• Home
  • News
  • Pembangunan Pariwisata Danau Toba Dengan Spiritualitas
KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 01 Februari 2020 09:50:00

Pembangunan Pariwisata Danau Toba Dengan Spiritualitas

BAGIKAN:
Adol Frian Rumaijuk | pelitabatak
Medan (Pelita Batak):
Upaya pembangunan pariwisata kawasan Danau Toba yang dilakukan pemerintah sudah melangkah jauh dari sebelumnya. Sayangnya, pembangunan yang menjelma dan didasari spiritualitas akan pelestarian lingkungan belum sepenuhnya diutamakan. Keterbukaan pemerintah dalam pengambilan kebijakan pembangunan belum mendasar, masih dilatarbelakangi 'kepentingan'.

Musisi Martogi Sitohang mengatakan bahwa spiritualitas disini, bukan maksudnya untuk membuka aliran kepercayaan baru atau agama baru. Namun spiritualitas untuk pemahaman bersama akan kepentingan Danau Toba untuk kehidupan yang berkelanjutan.

Berbagai pendapat dalam diskusi bertajuk "Membangun Danau Toba dari Berbagai Perspektif" di D'Caldera Coffee Jl SM Raja, Jumat (31/1/2020), mengemuka yang membuktikan keinginan seluruh peserta agar pembangunan kawasan Danau Toba berhasil dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Selain Martogi Sitohang juga hadir sebagai pembicara Ketua Prodi Pendidikan Antropologi, Dr. Rosramadhana, M.Si., dan Sutrisno Pangaribuan,ST mantan Ketua Komisi B DPRD Sumut. Diskusi berlangsung dipandu moderator Rico Nainggolan.

Dalam diskusi terbuka tersebut, Sutrisno mengatakan hingga saat ini belum ada program konkrit yang dilakukan pemerintah untuk sektor sosial masyarakat. Bila mana pembangunan pariwisata membawa perubahan kehidupan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat pariwisata. Namun, Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini lebih menyoroti upaya perlindungan lingkungan. Kualitas air dan alam hutan sekitar yang menjadi sumber air danau Toba.

"Ke depan, perang bukan lagi angkat senjata. Namun perang sumber daya air yaitu ketersediaan air bersih. Danau Toba memiliki cadangan air tawar yang besar yang menarik perhatian dunia ke depan," kata pria yang akhir-akhir ini mencalonkan diri sebagai bakal calon Wali Kota Medan. Krisis energi, pangan dan air bersih akan menjadi tantangan ke depan.

Melihat realita saat ini di Danau Toba, air tercemar akibat limbah kegiatan masyarakat. Baik industri skala besar, industri rumah tangga, perhotelan bahkan kegiatan agraria di sekitar danau. 

"Kalau orang di danau Toba juga tidak punya keyakinan untuk bisa meminum langsung air danau Toba, tidak ada lagi bedanya dengan yang lain. Kita harus sepakat, kembalikan airnya terlebih dahulu. Selamatkan seluruh kawasan hutan yang menjadi sumber air danau Toba," ujarnya. 

Menurutnya, semua potensi masyarakat, perusahaan yang aktifitasnya merusak kejernihan danau Toba harus kita nyatakan sebagai musuh kita.

"Posisi saat ini, kawasan danau Toba butuh ratusan instalasi pengolahan air limbah. Masih butuh ratusan Ipal di kawasan danau Toba agar seluruh limbah yang dihasilkan sekawasan bisa dicegah masuk ke danau Toba," katanya.

Sutrisno juga mengutarakan idenya bagaimana kalau pulau Samosir penggunaan kendaraan bermotor nya dibatasi. Wisatawan diarahkan untuk menggunakan kendaraan tanpa motor, misalnya sepeda. Tentunya infrastruktur untuk ini disediakan mulai dari gerbong khusus kereta api dari Medan yang nantinya sampai Parapat diberi fasilitas khusus sepeda, dan sepeda diseberangkan ke Samosir. "Jika tidak, didorong masyarakat Samosir untuk memiliki sepeda untuk di sewakan, dengan demikian masyarakat terlibat langsung," katanya.

Dari sisi Antropologi, pengembangan pariwisata di kawasan danau Toba ditekankan harus melibatkan masyarakat tanpa mengubah budaya yang positif di tengah masyarakat. "Pengambilan kebijakan oleh pemerintah harus didasari penelitian yang sungguh, jangan hanya berdasarkan kepentingan," kata antropolog Dr. Rosramadhana, M.Si.

Senada juga disampaikan Martogi Sitohang, bahwa kebudayaan yang didalamnya ada seni, mestinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pariwisata. Kehidupan masyarakat danau Toba sejak dahulu sudah mengenal seruling, yang digunakan para penggembala kerbau dan kegiatan lainnya. "Seorang seniman, tidak perlu melihat siapa yang menyaksikannya, namun saya akan memainkan musik saya, dengan penjiwaan," katanya sembari menyebutkan seni yang dihasilkan dengan kesungguhan akan mengundang respon orang lain untuk menikmati nya.

Kolaborasi semua pihak diharapkan untuk kelestarian danau Toba. (TAp) 
  BeritaTerkait
  • Investor Asal Australia Lirik Danau Toba

    5 tahun lalu

    Gencarnya promosi dan rencana pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pengembangan kawasan Danau Toba menarik perhatian para investor. Informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengidentifikasi minat investasi dari Australia di

  • Rencana Pembangunan Kawasan Danau Toba dan Peluang Masyarakat Adat Diseminarkan di Parapat

    4 tahun lalu

    Parapat (Pelita Batak): KSPPM, BAKUMSU, CAPPA dan Sajogyo Institute bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) dan Kantor Staf Presiden (KSP) menyelenggarakan seminar

  • Danau Toba Siap Sambut Presiden Jokowi pada Perayaan Natal Nasional di Humbahas

    4 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): Menjadi salah satu destinasi prioritas yang ditetapkan Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), membuat Danau Toba semakin banjir acara. Jumlah wisatawan yan

  • Pembangunan Danau Toba Tak Boleh Hilangkan Budaya Batak

    4 tahun lalu

    Geliat pembangunan di wilayah Danau Toba, Sumatera Utara, mulai terlihat sejak 2016. Kala itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 49/2016 tentang Badan Otorita Pengelola Danau Toba tertanggal 1 Juni

  • BOPKPDT Bersama H3 Sosialisasi Pengembangan Pariwisata Danau Toba

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Badan Pelaksana-Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba (BOPKPDT) mengadakan sosialisasi program kerja kepada seratusan tokoh masyarakat di Hotel Mercure Meda

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb