perbuatannya yang tidak baik langsung mengaku sal

  • Kodrat Shah Inisiasi Dengan Arif dan Bijak Pemilihan Ketua PP Deli Serdang

    3 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Dalam rangka mengedepankan dialog, musyawarah mufakat, dan membangun kebersamaan dalam tubuh Pemuda Pancasila sebagai rumah kebangsaan bersama atas dasar ideologi Pancasila, Kodra

  • Dewan Pakar MPW PP Sumut Siap Terjemahkan Visi Kodrat Shah

    satu minggu lalu

    Medan (Pelita Batak):Sebagai seorang tokoh pemuda dan juga pebisnis yangs anagt visioner, kami Dewan pakar Majelis Pemuda Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila siap menerjemahkan visi dan misi Ketua MPW PP S

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb