• Home
  • Opini
  • Datu nagadongon ! (Memaknai kias dan noktah)
KSP Makmur Mandiri
Minggu, 07 Maret 2021 10:06:00

Datu nagadongon ! (Memaknai kias dan noktah)

BAGIKAN:
Ist
Sampe L Purba
Oleh : Sampe Purba 

1. Datu - adalah atribut kehormatan yang disematkan kepada seseorang yang diakui keahlian, kepiawaian atau kehebatannya. Itu adalah profesi terhormat dengan  strata tersendiri di masyarakat zaman dulu. Ada yang ahli pengobatan, ahli menolak atau mendatangkan bala, meramal hari baik, tebakan lotere, ilmu kebal kanuragan, memperkuat wibawa kepemimpinan, pun hingga memelet wanita. Atribut disematkan sesuai dengan spesialisasi yang telah diakui kemustajabannya. 

Ada Datu Pangulpuk, Datu Pangabas, Datu Panusur, Datu Pamolgak dan sebagainya. Profesi yang disegani. Tidak perlu sertifikasi.

Gadong (ubi jalar) adalah makanan pokok yang terpaksa dikonsumsi untuk survive. Di beberapa daerah - di dataran tinggi miskin hara, dimana hasil panen padi tidak mencukupi, gadong adalah makanan pokok. Hingga pertengahan tahun 1970 an, di beberapa kecamatan di dataran tinggi Humbang misalnya, gadong adalah penopang utama konsumsi asupan makanan sehari-hari (karena terpaksa), 

Sekarang ini, seiring dengan kemajuan zaman, gadong sudah ditinggalkan. Ditanam hanya sekedar untuk makanan pokok hewan hewan peliharaan.

Kesaktian, wibawa dan sahala (marwah) seorang datu  diperoleh dari hasil berguru, berlatih atau warisan seperti kedinastian.   Kesaktian itu bisa juga hilang. Entah karena ada datu baru yang lebih sakti, atau ilmu keahliannya belum sampai ke persoalan yang diperhadapkan atau - konon - karena sang Datu melanggar pantangan sumber ilmunya. 

Misalnya, seorang datu yang dipanggil untuk mengobati, malah pasiennya mati. Atau datu yang murid muridnya kalah melulu bertarung di  arena Pilkada adalah pertanda mulai lunturnya kesaktian sang Datu. 
Dari tokoh terhormat, sebutan sang datu terjerembab menjadi "datu nagadongon", datu abal-abal, datu lanteung dan sejenisnya. 
 
Seseorang  - entah itu Pemimpin Organisasi, Pemilik Toko, Guru Huria, Ketua Partai dan sejenisnya, yang tidak becus dan amanah, akan dilabeli nagadongon.

Toke kerbau, yang ingkar janji melunasi hewan berbilang pekan, oleh si miskin peternak yang capek dan frustasi menagih  akan mengumpat sang juragan, sebagai Tokke horbo nagadongon !. Seorang Guru Huria, yang kehilangan ruas yang berpindah ke lain channel, karena kurang kreatif dalam pelayanan, tetapi menyalahkan jemaatnya sebagai tidak setia, plin-plan dan murtad,  layak disebut Parhangir nagadongon. Seorang Ketua organisasi Partai, yang  tidak mengakar,  didongkel, lalu memelas ke balik jubah  Chief Majelis Paniroi, sambil menuding ke sana kemari... inipun masuk kategori Ketua nagadongon. 

Tetapi gadong juga punya makna simbolis terhormat. Perhatikan ilustrasi berikut

2. Datu ! na gadongon
 (Artinya : Bapak Datuk, monggo disambi ubinya). Ini adalah bentuk ucapan terima kasih petani kepada sang Tabib, yang telah mengobati anaknya hingga sembuh. 
Sang petani miskin, tidak punya apa-apa, kecuali gadong itu.  Gadong, adalah makanan utama untuk menopang keseharian keluarganya. Sebagian dari gadong itu, dipersembahkan sebagai upa datu tanda terima kasihnya yang tulus. 

Di desa kami, tamu disambut dipersilahkan naik ke rumah, dengan ucapan... nakkok ma hamu amang, jolo manggadong ma hita, huhut minum aek sitio tio. (Silakan naik ke rumah, kita makan ubi dan minum air putih ala kadarnya).  Nah di sini, gadong berasosiasi sebagai simbol penghormatan dan keramah tamahan. Amelioratif.

Noktah dan penempatan tanda tanda baca, atau ekspresi serta intonasi bahasa tutur, dapat merubah arti dan maksud suatu kalimat. Guru nagadongon pada kedua contoh di atas, mengandung pengertian yang seratus delapan puluh derajat diametral berbeda. 

Masih ada sekitar tujuh pengertian lagi, yang dapat dikonstruksi dari frase "guru nagadongon". Berikut lanjutannya

3. Datuna, gadongon (= Dukunnya,  tidak becus). Misalnya mr X seorang datu yang diupah mrs Y, malah merusak kehormatannya. Maka orang akan bilang... alangkah apesnya nasib mrs Y ini., datuna, gadongon. 

4. Datu Naga, dongon. Artinya Datu Naga (gelar julukan panggilannya), terdiam bungkam. Seorang Datu biasanya adalah tukang tebar pesona. Termasuk dalam diamnya. Tetapi kali ini dia dongon. Lepe ! Dongon = terdiam

5.Datu Naga dong ! ON. Ada seorang Datu lainnya, juga  bernama Si Naga.  Orang salut kepadanya karena pencapaiannya dianggap melampaui rekan sejawatnya. Misalnya, Sang Datu yang sudah sepuh ini, tetiba menambah isteri baru usia dua puluhan, yang cantik jelita. Puteri Raja, dan penurut pula. Tidak banyak menuntut. Orang-orang berdecak kagum, dan tertanya tanya. Dia pakai ajian apa ya. Ini tentu karena kemampuan  dan pesona Datu ini, yang teruji dan tidak diragukan lagi. Masih ON dan perkasa, pusaka kelelakian itu !!! 

6 - 7,  silakan... rekan pemirsa melanjutkannya.


Jakarta, Maret 2021

Penulis, tinggal di Jakarta. Masih ON
  BeritaTerkait
  • Meski Hujan, HKBP Resort Nias Tetap Semangat Ibadah Raya Tahun Keluarga

    5 tahun lalu

    Gunungsitoli (Pelita Batak): Keluarga besar HKBP Resort Nias melaksanakan ibadah raya tahun keluarga di Lapangan Merdeka Kota Gunungsitoli, Minggu 29 Mei 2016. Saat prosesi, Pendeta Resor

  • Gunakan Sistem Proporsional Tertutup, Kuota Perempuan di Parlemen Terpenuhi?

    5 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Pemilihan legislatif ke depan diharapkan menggunakan sistem pemilu proporsianal tertutup. Mengapa? Agar peluang kaum perempuan duduk sebagai wakil rakyat semakin banyak.

  • Ini Ulasan Firman Jaya Daeli Pada Seminar Sekolah Lemdik-Sespimti Polri

    5 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam hal ini Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dari aspek sistem ketatanegaraan (Sistem Konstitusi UUD 1945 dan Sistem Legislasi/Tap MPR RI) pada hakekatnya mengandung dan men

  • Pulau Enggano Jadi Destinasi Wisata Perairan

    5 tahun lalu

    Sebagai salah satu Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) di Indonesia yang terletak di Samudera Hindia, Pulau Enggano memiliki keanekaragaman ekosistem, seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang la

  • Pendidikan yang Berbudaya Lokal

    4 tahun lalu

    Mengingat masa lalu untuk memetik sejumlah pelajaran kemudian menjadikannya bekal dalam upaya meningkatkan kualitas hidup merupakan tindakan bijak dari seseorang yang  menginginkan masa depan.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb