KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 04 Februari 2017 18:25:00

Menjelang Debat Pamungkas

Oleh : Sampe L. Purba
BAGIKAN:
Ist
Sampe L Purba
Dua putaran debat - Pilkada DKI telah berlangsung. Debat pertama - yang dimoderatori si cantik mungil cerdas ibu Ira Koesno, membuka tirai tabir ke khalayak secara langsung kemampuan ketiga pasangan calon (PasLon) menyampaikan gagasan kepada masyarakat pemilih yang beragam.
 
CaGub PasLon 1, anak muda yang cerdas, tampan dan modis kekinian menguasai panggung secara prima. Eye contact bagus, artikulasi jelas - walau ritme agak monoton, namun pas terukur memanfaatkan waktu. Keraguan sekelompok orang yang menyebut seolah dia masih hijau terpatahkan. CaWagubnya tidak banyak bicara, merupakan strategi yang pas. Bukankah yang perlu ditonjolkan adalah CaGub Sang Satria Piningit, yang baru muncul dengan tekad veni-vidi-vici.
 
Akan halnya CaGub PasLon 2, berbicara pede terukur, menguasai permasalahan dan memberi solusi yang realistis dan rasional. Hal ini mengkonfirmasi para pengagumnya bahwa dia adalah the right man on the right place. A man of action. Sayang porsi panggung untuk CaWaGubnya terlalu sedikit. Pada hal bukankah para non konstituennya yang perlu diyakinkan, bahwa CaWaGub inipun adalah OK punya, dan bukan sekedar pelengkap sang CaGub.
 
CaGub Paslon 3 merupakan master of stage. Berbicara memukau dengan pilihan kata bak pujangga. Gabungan sastra, pembangkit harapan dengan kesantunan terjaga. Sangat komunikatif. Sang CaWaGub berbicara hal-hal yang riel dan konkrit. Menunjukkan pasangan ini dapat serasi dan tidak berebut panggung.
 
To be fair… Debat putaran satu lebih merupakan show dan tidak terlalu persuasif merubah pilihan atau menarik non konstituen.
Debat putaran kedua, tampaknya memang dirancang dan ditujukan untuk merebut simpati non konstituen, sekaligus menjatuhkan reputasi kompetitor. Strategi dan taktik serang termasuk nabok nyilih tangan berjalan elegan dan kasat mata.
 
PasLon 1 sangat disiplin dan fokus pada tujuan. Bukan sekedar show. Sang CaGub sadar betul, tujuannya adalah menangguk dukungan dari mereka yg tidak puas atau terpinggirkan oleh kebijakan petahana. Gayanya yg muda dinamis dan senyum simpatik bisa meluluhkan para pemilih pemula. Adapun Cawagubnya, lagi lagi memberi panggung kepada sang CaGub, sambil tetap memelihara ikatan emosi dan tradisi dengan gerbong setia pemilih tradisionalnya.
 
PasLon 2 tampaknya sudah menyadari kekeliruannya. Kali ini sang CaWaGub banyak diberi peran. Sang CaWaGub menunjukkan kematangan debat dan kedewasaan berpolitik secara berkeadaban, serta tetap prima menguasai materi. Adapun sang CaGub petahana - seperti biasa - dapat menjelaskan secara gamblang, nalar dan realistis visi-misi-program dan action plannya. Terukur. Sayang terprovokasi dan masuk ke pancingan cawagub nr 1. Mencoba mengerdilkan kemampuan cawagub yang adalah mantan bawahannya jelas merupakan tindakan konyol. Selain itu juga tidak akan menarik simpati gerbong tradisional cawagub untuk berpindah padanya.
 
PasLon 3 pun tak kalah cerdas. Melakukan mapping secara tepat. Sang CaGub konsisten mengajak head-to-head CaGub Petahana. Dia tahu yang disasar adalah kelas menengah rasional konstituen CaGub petahana. Kemampuan retorikanya yang par excellence bahkan membuat seolah angka dan argumen apapun yang disebutnya, mutlak benar. Sementara sang CaWaGub secara cerdik menyoal aspek remeh temeh masyarakat cilik kaum terpinggirkan. 
Kelihatan kurang gagah dalam gagasan. Tapi itulah yang efektif. After all, untuk apa mengumbar gagasan besar, kalau tidak mampu menarik konstituen lawan ?. Terasa ada kesungkanan dan sedikit pasrah, bahwa PasLon ini dpt menggarap konstituen PasLon 1.
Debat Putaran Tiga Pamungkas segera on show. 
 
Semoga Para PasLon tidak gagal fokus. Ini bukan sekedar debat untuk menunjukkan kehebatan. Tetapi lebih penting adalah bagaimana merebut simpati non konstituen. Sekedar tips. Diam dan mengurangi bicara juga adalah bagian strstegi yang efektif, dan empatik. Menang tanpa ngasorake. Dengar dan ikuti petunjuk penasihat. Jangan merasa hebat jumawa. Some time even … silent is golden. Jakarta tokh tidak menjadi lebih baik hanya karena rangkaian indah kata, senyum merekah atau sindiran tajam nyelekit.
 
"Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak".Jakarta, Pebruari 2017 (Sampe L Purba)
  BeritaTerkait
  • Ketika DJAROT "Menjual" Pengalaman dan Track Record

    3 tahun lalu

    Oleh: Antoni Antra PardosiStrategi memojokkan Djarot Saiful Hidayat sebagai "kandidat import"  pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2018 belum kendor. Cap kurang menguasai teritorial

  • Meriahkan Hari Jadi Ke-427 Kota Medan Tahun 2017 di Lapangan Benteng

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Lebih dari 10.000 warga memenuhi Lapangan Benteng untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang digelar dalam rangka merayakan Hari Kadi ke-427 Kota Medan tahun 2017, Minggu (9/7). S

  • Paslon Irsan - Arwin Diserang Kampanye Hitam, Ini Klarifikasinya

    3 tahun lalu

    Padangsidimpuan (Pelita Batak) : Pasangan Calon Walikota / Wakil Walikota Padangsidimpuan Irsan Effendi Nasution - Arwin Siregar kembali di terpa kampanye hitam. Kali ini,  tiga  puluh hari

  • KAM BHINNEKA USU: Paslon yang Batalkan Debat, Calon Pemimpin yang Tukang Ingkar Janji

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Dibatalkannya Debat Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Periode 2018 - 2023 bersama mahasiswa yang dihelat BEM-SI (PEMA USU) menimbulkan penilaian yang negatif

  • Ini Dia Irjen Pol. Arman Depari yang Berpengalaman di Reserse

    5 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Sejumlah nama perwira tinggi kepolisian dikabarkan masuk dalam bursa calon Kabareskrim. Satu di antara yang disebut-sebut adalah Irjen Polisi Arman Depari. Setidak

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb