KSP Makmur Mandiri
Senin, 12 April 2021 10:13:00

"Pajolo-jolohon Songon Monis"

Oleh : Djalan Sihombing,SH
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
Djalan Sihombing

ARTI "monis" (bahasa Batak Toba) adalah menir, pecahan beras yang sangat kecil atau sisa-sisa beras. "Sibola monis": seorang yang membelah monis,  demikian disebut orang kikir, orang pelit; monis-monis.

Ada 2 perkataan yang biasa menggunakan monis, yaitu "sigotil/sibola monis" dan "pajolo-jolohon songon monis". Mengenai si gotil monis sudah jelas diuraikan di atas.

Pajolo-jolohon songon monis adalah sifat seseorang yang selalu mendahului di depan (terjemahan bebas dari penulis). Ketika beras ditampi (dibersihkan dengan tampi-"anduri"), monis ini akan selalu ke depan dan akan jatuh bersama bekatul atau kulit padi. Akhirnya monis tersebut terbuang jatuh.

Di beberapa kegiatan,   bisa saja ada orang seperti monis. Pendapatnya selalu lebih duluan daripada pendapat orang lain. Padahal pendapat itu belum tentu sesuai dengan kompetensi maupun  kewenangannya.

Apa yang terjadi terhadap orang seperti itu? Biasanya pendapat orang seperti itu tidak disukai banyak orang, bahkan pendapatnya jatuh duluan sebelum diputuskan bersama. 

Dahulu kala di desa-desa di daerah Tapanuli, ada partungkoan ni huta. Di partungkoan inilah demokrasi yang paling tulen (murni). Tidak ada perwakilan  dalam demokrasi di partungkoan. Semua yang datang dapat memberi pendapat. Dan dari berbagai pendapat tersebut diambil keputusan bersama dan mengikat ke semua anggota.

Zaman dulu, biasanya sebelum rapat dimulai, peserta makan "pohul-pohul" dulu. Terbuat dari tepung  beras yang dikepal pada telapak tangan, kemudian dimakan bersama. Bentuk pohul-pohul ini, masih kelihatan bentuk kepalan tangan. Artinya, ada perbedaan pendapat dalam mengambil keputusan, tetapi keputusan bersama tersebut kuat dan dilaksanakan bersama walaupun masih kelihatan bentuk kepalan tersebut. 

Demokrasi Pancasila bersumber dari demokrasi yang digali dari berbagai suku-suku yang ada di Indonesia. Dari situlah demokrasi Pancasila muncul. Demokrasi Pancasila bukan berasal dari negara asing, tetapi tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara.

Sangat baik bila demokrasi selalu berdasarkan demokrasi yang sesungguhnya, bukan berdasarkan otoriter atau ditentukan seseorang atau kelompok kecil orang. 

Saling menghargai adalah budaya yang patut disyukuri dan diterapkan dalam organisasi. Dengan demikian, semua merasa memiliki dan merasa bertanggung jawab atas apa yang telah diputuskan bersama. Keputusan menjadi milik bersama. ***

  BeritaTerkait
  • Pajolo-jolohon Songon Monis

    tahun lalu

    Oleh Bachtiar SitanggangSelamat Natal, semoga Juru Selamat itu lahir di hati dan pikiran kita dan damai sejahtera-Nya menyertai hidup dan kehidupan agar kita melayani tidak untuk di layani apalagi men

  • Daompung Parpoda Na Tur " Haserepon "

    4 tahun lalu

    Di musim mudik nantoari sada, husiluhon do mandapothon sada tokoh. Natua-tua, naung marumur 84 taon.  Belakangan on dung dijalo nasida ulos matua nunga bakkol be  laho tu Jakarta/ Bandung

  • Partandang na Bitik

    4 tahun lalu

    Adong do sada boru ni Ama ni Panukkunan, margoar si Lastiar Christina Margareth. Biasa dijou si Lastri. Na burju do Si Lastiar on jala pargaul. Nang pe boru siampudan. Unduk marnatua tua. Uli rupan

  • Marsisulu

    4 tahun lalu

    Marsisulu - on ma sada hasomalan/ tradisi na jolo di luat nami. Tano ngali na margoar Lumban Silintong Doloksanggul. Nihaliangan do tataring,  gor ma soban dipatuba tuba, laho mangalo ngali ni

  • Nunga jumpang muse ARI PESTA i

    4 tahun lalu

    Na jolo - Tolu do ari besar na sangat berkesan di huta nami na merupakan people festivy and carnaval. Ima parjolo - ari kemerdekaan di bulan Ualu. Ulang taon do didok ari kemerdekaan 17 Agustus. Nd

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb