• Home
  • Opini
  • "Pax Melior Est Quam Iustissimum Bellum": Perdamaian Itu (Tetap) Lebih Baik Daripada Perang yang Paling Adil
KSP Makmur Mandiri
Senin, 14 November 2016 09:04:00

"Pax Melior Est Quam Iustissimum Bellum": Perdamaian Itu (Tetap) Lebih Baik Daripada Perang yang Paling Adil

Oleh: Weinata Sairin
BAGIKAN:
Ist
Weinata Sairin
Kekerasan telah menjadi bagian sah dan integral dari perjalanan hidup manusia sejak berabad-abad lamanya. Bahkan kekerasan itu dalam bentuknya yang paling genuine hadir berbarengan dengan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. Dalam Alkitab, kitab suci umat kistiani, diceritakan terjadinya tragedi pembunuhan Kain terhadap Habil adik kandungnya sendiri hanya karena soal sepele, ada rasa iri hati Kain terhadap Habil. 
 
Sejak peristiwa Kain dan Habil itu cerita-cerita kekerasan hadir dalam berbagai varian, dan diceritakan dalam Alkitab bagaimana peran tokoh masyarakat, tokoh agama untuk melawan sikap dan tindakan kekerasan itu.
 
Tindakan kekerasan yang dilakukan manusia ternyata tidak mengenal akhir. Bentuk bentuk kekerasan semakin modern seiring dengan makin modernnya zaman. Jika dizaman baheula masih menggunakan panah, pisau, parang, kayu, besi, batu tapi di masa kini digunakan bahan peledak termasuk bom.
 
Peristiwa paling anyar adalah peledakan bom 13 November pukul 10.30 di Gereja Oikoumene Samarinda ketika umat sedang melaksanakan Kebaktian Minggu. Kekerasan dengan peledakan bom yang secara sengaja diarahkan kepada umat beragama yang sedang melaksanakan ibadah kepada Tuhan adalah sebuah tindakan biadab yang dahulu biasa dilakukan oleh kaum barbar dan arkhais yang mencederai NKRI sebagai bangsa beragama dan ber-Pancasila.
 
Kekerasan terjadi di mana-mana; perkembangan IT, medsos, dunia maya ikut memicu maraknya kekerasan dalam kehidupan nyata. Bagaimana upaya kita bersama mengatasi kekerasan? Menurut Erich Fromm, kekerasan itu pada awalnya integral dengan hidup manusia. Pada saat manusia itu dilahirkan Sang Ibu yang melahirkan itu mengalami kekerasan. Sang Ibu merasakan kesakitan luar biasa, penderitaan yang amat sangat dan yang belum pernah ia alami.
 
Namun Erich Fromm juga menyatakan bahwa dalam proses waktu, melalui berbagai aktivitas pembelajaran, elemen- element kekerasan itu juga bisa tereduksi dengan menampilkan cinta kasih. Itulah sebabnya sesudah ia menulis buku Akar-akar Kekerasan maka Fromm juga menulis buku Semi Mencintai.
 
Agama-agama memberi imperatif yang jelas bagaimana manusia mesti mengedepankan perdamaian, cinta, kasih sayang dalam kehidupan mereka. Suasana kehidupan kita di negeri ini yang diwarnai oleh nafas kekerasan, jauh dari damai harus diakhiri. 
 
Ucapan pejabat, tokoh, aktivis, posting di medsos seharusnya menampilkan kesejukan, trust, apresiasi terhadap kemajemukan, penguatan tali silaturahim sehingga kondisi damai bisa terwujud dalam kehidupan kita. Berbagai kasus yang ada biar kita serahkan until diproses secara hukum sehingga kita sebagai warga masyarakat dapat fokus kepada tugas pokok kita masing-masing.
 
Pepatah kita mengingatkan bahwa perdamaian itu bagaimanapun adalah hal Yang sangat pending. Mari kita wujudkan perdamaian.
Selamat berjuang. God bless.(Weinata Sairin)
  BeritaTerkait
  • Indahnya Persaudaraan: Orang Kristen, Muslim, Yahudi, Bersatu di Kebun Kopi

    4 tahun lalu

    Uganda (Pelita Batak): Hubungan yang tadinya jauh dan berjarak antara orang Kristen, Islam dan Yahudi, ternyata dapat diakrabkan lewat usaha koperasi pemasaran kopi.     Daripada

  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

    2 tahun lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umatPara nabi dipanggil oleh Tuhan un

  • POROS PANCASILA DAN PERADABAN DUNIA MASA DEPAN: Menyongsong Pemilu Tahun 2019

    2 tahun lalu

    Oleh: Djalan SihombingBesok, Rabu (17/04/2019) Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum Presiden/Wakil Presiden; Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, DPRD Provinsi, da

  • Paradoks Kebangkitan Agama!

    5 bulan lalu

    Oleh Albertus PattyDiangkatnya kembali isu ancaman PKI, dan juga ancaman China, pada beberapa minggu terakhir ini seperti mengulang kembali perang dingin tahun 1960-an. Isu ini memunculkan paradoks! A

  • "Hancur Demi Kawan" Prinsip yang Hanya Dimiliki Orang Batak!

    4 tahun lalu

    BUDAYA Batak memang paling beda dari budaya-budaya lain yang ada di Indonesia bahkan dunia. Mulai dari adat istiadat, kekerabatan, bahasa, kesenian, kepercayaan, serta tidak kalah juga prinsip orang Batak itu sendiri.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb