• Home
  • Opini
  • Mewujudkan Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 03 Desember 2016 04:33:00

Mewujudkan Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia

Oleh: SM Doloksaribu
BAGIKAN:
SM Doloksaribu
Jumlah Penduduk Bumi sepanjang Sejarah. Sejak 1000an Masehi, kurva kependudukan mengikuti bentuk J. Pertanyaan ppenting ke depan ialah ke mana kah mengarah bentuk kurva kependudukan selanjutnya, lanjut sesuai yang sekarang, atau umat manusia dapat mengend
1. Manusia modern sekarang ini, mengonsumsi energi 135 kali lebih banyak dari manusia primitif, 46 kali lebih banyak dari manusia pemburu, 19 kali lebih banyak dari dari petani sangat, sangat awal, 9 kali lebih dari petani sebelum revolusi industri dan 3 kali lebih banyak dari manusia sesudah revolusi industri. Catatan perbandingan rata-rata ini, perlu dikemukakan lagi untuk mengetahui siapa dan di mana posisi kita sebagai konsumer energi. Betapa perlu disadari bahwa kemodernana itu rupanya identik dengan keborosan dalam memanfaatkan energi. 
 
2. Dari aktivitas manusia dengan kebutuhan energi yang bertumbuh itu, hingga kini masih didominasi oleh penggunaan energi fosil, maka penggunaan energi menjadi eqivalen dengan pertumbuhan gas-gas rumah kaca di atmosfir yang kemudian berubah menjadi masalah Perubahan Iklim dengan berbagai dampak, termasuk mengancam seluruh kehidupan yang ada.
 
3. Multiplikasi konsumsi energi dan masalah turunannya yakni jumlah emisi gas-gas rumah kaca itu, berlangsung parallel dengan masalah besar lainnya yaitu pertumbuhan penduduk Bumi sejak abad pertengahan hingga revolusi industri. Dari jumlah penduduk kurang dari 300 jutaan dalam kurun waktu sangat lama, ribuan tahun, meledak  menjadi lebih dari 7 milyar jiwa sekarang ini. Konsumsi energi Dunia dengan demikian menjadi berlipat ganda dengan pertumbuhan kebutuhan yang paralel dengan pertumbuhan eksponesial penduduk. 
 
4. Atmosfir Bumi dengan demikian seperti demam, kepanasan karena gas-gas rumah kaca produk peradaban dalam beberapa abad terakhir itu, telah memerangkap sebagian besar energi Surya yang masuk ke Atmosfir Bumi sepanjang waktu, siang malam sesuai luas permukaan, selalu separuh bola yang dihadapkan Bumi ke arah Matahari. Pemanasan global yang memicu Perubahan Iklim menjadi masalah bersama umat manusia sekarang ini, terutama sejak UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change)dan stdi-studi yang mendukungnya  disepakati menjadi acuan bersama menghindari pemanasan global yang lebih parah, Juni 1992. 
 
5. Beberapa hari yang lalu baru berakhir Konferensi Para Pihak yang ke-22 di Marrakech, Maroko. Konferensi seperti itu berlangsung setiap tahun untuk mengukur kemajuan program bersama dan sendiri-sendiri para pihak berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang ada. Kesepakatan Paris 2015 menjadi acuan terbaru melanjutkan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya dengan kesadaran baru terutama Negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk proaktif memberi target penurunan emisi gas-gas rumah kacanya, walau sesungguhnya sebelumnya tidak wajib.
 
6. Ke depan Dunia dan kita sebagai bagian dari para pihak itu masih akan melakukan berbagai upaya, untuk menghindari kenaikan suhu rata-rata atmosfir kurang dari 2oC. Jika pola konsumsi energi masih seperti sekarang  terutama penggunaan energi fosil maka tujuan mencapai pemanasan  kurang dari 2oC, tidak akan tercapai di tahun 2020. Untuk tujuan mencapai target kenaikan suhu kurang dari 2oC itu Indonesia sudah menyatakan komitmen dan strategi pencapaian dengan  bagaimana membangun dengan karbon rendah.  
 
7. Kontribusi sadar, berdasarkan kemauan sendiri Indonesia dalam “Intended Nationally Determined Contribution of Republic of Indonesia”. Program ambisius ini, mau tidak mau, harus dilaksanakan secara komprehensif mulai dari kebijakan, pelaksanaan Pembangunan rendah karbon. Dalam rangka ini, terutama untuk tiga hal bahkan sudah dimulai kajian terkait Air, Energi, dan Pangan., “Nexus: Water, Energy and Food”. 
 
8. Instrumen Tujuan Pembangunan Terlanjutkan, SDGs dengan 17 tujuan dan 169 target, walau masih sangat awal akan tetapi masa berlaku dari Program itu adalah 2030. Seperti kita ketahui sebelumnya ada MDGs dengan cakupan yang lebih sedikit sudah berakhir di 2015. Instrumen yang dimulai dari tahun 2000 itu kelihatannya tidak memberi dampak besar terhadap kebijakan Pembangunan kita, terutama terkait dengan kebijkan energi nasional kita. 
 
9. Tugas penting para ahli, praktisi energi dan Pemerintahan Republik untuk terus-menerus mengawal, mengintegrasikan Instrumen SDGs ke dalam kebijakan Pembangunan Nasional kita, termasuk kebijakan energi nasional.  Dari sumber energi yang kita gunakan selama ini untuk mencapai Target, menurunkan emisi 26% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan Internasional pada 2020. Kita serius sesuai kemauan dan kemampuan kita untuk Bumi tidak demam, kepanasan. 
 
10. Baru saja berlangsung Konferensi Para Pihak di Marrakech Maroko, tentang Perubahan Iklim Dunia, 7 – 16 November 2016. Konferensi Para Pihak ke 22 di Marrakech, Maroko, COP22 Marrakech, Marocco, kembali membahas tugas bersama dalam situasi dunia yang berubah sangat cepat.  Pemilu di Amerika Serikat dan Peperangan di berbagai tempat mengkhawatirkan para delegasi. Tetapi mereka harus tetap berjalan dengan optimism ke tahun—tahun yang akan datang. 
 
11. Kebijakan Pembangunan Nasional Rendah Karbon semestinya memayungi seluruh kebijakan sektoral termasuk Kebijakan Energi Nasional (KEN). Nuklir secara global (2008) menjadi penyumbang sumber energi paling kecil (2%) sesudah Minyak (34,6%), Batubara (28,4%), Gas Bumi (22,1%) dan Energi Terbarukan (12,9%). Fakta, lihat grafik DEN di bawah, dapat mempertajam prioritas kerja kita. Sambil juga melihat ke depan sumbeer emisi lain, seperti Kebakaran Hutan yang terjadi baik karena alamiah maupun karena kesalahan mausia serta kemungkinan emisi gunung berapi yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Sejauh mana kita dapat mewujudkan Pembangunan Rendah Karbon.  
 
12. Perubahan Iklim seperti dalam diskusi terbuka di salah satu Negara yang paling banyak mengonsumsi energi dalam Kampanye pemilhan Presidennya, Presiden Terplih menyebut Perubahan Iklim sebagai “hoax”, cerita bohong atau lelucon. Kearah mana kebijakan mereka yang dengan sertamerta akan memengaruhi Dunia dan bagaimana nasib dari Pembangunan Rendah Karbon dengan Instrumen SDGs.  
 
13. Indonesia sebaiknya tetap konsisten dengan target 2009nya, untuk tidak dibilang orang “hoax”. Untuk itu konsolidasi koordinasi  membuat upaya terpadu, menyeluruh adaptasi dan mitigasi Perubahan Iklim. Dalam waktu dekat harus ada Lembaga yang secara serius mengkasji masalah Air, Energi dan Pangan secara terkait terutama sebagai Negara Kepuluan dengan mempertimbangkan sungguh-sungguh. masalah dan pendekatan ekosistem Pulau.(SM Doloksaribu)
  BeritaTerkait
  • Ekonomi Syariah Hadir untuk Semua Lapisan Masyarakat

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi mengatakan, ekonomi syariah bukanlah semata untuk umat Islam saja, tapi untuk seluruh lapisan masyarakat."Ekonomi syariah dapat menjadi

  • Mengejutkan, Masyarakat telah Overdosis dalam Penggunaan Mobile Internet

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Setiap penambahan 10 persen pelanggan seluler di tanah air, meningkatkan secara positif GDP (gross domestic product atau produk domestik bruto) Indonesia sebesar 0,4 persen. Dem

  • Urgensi Partisipasi elemen Organisasi Sosial dan Politik dalam Demokrasi

    2 tahun lalu

    A. PendahuluanManusia hidup dengan membangun peradaban dunia agar ia mampu mempertahankan kehidupannya di muka Bumi ini. Cara mempertahankan manusia tersebut berbeda-beda tergantung tingkat pemahaman

  • Usai Ikat Kerjasama, Ephorus Berikan Kuliah Umum di Universitas Islam Negeri Banda Aceh

    tahun lalu

    Banda Aceh (Pelita Batak):Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar - Raniry Banda Aceh bertempat di Gedung Museum UIN Ar -

  • USAID Bangun Sistem Penyediaan Air Bersih di Sumut

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) HT Erry Nuradi menyambut baik penyediaan air bersih untuk masyarakat perkotaan yang dilakukan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Hal it diseb

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb