• Home
  • News
  • Usut Tuntas Tindakan kekerasan Terhadap Anak dan Dua Warga Lainnya yang Dilakukan Oleh Pihak PT TPL
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 17 September 2019 16:35:00

Kronologis Menurut Warga

Usut Tuntas Tindakan kekerasan Terhadap Anak dan Dua Warga Lainnya yang Dilakukan Oleh Pihak PT TPL

BAGIKAN:
ist|pelitabatak
Screenshoot halaman PelitaBatak.com
Medan (Pelita Batak):
Berkaitan dengan pemberitaan pelitabatak.com, yang diterbitkan Selasa (17/9/2019) dengan judul "Sejumlah Warga Sihaporas Terlibat Bentrok dengan Petugas PT TPL", redaksi memohon maaf jika dalam pemberitaan ada unsur yang tidak berimbang. Untuk itu, sebagaimana permintaan warga, berikut ini dimuat untuk informasi yang sesuai dengan di lapangan seperti disampaikan oleh warga melalui Pengurus Lamtoras Sihaporas yang melalui pesan elektronik yang dikirimkan [email protected] ;

Pada hari senin tanggal 16 september 2019 tepatnya pukul 08.15 Masyarakat Adat Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, melakukan penanaman benih jagung secara gotong royong di wilayah adat Sihaporas. Wilayah adat tersebut telah turun temurun dikuasai oleh leluhur mereka sampai ke generasi saat ini. Disaat masyarakat sedang beraktifitas menanam jagung, tiba-tiba pihak PT Toba Pulp Lestari (TPL) dikomandoi Humas TPL Sektor Aek Nauli (BS) menghampiri mereka dan melarang untuk menanam benih jagung. Kemudian merampas paksa cangkul serta berlanjut memukul warga dan mengenai Mario Ambarita (Balita usia 3 tahun) yang sedang digendong orangtuanya yang sedang mendapat pukulan. Oleh warga lain berusaha menyelamatkan anak yang sudah terkapar juga ayahnya akibat terkena pukulan. Oleh warga pun segera melarikan anak balita tersebut untuk mendapatkan pertolongan ke Peskesmas Sidamanik. Demikian juga dengan ayahnya dan seorang warga lainnya.

Karena tindakan represif dari pihak PT TPL yang sudah berulang terhadap warga. Oleh warga pun mengadukan tindakan Humas PT TPL tersebut ke Polisi Sektor (Polsek) Sidamanik. Tetapi oleh Polsek Sidamanik menyarankan untuk membuat pengaduan langsung ke Mapolres Simalungun.

Perlu diketahui bahwa sejak kehadiran PT Indorayon yang sekarang berganti nama menjadi PT TPL, di wilayah adat Sihaporas. Membawa petaka bagi warga. Mulai dari pencemaran melalui pestisida kimia untuk merawat eucalyptus kemudian merembes ke sumber air bersih yang digunakan sehari-hari. Perusakan tanaman pertanian warga juga hutan adat Sihaporas yang selama ini mereka lestarikan. Bahkan pada tahun 2003 tiga orang warga dikriminalisasi, sehingga dua warga atas nama Mangitua Ambarita dan Parulian Ambarita mendekap di penjara selama dua tahun atas tuduhan merusak dan menduduki hutan negara/konsesi PT TPL. Pada Oktober 2018 silam juga aktivitas PT. TPL telah mencemari sungai dan sumber minum masyarakat Sihaporas yang membuat masyarakat terancam untuk mengkomsumsi air bersih dan Ihan-Ihan Batak yang keberadaan kini langka banyak yang mati mengambang di Sepanjang Sungai yang ada di Sihaporas. Ihan Batak sendiri bagi masyarakat adat Sihaporas memiliki nilai filosofi yang tinggi dan juga dipergunakan untuk keperluaan Ritual Adat yang masih terus dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat adat Sihaporas secara turun temurun.Namun dalam perkembangan setelah beberapa kali masyarakat adat Sihaporas mengadukan hal ini kepada Pihak Kepolisian dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Simalungun namun tidak pernah direspon serius oleh instansi terkait.

Oleh sebab itu kami dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Tano Batak mendesak pihak Kepolisian untuk serius mengusut tindakan kekerasan yang dilakukan pihak TPL terhadap anak balita dan dua orang warga lainnya.

Bahwa sampai hari ini Masyarakat Adat Sihaporas yang tergabung dalam Lembaga Adat Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras) masih terus berjuang mempertahankan ruang hidupnya yang dititipkan leluhur Sihaporas Ompu Mamontang Laut Ambarita untuk kesejahteraan keturunannya (saat ini sudah 13 generasi) dan kelestarian wilayah adat yang didalamnya terdapat hutan adat, pemukiman,lahan pertanian, kolam ikan, tempat sakral bagi warga.

Kami mendesak pihak PT TPL untuk segera menghentikan aktifitasnya di wilayah adat Sihaporas, karena telah merampas ruang hidup warga, merusak hutan adat karena aktifitas perluasan areal kerja dan aktifitas perawatan tanamannya mencemari mata air, sungai.

Karena sudah berulangkali mengajukan ke pihak KLHK dan Pemkab. Simalungun  untuk segera mengeluarkan wilayah adat dari hutan negara/konsesi PT TPL. Oleh karena itu kami juga mendesak pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengeluarkan wilayah adat Sihaporas seluas 2049,86 ha dari klaim hutan negara/konsesi PT TPL. Demi keberlanjutan hidup Masyarakat Adat Sihaporas dan kelestarian wilayah adatnya.

Kronologis Penganiayaan Terhadak Balita Mario Ambarita dan Pegiat Adat Lamtoras Sihaporas Oleh Pihak Humas PT TPL dan Security, Senin (16/9/2019).

- Pukul 08.15 WIB
Puluhan orang warga Sihaporas dan masyarakat adat dari Lembaga Adat Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras), Nagori/Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,  tiba di lokasi, yakni Buttu Pangaturan, yang kami anggap masuk wilayah hutan/tanah adat Lamtoras Sihaporas.


- Pukul 08.25 WIB
Warga dan masyarakat adat Lamtoras Sihaporas menanam jagung di areal

- Pukul 11.30 WIB 
Pihak PT TPL dikomando Humas Sektor Aek Nauli, Saudara Bahara Sibuea tiba di lokasi kerja warga dan langsung melarang warga menanam jagung. Saudara Bahara Sibuea pun bertindak kasar, merampas alat kerja berupa cangkul.

Setelah perampasan alat kerja, berlanjut juga melakukan pemukulan terhadai warga, dan mengenai Mario Ambarita (Balita usia 3 tahun), ayahnya, dan beberapa masyarakat adat Lamtoras Sihaporas.

- Pukul 11.34 WIB
Melihat anak Mario Ambarita terkulai lemas di pelukan bapaknya, ibu-ibu masyarakat  adat Lamtoras histeris. Dalam suasana panik, spontas masyarakat adat Lamtoras Sihaporas melakukan pembelaan diri dan perlawanan 

- Pukul 11.45 WIB
Seluruh warga-masyarakat adat Lamtoras pulang untuk mengutamakan pertolongan pertama, membawa berobat anak Mario Ambarita dan beberapa masyarakat adat Lamtoras yang terluka.

Pengurus Lamtoras Sihaporas
Ompu Morris Ambarita (Mangitua Ambarita) Wakil Ketua Umum Lembaga Adat Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras), 081271215329

Daftar kontak:
Roganda Simanjuntak  (085261444399)
Ketua AMAN Tano Batak
Jonni Ambarita (085262863184)
Seketaris Lamtoras

(*)
  BeritaTerkait
  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  • Pembumian Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika serta Penguatan NKRI dan UUD 1945

    3 tahun lalu

    Indonesia Raya selalu berdiri kuat dan semakin bergerak kokoh dari dahulu, kini, dan seterusnya karena memiliki ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945, yang mengakui, melindungi, memfasilit

  • Peran Politik Warga dan Pelayan HKBP Tinjauan Perspektif Alkitabiah (3-Selesai)

    7 bulan lalu

    Oleh Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBP4. Masa Kerajaan (Saul hingga Yoyakhin).a. Seruan pertobatan para nabi sebelum pembuangan dan membisunya umatPara nabi dipanggil oleh Tuhan un

  • 15 Menit KIDUNG NATAL 2017 di Siborongborong Kembali Digelar, Jalan Ditutup dan Listrik Dipadamkan

    2 tahun lalu

    Siborongborong(Pelita Batak): "Pada saat Natal, Senin 25 Desember 2017 malam, di Siborongborong bakal kembali meriah dan khidmat merayakan Kelahiran Yesus Kristus dengan mengumandangkan 15 Menit Kidun

  • Bergotongroyong Melawan Terorisme Dan Perjuangan Merawat Kemanusiaan Dan Kebhinnekaan Indonesia Raya

    tahun lalu

    Oleh : Firman Jaya Daeli (mantan Pansus DPR-RI Mengenai UU Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme)Masyarakat dan bangsa Indonesia kembali Berkabung. Belasungkawa dan Berdukacita mendalam atas wafatnya

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb