• Home
  • News
  • Manguji Nababan : Orang Batak, 'Maliali' Secara Kultural
KSP Makmur Mandiri
Rabu, 22 Januari 2020 16:52:00

Manguji Nababan : Orang Batak, 'Maliali' Secara Kultural

BAGIKAN:
FB manguji Nababan
Manguji Nababan bersama Kapolda Sumut Martuani Sormin dalam satu kesempatan
Medan (Pelita Batak):
Peradaban dan kehidupan masyarakat Batak terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Sayangnya perubahan yang dialami masyarakat suku yang berasal dari Sumatera Utara ini, cenderung lari dari nilai luhur 'habatahon-nya'.

"Orang batak sebenarnya sudah yatim piatu atau Mali-ali dari sisi kebudayaan. Tidak lagi bisa berdiri dalam tatanan habatahon," kata Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Medan, Manguji Nabanan kepada PelitaBatak.com, Rabu (22/1/2020).

Dijelaskan, kondisi saat ini seseorang disebut Batak hanya karena memiliki marga, bisa sedikit berbahasa batak. Namun tidak mengerti apa nilai luhur yang dia miliki sesungguhnya. Internalisasi nilai Batak sesungguhnya tidak lagi diamalkan keturunan bangso Batak dalam kehidupannya, masa kini.

Globalisasi memaksa orang Batak untuk mampu beradaptasi dan melebur dalam lingkungan masyarakat modern, jauh lebih luas dari kehidupan ikatan berbangsa dan bernegara.

Sejak awal, orang Batak memang terkenal dengan jiwa persahatannya dengan mudah berbaur dengan siapa saja. Namun, era ini tidak lagi hanya 'Si Boru Puas Si Boru Bakkara, Molo Dung Puas Sae Soada Mara'.

Terlebih dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan bermasyarakat, semestinya orang Batak harus mampu lebih banyak mendengar, kemudian bertanya hal-hal yang belum tepat dipahami dengan benar.

Manguji mencontohkan, bagaimana bangsa lain dengan tetap mempertahankan nilai luhur kebudayaannya. Katakan, Jepang dan Korea. Mereka bukan tidak menganulir kehidupan modern, namun tetap menanamkan makna dan arti luhur budaya mereka. Demikian halnya dengan kebudayaan Batak, harus bisa disejajarkan dengan nilai universal.

Keterampilan orang batak beradaptasi, kerap terjadi adaptasi kebablasan. Saat orang Batak tinggal di Sumatera Barat misalnya, anak-anaknya akan lebih pintar bahasa setempat dari bahasa Batak. Juga menjadi sisi negatif akan lemahnya menanamkan kepribadian habatahon di generasi orang Batak ke depan.

Untuk Sumut sendiri, orang Batak harus menilik labih dalam lagi nilai luhur habatahon sesungguhnya. Membully bukan tradisi kita. Sedikit kesalahan orang lain, tidak harus ditanggapi dengan spontan. "Sise do mula ni hata, sungkun mula ni uhum. Jika ada yang janggal, mari gali informasinya. Tanyakan kepada yang bersangkutan," ujarnya.

Mental habatahon harus dikembalikan kepada generasi berikutnya. Peran orang tua, lanjut Manguji, sangat diperlukan. "Dirgak do eme na lapungon, unduk do eme naporngis. Bagaimana mana padi yang berisi akan semakin menunduk, demikian lah kiranya kita orang Batak. Nilai ini harus disampaikan orangtua, para tokoh adat, lembaga adat, maupun gereja," ujarnya.

Orang Batak, lanjut Manguji, dikatakan berhasil jika bermanfaat bagi oang lain. Diawali dari bermanfaat bagi orangtuanya, adik-adiknya, keluarga dan masyarakat. "Untuk masa kini, orang batak diaspora yang sudah menyebar dimana-mana dikatakan berhasil jika memiliki nilai tadi serta peduli ke kampung halamannya, bona pasogit," ujarnya.

Saat ini, tidak sedikit orang Batak berhasil menjadi tokoh nasional, bahkan pengusaha di berbagai negara luar. Namun tidak memperhatikan kampung halamannya, secara umum Sumatera Utara. Perilaku ini bukan tujuan orang Batak merantau diberangkatkan orangtuanya dari kampung halaman.

Penggalan lirik lagu 'Lupa Do Ho' : Makkirim do sude, haha anggi iboto mi. Anggiat sahat ho hasian, tu tinodo ni rohami. Anak siparbagaon tahe, sian na dihutai. Ai tung makkirim do, sude amang digogo mi. Merupakan gambaran doa untuk perantau, agar mengingat kampung halamannya yang masih jauh dari kemajuan. Perhatian dan topangan para perantau orang Batak sangat dibutuhkan untuk bona pasogit. (TAp)
  BeritaTerkait
  • Jemaat HKBP Harus Berbuah Universal di Era Digitalisasi

    tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Orang Batak menjadi Kristen bukan hanya kebetulan, itu semua karena kasih Allah yang sangat besar bagi Allah sebagai sebuah suku yang dipilih untuk jadi orang Kristen. Hal itu dit

  • YPKB Gelar Pollung na Marimpola di Medan

    8 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Bagaimana Batak dulu, kini dan masa depan? Tantangan terhadap budaya Batak kini semakin kuat di tengah arus modernisasi. Inilah yang menjadi topik diskusi Pollung na Marimpola yan

  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    4 tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  • Ini Nama-nama Pemenang Jambore Kader PKK Kabupaten Humbahas

    3 tahun lalu

    Doloksanggul(Pelita Batak):Gerakan PKK adalah gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah, pengelolaannya dari, oleh dan untuk masyarakat menuju terwujudnya keluarga yang b

  • Ini Dia Kegiatan Pengurus Daerah FBBI Selama 2016

    3 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merilis kegiatan pengurus daerah yang telah dilaksanakan sebagai berikut di bawah ini.   a. DPD FBBI Provinsi Riau.

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb