• Home
  • News
  • Terjadi Lagi, Anak Hamil Tua di Garut Akibat Ulah Ayah Kandung
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 30 Januari 2020 14:46:00

Terjadi Lagi, Anak Hamil Tua di Garut Akibat Ulah Ayah Kandung

10 kasus kekerasan seksual terhadap anak, 6 kasus diantaranya dilakukan dengan bentuk Incest
BAGIKAN:
ist|pelitabatak
Arist Merdeka Sirait Ketua Umum dan DR. Imacullata Umiyati, MPsi Komisioner Komnas Perlindungan Anak bersama Bima perwakilan Komnas Anak Jawa Barat saat mewancarai pelaku.
Jakarta (Pelita Batak):
Kasus kejahatan seksual terhadap anak  dalam bentuk incest akhir-akhir ini marak terjadi di sekitar lingkungan sosial anak. Rumah tidak lagi tempat yang nyaman, ramah dan bersahabat bagi anak.

Banyak kabar, lingkungan sekolah pun saat ini tidak lagi bebas dari kekerasan seksual, perundungan (bullying) maupun kekeraaan secara fisik, psikis dan penelantaran, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak kepada sejumlah media di kantornya di Jakarta untuk menyikapi hasil Rapat Terbatas (RATAS) Menteri dan lembaga negara terkait awal Januari 2020 yang menyebutkan bahwa Indonesia saat ini masih berada dalam situasi darurat keketadan dimana kasus jejahatan seksual  terhadap anak masih mendominasi dari bentuk pelangaran hak anak lainnya.

Oleh karenanya Presiden RI dalam Ratas di Istana Negara meminta pemerintah dengan melibatkan peran serta masyarakat untuk mengatasinya.

Lebih jauh Arist menunjukka fakta  bahwa kekerasan seksual terhadap anak  dalam bentuk incest terus bergerak dan meningkat. Anak Indonesia saat ini berada pada lingkaran kejahatan seksual incest.

Di Mamuju, Sulawesi Barat, ayah bersama anak kandungnya, paman dan sepupu korban berbulan-bulan melampias nafsu bejatnya kepada putri dan kepada adik kandungnya hingga hamil 6 bulan.

Sementara itu di salah satu desa di Sukabumi,Jawa Barat  seorang ibu melakukan hibungan seksual sedarah terhadap 2 anak kandungnya masing-masing anak pertama berusia 16 tahun dan anak kedua 13 tahun..

Didesa Kecamatan Silaen, Toba Samosir seorang ayah bersama paman korban merudapaksa putri kandungnya dan kepobakannya hingga melahirkan.

Demikian juga di satu desa di Sianipar Balige Tobasa, seorang ayah tega melakukan kekerasan seksual kepada dua putrinya yang nasih duduk di kelas 1 dan kelas 3 di salah satu SMA Negeri di Balige Kabupaten Tobasa.

Korban oleh orangtua kandungya sudah dianggap sebagai istrinya. Sehingga ketika dilakukan incest, pelaku tidak merasa terbeban.

Demikian juga di Kabupaten Garut, Bogor dan Depok, beberapa minggu lalu, 4 orang pelaku berstatus masing-masing sebagai orangtua kandung korban sudah ditangkap dan di tahan oleh polisi juga melakukan incest dan bahkan menawarkan kepada pihak lain dengan menarik bayaran.
 
Masih belum lupa dari ingatan kita seorang Ayah di Rawamangun, Jakarta melakukan kejahatan seksual dengan cara incest terhadap tiga putrinya hingga hamil masing -masing korban anak pertama hamil 6 bulan,  anak kedua 4 bulan dan anak ketiga dua bulan.

Di desa Horsik, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa juga telah terjadi kejahatan seksual yang dilakukan 4 orang dengan cara bergantian (gengRAPE) mengakibatkan korban hamil 6 bulan, demikian juga yang dialami seorang remaja putri usia 14 tahun di Lampung Tengah menanggung beban dan derita sebagai  korban incest yang dilakukan ayah dan dua putra kandungnya terhadap putrinya.

Demikian juga kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Mura. Seorang ayah setubuhi anak kandungnya sendiri hingga hamil, dan berakhir anak kandung nya itu  meninggal karena melahirkan bayinya.

Bayinya hidup anak sekaligus cucunya masih berumur 7 hari dianiaya dan disiksa hingga tewas. Alasan bayi berusia 7 hari itu cengeng, dan terus menangid, akhirnya dihabisi ROB (43) ternyata bukan hanya sekedar anaknya sendiri bocah tersebut ternyata juga adalah cucunya.

Bagaimana ini bisa terjadi?..
Kapolres Mura Raya AKBP. Dharmeshawara Hadi Kuncoro melalui Kasat Reskrim AKP Ronny M. Nababan mengatakan,  bocah tersebut selain anak,  juga cucu pelaku sendiri.

Sebab sang bocah lahir dari hasil persetubuhannya nya dengan anak kandungnya sendiri.

Karena itu polisi menyebutkan korban meregang nyawa di tangan Bapak sekaligus kakeknya sendiri.

"Pelaku sudah mengakui perbuatannya.  Pelaku melakukan penganiayaan terhadap bayi laki-lakinya sekaligus cucunya itu sebagai bentuk pelampiasan kemarahan. Korban yang belum diberi nama tersebut dan masih berumur 7 hari dari hasil persetubuhan dengan anak pertamanya", ungkap Roni.

Ibu kandung korban sebut Romi meninggal saat melahirkan sang bayi,  sedangkan pelaku sudah lama bercerai dengan istrinya.

Dari hasil pemeriksaan pelaku mengaku,  kesal karena korban terus menangis.  Selain itu pelaku juga dalam keadaan emosi memukul dan menginjak hingga menyebabkan bayi malang itu meninggal dunia.

Kini pelaku dan barang bukti sudah diamankan di Mapolres Mura. Atas perbuatannya ROB terancam hukuman 20 tahun penjara.

Oleh sebab itu untuk kejahatan seksual incest yang banyak dilakukan orang terdekat dan seisi rumah baik yang dilakukan oleh ayah kandung, tiri, bilogis non biologis, abang atau kakak, paman dan sepupu, dan demi keadilan dan kepentingan terbaik anak, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang diberikan tugas dan fungsi untuk mengurusi perlindungan anak di Indonesia, mendorong aparatus penegak hukum baik Penyidik Polri, Jaksa dan Hakim intuk sevara tegas menerapkan dan menjerat para predator kejahatan seksual itu dengan UU RI 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu Nomor : 01 Tahun 2016 mengenai perubahan kedua atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang  perlindungan anak, junto  pasal 81 dan 82 Undang-undang 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dan mengingat korban merupakan anak kandung, maka ancaman hukuman penjara bagi pelsku incest dapat ditambahkan 1/3 dari pidana pokoknya yang semula pelaku  dapat dihukum minimal 5 tahun dinaikkan menjadi 10 tahun dan maksimak 20 tahun pidana penjara, bahkan predator dan monster seks anak dapat diancam hukuman seumur hidup dan atau dapat ditambakan hukumannya berupa Kastrasi atau kebiri dengan suktik kimia", demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas perlindungan anak kepada sejumlah media yang hadir di studio Komnas anak TV Kamis 30 Januari 2020 untuk merespon maraknya kasus-kasus kejahatan seksual dalam bentuk incest, sodomi perbuatan cabul, eksploitasi seksual anak untuk tujuan komersial,  prostitusi online anak dan kasus-kasus kejahatan seksual dalam bentuk lainnya, perdagangan dan penjualan bayi yang sedang marak terjadi di Indonesia.

Mengingat meningkatnya kasus kejahatan seksual yang dilakukan oleh orang-orang terdekat anak dalam bentuk kekerasan seksual incest dan kasus-kasus kejahatan seksual dalam bentuk lainnya seperti prostitusi online anak eksploitasi anak untuk tujuan seksual komersial,  pencabulan dan kejahatan kejahatan seksual bentuk lainnya sangat diperlukan langkah strategis untuk memutus mata rantai kejahatan seksual terhadap anak yang saat ini sedang menjadi fenomena yang sangat menakutkan masyatakat. Dimana-mana ada kejahatan seksual yang justru dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya memberikan perlindungan, menjaga dan menyelamatkan anak-anak dari kejahatan ini.

Situasi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa melakukan langkah-langkah yang sungguh-sungguh menjadi langkah yang strategis, berkesinambungan dan terukur.

Oleh sebab itu, pemerintah tidak bisa tinggal diam terhadap fenomena ini karena anak-anak saat ini berada dalam lingkaran kejahatan seksual yang justru dilakukan orang-orang yang harus melindungi anak-anak.

Namun fakta menunjukkan, sejumlah kasus dan sejumlah masalah yang dialami anak-anak di Indonesia terabaikan masih terabaikan penyelesaian nya.

Oleh sebab itu dalam menyambut 100 hari pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden mengajak semua komponen masyarakat secara khusus terhadap Lembaga Perlindungan Anak (LPA) se Jagat Raya untuk bahu-membahu memutus mata rantai kekerasan terhadap anak, demikian Arist Merdeka Sirait mengakhiri pernyataan yang melalui rilisya yang dibagikan kepada sejumlah media di kantornya di sekretariat Komnas Perlindungan Anak Indonesia Kamis 30/01.(*)
  BeritaTerkait
  • Wali Kota Jenguk Bayi Malang Ditinggal Orang Tuanya di RSUD dr Pirngadi

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi menjenguk bayi berusia dua bulan yang diduga dibuang orang tuanya di RSUD dr Pirngadi Medan, Selasa (6/10/2016). Bayi malang berjenis kelamin laki-laki ini ditemukan oleh salah seorang pe

  • Aniaya Putri Kandung, Pria Warga Porsea Ini Terancam 15 Tahun Penjara

    12 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS PA) Indonesia, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa penganiayaan yang dilakukan HS warga  Desa Patane V Kecamatan Pors

  • Ayah Jadi Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Darah Dagingnya di Tasikmalaya

    12 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Sungguh dunia sudah terbalik bukannya melindungi anak justru orang tua MM (52) warga Cicariang Tasikmalaya Kota tega menyetubuhi anak kandungnya yang masih di bawah umur hingga

  • Biadab! Seisi Rumah Rudapaksa Anak di Mamasa Sulbar

    12 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Seorang siswi Sekolah Menengah Pertama, (SMP) inisial ll di Kabupaten Mamasa,  Sulawesi Barat (Sulbar) menjadi korban rudapaksa oleh seisi rumah hingga korban hamil 6 bulan

  • Ini isi Lengkap Nota Keberatan Ahok di Pengadilan

    4 tahun lalu

    Jakarta Pelita Batak): Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan, Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati, Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati, &

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb