KSP Makmur Mandiri
Jumat, 06 November 2020 11:51:00

"Haminjon Jangan Dimusnahkan"

Oleh : Djalan Sihombing,SH
BAGIKAN:
Ist| pelita Batak
Penulis Advokat, Ketua Komisi Hukum DPP PIKI Periode 2015-2020, Sekjen Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) tinggal di Jakarta.
HAMINJON suan-suanan ni Debata, Debata do na manuan haminjon na di Humbahas, unang disegai jala unang dipamate (Tuhan yang menanam Kemenyan di Humbahas jangan dirusak dan jangan dimusnahkan), demikian permintaan Uskup Agung Medan Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, O.F.M. Cap. (Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Agung Medan periode 24 Mei 1976 hingga pensiun pada 12 Februari 2009) kepada Drs. Maddin Sihombing, MSi., dan Drs. Marganti Manullang ketika mohon doa mau maju menjadi pasangan calon Bupati/Wakil Bupati Humbahas tahun 2005. Bila terpilih nanti, mohon agar permintaan saya diterima dengan tulus. Karena Tuhan sendiri yang menciptakan haminjon itu. Bukan karena ditanam sendiri oleh manusia.

Wikipedia bahasa Indonesia menyebutkan bahwa haminjon (kemenyan) sering juga disebut Olibanum, adalah aroma wewangian berbentuk kristal yang digunakan dalam dupa dan parfum. Kemenyan termasuk ordo Ebenales, familia Styracaceae dan genus Styrax. Ada 7 (tujuh) jenis kemenyan yang menghasilkan getah tetapi hanya 4 jenis yang secara umum lebih dikenal dan bernilai ekonomis yaitu Kemenyan Sumatra (Styrax benzoin), kemenyan bulu (Styrax paralleloneurus), Kemenyan Toba (Styrax Sumatrana J.J.Sm) dan Kemenyan Siam (Styrax tokinensis). Kemenyan Siam ada di Thailand.

Kemenyan yang paling umum dan secara luas di sekitar Sumatra Utara adalah jenis kemenyan Toba dan kemenyan durame. Styrax Sumatrana J.Sm adalah jenis pohon kemenyan yang pada umumnya tumbuh di daerah kabupaten Tapanuli Raya (Tapanuli Utara dan pemekarannya) dan Tapanuli Tengah yang hasilnya dikenal dengan nama daerah “Haminjon” atau "Kemenyan Toba". 

Kemenyan tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi pada ketinggian 60 hingga 2100 meter di atas permukaan laut. Tanaman kemenyan tidak memerlukan persyaratan yang istimewa terhadap jenis tanah. Saat ini, berdasarkan penelitian terbaru menunjukkan bahwa populasi pohon kemenyan telah menurun, sebagian karena eksploitasi dan perubahan (pembukaan hutan). Pembukaan hutan kemenyan untuk pertanian merupakan ancaman  bagi petani kemenyan.

Berdasarkan sejarah, kemenyan telah diperdagangkan di Semenanjung Arab dan Afrika Utara selama lebih dari 5.000 tahun. Sebuah mural yang menggambarkan karung kemenyan diperdagangkan dari Tanah Punt menghiasi dinding kuil Mesir kuno Ratu Hatshepsut yang meninggal  sekitar tahun 1458 SM. 

Zaman dahulu kala, Barus (sejak kira-kira abad 5) sudah disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan Kamper (kapur barus).  Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. 

Di berbagai daerah nama kemenyan  berbeda yaitu Kemenjen dalam bahasa Pakpak Dairi, Keminjen dalam bahasa Karo dan Menyan dalam bahasa Jawa. Menurut catatan sejarah, salah satu pusat perdagangan kemenyan di Indonesia pada masa lampau adalah pantai Barus (Fansyur) Tapanuli Tengah, sebuah pelabuhan penting di pantai Barat pulau Sumatera pada waktu itu.

Bahkan Cina dan India sejak abad pertama telah membawa kapur Barus dan Kemenyan dari Tapanuli melalui Barus, dimana kota Barus pernah menjadi kota pelabuhan terkenal di dunia. Kegunaan kapur Barus dan kemenyan untuk pengawet Mummi para raja di Romawi dan Fira'un di Mesir. Pada waktu itu hingga beberapa abad kemudian, kemenyan dan kapur Barus asal Tapanuli ini tergolong barang mahal yang nilainya lebih tinggi dari emas.

Kemenyan adalah salah satu ukupan yang disucikan (HaKetoret) dijelaskan dalam Alkitab Ibrani yang digunakan dalam upacara Ketoret. Kemenyan bagi orang Yahudi, serta orang-orang Yunani dan Romawi, juga disebut Olibanum.

Kemenyan diberikan pada dupa altar khusus di saat Kemah Suci terletak di kuil Pertama dan Kedua di Yerusalem. Ketoret adalah komponen penting dari layanan Bait Allah di Yerusalem. Hal ini disebutkan dalam buku Alkitab Ibrani Keluaran 30:34, di mana ia bernama Levonah (Lebona dalam Alkitab bahasa Ibrani), yang berarti "putih" dalam bahasa Ibrani. Ada jenis kemenyan khusus yang "murni" yaitu lebhonah zakkah, disajikan dengan roti sajian.

Kemenyan banyak  juga digunakan di acara gereja Kristen termasuk Ortodoks Timur, Oriental Ortodoks dan Katolik. Kristen dan Islam memiliki kemenyaan untuk digunakan dengan cara dicampur dengan minyak untuk mengurapi bayi baru lahir, inisiasi, dan anggota memasuki fase baru kehidupan spiritual mereka. Di dalam Alkitab kata "kemenyan" sering digunakan. Misalnya, pada masa kelahiran Yesus, dalam Injil  Perjanjian Baru, yaitu salah satu dari tiga jenis hadiah "orang-orang Majus dari Timur" yang diberikan kepada anak bayi Yesus adalah kemenyan (Matius 2:11).

Daerah penghasil getah terbaik haminjon diproduksi di Somalia. Sedangkan di Sumatera Utara ada di 7 Kabupaten, terutama di Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan (Humbahas), Pakpak Barat, dan Toba Samosir.

Kemenyan (Stryrax sp) yang termasuk famili Styracaceae dari ordo Ebeneles diusahakan oleh rakyat Sumatra Utara di tujuh kabupaten, terutama juga dikembangkan di Dairi, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah meski tidak terlalu banyak. Sedangkan penghasil kemenyan terbesar masih di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbahas.

Ada 4 macam kualitas kemenyan di Tapanuli dengan pembagian sebagai berikut yaitu kualitas tingkat tinggi disebut Sidungkapi, kualitas tingkat menengah ada 2 yaitu Barbar dan Barbar kedua dan terkahir kualitas rendah yaitu disebut Tahir (Kikisan). 

Penggunaan kemenyan sudah berlangsung lama di Indonesia yang dipergunakan untuk bahan obat, terutama sebagai obat tradisional maupun industri rokok, batik dan upacara ritual. Pabrik rokok di pulau Jawa menggunakan kemenyan yang berasal dari Tapanuli. 

Getah kemenyan mempunyai nilai tinggi di pasaran. Sayangnya, harga tinggi itu tak sebanding dengan hasil yang diterima petani. Tata niaga getah kemenyan dikuasai tengkulak, hingga harga di petani pun rendah. Gambaran ini terlihat di Humbahas, salah satu daerah penghasil getah kemenyan.

Pada umumnya, sebagian besar masyarakat adat Batak sekitar hutan di Humbahas bertani kemenyan sekaligus untuk mempertahankan warisan leluhurnya secara turun-temurun, dan menjaga keragaman hayati, peninggalan leluhur yang tak ternilai harganya. Tetapi pada kenyataannya, petani kemenyan berhadapan juga dengan pemodal besar, yang menanami lahan dengan tanaman monokultur seperti eukaliptus, yang menghancurkan keanekaragaman hayati kawasan hutan.

Diharapkan masyarakat sekitar kawasan hutan betul-betul harus menjaga agar hutan tidak rusak. Bila kawasan hutan rusak, sama saja mengganggu kualitas getah kemenyan tersebut. Menjaga kelestarian hutan dan kemenyan akan meningkatkan produktivitas dan kualitas kemenyan itu sendiri. Dengan kualitas yang tinggi, tentu harga di pasaran juga akan tinggi. 

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara tahun 2019, luasan hutan kemenyan di Sumatera Utara pada tahun 2018 sekitar 23.068 hektar dengan produksi getah 8.332 ton. Di kabupaten Humbahas sendiri kemenyan tersebar di  Pollung (letak Food Estate yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo, 27/10/2020), Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, Tarabintang, Pakkat, dan Sijamapolang. Berdasarkan data BPS pada tahun 2017 luas kemenyan di Humbahas seluas 4.888,10 hektar, sedangkan pada tahun 2015 seluas 4.922 hektar. Berarti ada penurunan luasan dari tahun 2015 ke tahun 2017 sekitar 34 hektar.

Kembali ke permintaan Uskup Agung Medan MGR. Datubara di atas, Haminjon sebagai suan-suanan ni Debata jangan dirusak atau dieksploitasi untuk kepentingan lain. Perlu perlindungan hukum terhadap masyarakat adat petani kemenyan tetap dilestarikan, dan menghasilkan serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal ini juga perlu untuk kelestarian keberagaman hayati lingkungan hidup di sekitar hutan.

Sebaiknya pemerintah daerah mendorong agar masyarakat Humbahas mengusulkan/mengurus Sertifikat Indikasi Geografis (IG) Kemenyan. Masyarakat hukum adat perlu kepastian hukum atas kemenyan di Humbahas. Hak-hak masyarakat adat perlu ditingkatkan dan dilindungi sesuai ketentuan perundang-undangan. Dan ke depannya, Kemenyan ini perlu diusulkan menjadi Tanaman Warisan Dunia.

Penulis juga berharap agar pengembangan Food Estate tidak merusak atau memusnahkan tanaman endemik kemenyan yang ada di Humbahas khususnya dan Kawasan Danau Toba pada umumnya. *****
  BeritaTerkait
  • Budi Waseso Lantik Gubernur Sumut Sebagai Pembina Satgas P4GN Sumut

    4 tahun lalu

    Deliserdang (Pelita Batak) :Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Komjen Pol Budi Waseso (Buwas) menegaskan jangan ragu untuk melakukan tembak mati kepada bandar narkoba. Siapapun terlibat penyalahgunaan narkoba harus ditindak tegas.

  • Bupati Taput Jelaskan Penyebab Kematian Hewan Ternak di Pohan Tonga Ulah Binatang Buas, Bukan Mistis

    7 bulan lalu

    Taput (Pelita Batak):Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M.Si bersama Forkopimda Taput Wakil Bupati Taput Sarlandy Hutabarat, SH, Dandim 0210/TU Letkol Czi.Agus Widodo, Kapolres Taput AKBP Jonn

  • Mentan Optimis Sumut Kembali Lima Besar Produksi Padi

    5 tahun lalu

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut untuk mengejar target produksi pertanian padi, jagung dan kedelai (Pajale) di tahun 2016. Dengan demikian, Sumut dapat kembali menempati urutan lima besar nasional sebagai

  • Wapres Buka Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016

    5 tahun lalu

    Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan, perbedaan suku, adat istiadat dan agama justeru membuat Indonesia kuat. Perbedaan tersebut juga merupakan kekayaan khazanah bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain.

  • Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak

    5 tahun lalu

    Dalam membina keharmonisan suatu rumah tangga, perlu ada saling keterbukaan dalam sikap antara si suami dan istri, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari setiap pasangannya. Banyak yang mengatakan keluarga suku Batak terkenal dengan kesetia

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb