KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 10 Desember 2016 17:57:00

Toleransi dan Keberagaman Agama di Tano Batak Lewat Ritual Marari Sabtu,

Parmalim Gelar Doa untuk Aceh

BAGIKAN:
Ist|PelitaBatak
Tobasamosir (Pelita Batak) :
Duka mendalam akibat gempa bumi berkekuatan 6,5 SR yang terjadi di Pidie Jaya, Aceh, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di tanah rencong, namun juga masyarakat di Indonesia. Tak terkecuali bagi masyarakat penganut Ugamo (agama) Malim yang dikenal sebagai Parmalim di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
 
Sebagai bentuk kesedihan dan keprihatinan atas bencana itu, ratusan warga parmalim di Tobasa menggelar doa bersama untuk Aceh sebagai rangkaian ibadah Marari Sabtu. Doa bersama digelar di parsantian rumah Oppu Rugun Naipospos,  Desa Sibadihon, Kecamatan Bonatua Lunasi, Sabtu (10/12/2016). Kegiatan ibadah yang diikuti kaum bapak, ibu dan anak-anak ini berlangsung khidmat.
 
Jintar Naipospos, Ulu Punguan (pemimpin) parmalim mengatakan, penderitaan masyarakat Aceh merupakan penderitaan penganut aliran kepercayaan parmalim sebagai anak bangsa. "Ibadah pada hari ini selain mendoakan bangsa, kami juga sengaja mendoakan agar indonesia terbebas dari segala bencana. Kami doakan agar masyarakat Aceh tabah dalam menghadapi cobaan ini," katanya.
 
Jintar juga mendesak pemerintah untuk fokus memberikan bantuan, baik pangan maupun percepatan rehabilitasi lokasi penduduk yang terkena dampak gempa.
"Kita sangat apresiasi dengan kedatangan Presiden Jokowi secara langsung ke Aceh," ucapnya.
 
Dirinya berharap, hal ini dapat menambah semangat bagi para korban bencana dan menjadi warning bagi pihak terkait, untuk mempercepat proses pembangunan tempat tinggal bagi para korban."Saya berharap peristiwa ini bisa menjadi bahan kajian bagi seluruh warga negara untuk menginstropeksi diri. Parmalim meyakini bahwa bencana hadir akibat berbagai faktor. Salah satunya mungkin kita diingatkan untuk selalu menjaga bumi dengan segala isinya," ujarnya.
 
Dalam ibadah akhir pekan kali ini, di hadapan seluruh pengikut kembali mendoakan agar kebhinekaan di Indonesia senantiasa terjaga. Berbagai polemik yang menjadi pemantik kisruhnya kondisi bangsa, diharapkan secepatnya mereda, sehingga keberagaman yang selama ini menjadi ciri khas bangsa, bisa dipertahankan selamanya."Memanjatkan doa untuk keutuhan bangsa dan kebhinekaan tunggal ika kita bisa terjaga selamanya, penganut ugamo malim selalu memanjatkan doa bersama" ucap Jintar.
 
Didampingi Raja M Sitorus selaku warga parmalin, Jintar juga mendesak seluruh elemen bangsa bisa bersama-sama menyudahi segala intrik yang menjadi ancaman pecahnya negara. "Meski kami berada di kampung kecil, tapi toleransi dan keberagaman antar umat beragama disini selalu kami junjung tinggi," ucapnya.
 
Kegiatan Marari Sabtuan yang dihadiri Iwan Darmawan berkesempatan berbagi wawasan tentang kebangsaan. Mahasiswa program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia ini menjelaskan, menjaga Bhineka Tunggal selalu terjaga jika seluruh lapisan masyarakat selalu menjaga 4 pilar kebangsaan. "Jika 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, dipastikan ancaman perpecahan tidak perlu ditakuti, karena tidak akan terjadi" tegasnya.
 
Karena itu,  kegiatan menemui komunitas-komunitas kecil yang kerap terpinggirkan dan terkesan jarang terpikirkan oleh pemerintah seperti parmalim ini, perlu dilakukan anak bangsa, karena ini kelompok ini terkadang justru menjadi tolok ukur dalam menjaga toleransi dan keberagaman.
 
"Pemerintah sering tidak sadar bahwa budaya kita tercermin di komunitas kecil yang jarang terpantau. Ini hendaknya menjadi perhatian bagi pemerintah. Jangan hanya sibuk mencoba meredakan fenomena yang memicu ketakutan akan perpecahan bangsa, tapi komunitas kecil yang terus menjaganya secara turun temurun hingga saat ini, malah dilupakan. Mestinya ini dimunculkan biar menjadi contoh" katanya.(TAp)
 
  BeritaTerkait
  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • HKBP Distrik X Medan Aceh Gelar Ibadah Puncak Tahun Keluarga

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Ribuan jemaat HKBP Distrik X Medan Aceh menghadiri ibadah acara puncak Tahun Keluarga HKBP Distrik X Medan Aceh di MICC Ring Road, Minggu 10 Juli 2016, yang dipimpin Kadep Mar

  • Sipincur di Desa Pearung, Lokasi Perjuangan Melanchton Siregar

    2 tahun lalu

    Oleh: Ronald M. SihombingSipincur di Desa Pearung,  Kecamatan Humbang Hasundutan, lokasi Perayaan Natal Tingkat Nasional Partai Golkar, Sabtu,  26 Januari 2019, adalah salah satu jalur perju

  • Menunggu Gelar Pahlawan Nasional untuk Melanchton Siregar

    12 bulan lalu

    JAKARTA(Pelita Batak):  Masyarakat masih menunggu Pemerintah Pusat menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada  Melanchton Siregar, pendidik, pejuang, dan negarawan kelahiran Humbang Hasu

  • Kapolda Sumut yang Baru Diminta Segera Ubah Kultur Personel Anggotanya

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Anggota Komisi III DPR-RI Tifatul Sembiring mengucapkan selamat atas penunjukan Irjen Pol. H. Ricko Amelza Dahniel sebagai Kapolda baru Sumatera Utara, menggantikan Irjen Pol.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb