• Home
  • News
  • Pandemi Berkepanjangan Jadi Tantangan Tersendiri Soal KIA
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 10 Juni 2021 15:19:00

Pandemi Berkepanjangan Jadi Tantangan Tersendiri Soal KIA

BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
Toga Nainggolan

Medan (Pelita Batak):

Sebelum merebaknya pandemi Covid-19, tingginya tingkat kematian bayi dan ibu melahirkan di Indonesia sudah menjadi persoalan besar. Berbagai pihak, termasuk pemerintah dan maupun organisasi dan lembaga donatur, sudah melakukan berbagai pihak untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

“Kita perhatian kita menjadi sangat tersita untuk mengatasi pandemi dan segala dampaknya. Ini terlihat lebih urgen, mendesak untuk ditangani dan pada akhirnya membuat fokus kita teralihkan dari soal AKI dan AKB yang sebenarnya sangat penting,” ujar Ketua Forum Media Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMP-KIA) Sumatera Utara, Toga Nainggolan di sekretariat organisasi tersebut di Medan, Kamis (10/6/2021).

Dia mengingatkan semua pihak, akan sangat berbahaya jika sampai layanan kesehatan ibu dan anak di Indonesia terganggu akibat pandemi Covid-19. “Ini badai yang akan kita hadapi di masa depan. Bom waktu. Kualitas layanan kesehatan ibu dan anak menentukan derajat kesehatan sebuah bangsa. Mungkin efeknya tidak begitu terasa sekarang, tetapi jelas akan menjadi ancaman di masa depan,” katanya.

Dia mengungkapkan, sebelum pandemi sudah banyak program yang dilakukan pemerintah. Beberapa daerah juga sudah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mendukung peningkatan layanan kesehatan kepada ibu dan anak. “Bahkan waktu itu, kita juga sempat bekerja sama dengan USAID Jalin, membuat berbagai terobosan, terutama dalam kaitan membangun kesadaran di kalangan masyarakat,” katanya.

Akan tetapi, seperti digambarkannya, pandemi telah membuat semua program tersebut menjadi terganggu. “Seluruh sumber daya di sektor kesehatan sekarang dikerahkan untuk menghadapi dampak pandemi, termasuk untuk percepatan vaksinasi,” katanya.

Dia mengakui persoalan ini memang menjadi semakin pelik. “Indikator derajat kesehatan suatu bangsa itu pada dasarnya dilihat berdasarkan tinggi rendahnya angka kematian ibu melahirkan (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Hingga kini, Indonesia masih masuk dalam kelompok negara dengan AKI dan AKB tertinggi di ASEAN. Hanya lebih baik daripada Laos. Kita belum bisa mendapatkan bagaimana data terbaru dalam kaitan dengan dampak pandemi ini,” urainya.


Peranan Media

Pada bagian lain, Toga mengimbau agar segenap pekerja media termasuk para influencer media sosial berperan aktif membangun kesadaran KIA di tengah-tengah masyarakat. “Kurangnya kesadaran ibu untuk melahirkan di sarana kesehatan yang disiapkan pemerintah, kurangnya kesadaran dan partisipasi suami, keluarga, dan komunitas dalam menolong ibu hamil, adalah faktor penyebab tingginya kematian ibu dan anak di Indonesia,” paparnya.

Dikatakannya, di satu sisi, pemerintah harus terus didesak utuk meningkatkan fasilitas dan layanan KIA, dan di sisi lain semua pihak juga perlu berperan untuk menggerakan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia baik untuk pemeriksaan, dan terutama saat melahirkan.(*)

  BeritaTerkait
  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

    4 tahun lalu

    Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun san

  • Pengembangan SDM untuk Mendorong Produktivitas Masa Pandemi Covid-19

    5 bulan lalu

    KUALITAS sumber daya manusia pada sebuah perusahaan sangat menentukan kemajuan sebuah bisnis dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sumber daya manusia yang berkualitas akan membawa perusahaan ke

  • Perempuan Kristen di Australia Semakin Susah Menemukan Jodoh

    2 tahun lalu

    Canberra (Pelita Batak):Menjadi penganut agama Kristen di Australia yang semakin sekuler jadi tantangan tersendiri, khususnya dalam mencari pasangan hidup. Hal ini terutama dialami kaum perempuan Kris

  • Riana Nainggolan, Boru Batak yang Berkarier Jadi Pesepak Bola di Eropa

    5 tahun lalu

    Roma(Pelita Batak):   Radja Nainggolan bukanlah satu-satunya pesepak bola berdarah Indonesia di Indonesia. Ada pula Riana Nainggolan yang merupakan saudara kembar dia.   R

  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    5 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb