KSP Makmur Mandiri
Rabu, 22 Maret 2017 08:23:00

Pargadongan dan Parhunikan

Oleh: Gurgur Manurung
BAGIKAN:
Ist
Gurgur Manurung
Hurippu do nian da parhunikan sikkap ni pargadongan hasian. Sai nirippu do parsaulian upa ni halojaon. ki amang, hape suharna do naro, ima hape jambarhu. 
 
Lagu ini diciptakan Jhonny S Manurung dan dipopulerkan oleh Jhonny S Manurung dan Hani Sihotang.
 
Jika kita renungkan bait lagu ini,  apa makna lagu sesungguhnya?.  Lagu ini mengisahkan seorang anak yang diberangkatkan sekolah  oleh orang tua ke kota dari desa. Tetapi, anak itu  tidak serius sekolah.  Anak itu bermalas-malasan sekolah, padahal dibiayai orang tua yang bersusah payah mencari uang untuk biaya sekolah. Kalau demikian penafsiran lagu ini tidak ada masalah. Tetapi jika ditafsirkan lebih dalam ada masalah yang cukup besar. 
 
Jika kita perhatikan kalimat demi kalimat dari lagu itu muncul pertanyaan apakah hunik (kunyit) lebih hebat dari ubi?. 
 
Jika ditinjau dari  fungsi  ubi jauh lebih dibutuhkan manusia. Ubi bisa berfungsi untuk karbohidrat manusia. Ubi sangat sentral untuk kebutuhan manusia. Biasanya, ubi  dimakan petani kapan saj dan dimana saja. Ubi memiliki energi yang cukup baik. Ubi juga bisa digunakan untuk makanan ternak. Ternak apa saja. Kerbau, lembu, kambing,  bebek, entok, ayam, apalagi anjing lahap makan ubi. Ubi jika dicampur dengan sisa-sisa ikan asin maka anjing itu lahap untuk memakannya. Tidak percaya, cobalah. Ubi sangat baik untuk makanan ikan. Makanan tambahan bagi ikan-ikan di kolam sangat cocok. Ikan Mas misalnya, sampai busuk ubi itu dalam beberapa hari, masih bisa dimakan ikan.  
 
Ubi juga bisa dijadikan bahan baku oleh-oleh seperti keripik, tape dan berbagai variasi dibuat untuk oleh-oleh. Ubi bisa dijadikan tapioka yang kelak bisa diolah untuk berbagai macam fungsi bagi kehidupan manusia.  Di restoran Thailand di Jakarta ketika saya pacaran sekira 11 tahun  yang lalu kami menikmatinya. Saya agak geli juga makan ubi rebus di restoran Thailand. Bayarnya cukup mahal.
 
Intinya, manfaat ubi itu sangat luar biasa bagi kehidupan. Ubi (gadong)  itu luar biasa. 
 
Lalu, mengapa kunyit (hunik) seolah lebih hebat dalam lagu Jhonny S Manurung?.  Bukankah pencipta lagu itu pinagodang ni gadong?.  Saya coba berempati dengan makna lagu itu.  Saya menafsirkannya, pencipta lagu membayangkan bahwa kunyit haraganya lebih mahal kalau dijual dalam ukuran berat (kg).  Satu kg kunyit mungkin lebih mahal  dengan 1 kg ubi ketika itu di onan Porsea tempat pencipta lagu. Jika tafsiran saya benar, maka bisa kita maklumi perasaan penulis lagu ketika itu.
 
Lalu, pesan apa yang hendak saya sampaikan  dalam tulisan ini?
 
Saya teringat akan kehadiran Badan Otorita Pengelolaan Pariwisata  Danau Toba. Bagaimana dampak lembaga yang memiliki kewenangan otoritatif dan koordinatif ini?.  Saya kawatir, jika kehadiran lembaga baru ini  dimaknai hanya dari uang saja. Sama seperti memaknai kunyit dan gadong. Menang hanya ditinjau dari angan-angan jumlah uang yang akan datang ke danau Toba. Kita mengabaikan fungsi ekosistem Danau Toba sebagai paru-paru dunia.  
 
Sungguh, sulit menjelaskan berbagai hal jika pikiran orang sudah berorientasi uang. Debat yang sehat sulit dilakukan. Demi pertumbuhan ekonomi (angka) semuanya akan dilakukan. Hutan Lindung akan dicari segala akal agar eksploitasi itu terlaksana seolah-olah konstitusional.  Saya mau tanya, konstitusionalkan mengelola hutan lindung untuk sebuah otorita?
 
Kini masih ada benteng terakhir, siapakah itu?.  Jawabnya rakyat.  Nampaknya, jangan paksakan seolah hunik lebih hebat dari gadong. Dua spesies ini sama nilainya. Hunik untuk  bumbu dan gadong untuk bahan makanan. Kalau guru besar hebat dari UNIKA St Tomas Medan   Posman Sibuea menyebutnya manggadong. Istilah yang kembali dipopulerkan. Beta manggadong  amang Sibuea. Ndang diajak ibana iba, beta marhunik he...he....
 
Jadi, jelaslah bahwa kita jangan terjebak dengan hitung-hitungan ekonomi. Semua kita jaga nilai-nilai yang sudah ada.  Pargadongan tetaplah pargadongan. Tidak perlu diganti parhunikan karena alasan harga. Lebih cocok gadong itu kita tingkatkan nilai jualnya. Nilai jual seperti bahan baku makanan ikan diramu dengan bahan lain maka kita mendapatkan hasil (uang) yang sangat banyak karena jual ikan atau jual ternak. (Gurgur Manurung, Pecinta Gadong
  BeritaTerkait
  komentar Pembaca
Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb