• Home
  • News
  • Kata Sambutan Bachtiar Sitanggang Pada Peluncuran Buku 'RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON'
KSP Makmur Mandiri
Minggu, 16 Agustus 2020 16:14:00

Kata Sambutan Bachtiar Sitanggang Pada Peluncuran Buku 'RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON'

BAGIKAN:
IST|Pelita Batak
Bachtiar Sitanggang
UBHARA JAYA BEKASI (Pelita Batak):
Horas. Selamat siang, Selamat Hari Minggu.

Atas nama Tim Penulisan Buku TAROMBO RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON mengucapkan terimakasih atas perkenan Bapak-bapak  hadir pada acara peluncuran buku TAROMBO RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON ini.

Selamat datang kepada Bapak dari:
- Pengurus Punguan PARNA se-Indonesia  Ketua Umum dan Sekjen PPI,
- Dewan Penasehat dan Ketua Umum Pengurus Punguan Raja Sitanggang & Boru, 
- Ketua Umum dan Pengurus Punguan Raja Sigalingging, 
- Ketua Umum dan Pengurus Punguan Raja Simanihuruk, 
- Ketua Umum dan Pengurus Punguan Raja Sidauruk, 
- Natua-tua Sohe Sitanggang Bau, Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo dan Sitanggang Gusar, 
dan secara khusus selamat datang dan terimaksih kepada Prof. Tatang Ary Gumanti dan Lae Enderson Tambunan dan Lae Djalan Sihombing dari Naringgas Manjaha dan para hadirin yang saya hormati.

Puji Syukur kepada Tuhan Allah, Bapak di sorga atas berkat anugerahNya bagi kita untuk bisa bertatap muka walaupun harus tetap taat protokol kesehatan, sebagai suatu kewajiban menyelamatkan diri, keluarga dan masyarakat di era new normal menghadapi Covid-19.  

Damang na huhaholongi, Bapak-bapak yang saya kasihi. 
Buku Tarombo ini hanyalah pengumpulan fakta dan data yang telah ada dalam berbagai buku, namun sekaligus meluruskan dan berupaya mengoreksi berbagai hal.

Sebagai contoh, hidup dan kehidupan Orang Batak sungguh dipenuhi mithos, legenda dan cerita rakyat dari mulut ke mulut, baliga binaligahon-barita binaritahon (berita diberitakan).  

Bahwa asal-usul Si Raja Batak selalu dikesankan sebagai putra dari warga khayangan Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odap-odap. Dalam buku ini kita kemukakan sisi lain yaitu:
 bahwa berdasarkan hasil test DNA Orang Batak sama dengan orang-orang yang berasal dari Afrika (Dr. Ir. Bisuk Siahaan. Batak Satu Abad Perjalanan Anak Bangsa 2011.24).

Bahwa menurut Batara Sangti (Sejarah Batak. 1977.235) menyebutkan bahwa leluhur sukubangsa Tobatua adalah “pengisolasiandiri sendiri” Si Raja Batak dan kedua puteranya Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon beserta keluarganya di Pusuk Buhit.

Biarlah pembaca menyimpulan, apakah nenek moyang Orang Batak itu lahir dari putri khayangan atau memang bersama-sama dengan suku lain berasal dari Asia yang bermigrasi dari Arika lalu ke Pinggiran Danau Toba.
Khusus tentang Tarombo, Si Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan dn Raja Isumbaon. Raja Isumbaon memperanakkan Raja Sorimangaraja, Raja Asiasi, Raja Songkar Somalidang.

Tentang Tarombo, saat ini hampir semua jadi ahli, siapa pintar sebagai tukang cerita bisa jadi Ahli Trombo, Parhata-hata menjadi Raja Hata, apalagi rajin membuka internet.
Sementara Tarombo tidak lepas dari periodisasi, waktu dan tempat.  Seperti nama sering cucu mengambil nama Nenek (Ompung), nama menjadi marga dan menjadi kerajaan. Belakangan sering dicampur-aduk sehingga membinungkan, kalau tidak cermat.

Khusus Tarombo RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON ini memuat : Bahwa Raja Sorimangaraja anaknya tiga yaitu: Sorba Dijulu Raja Nai Ambaton yang juga disebut Sindar Mataniari, Sorba Dijae, Sorba Dibanua.

Sorba Dijulu/Nai Ambaton anaknya dua Raja Sitempang dan Raja Nabolon. Raja Sitempang anaknya dua yaitu Raja Hatorusan dan Raja Natanggang (Raja Pangururan).

Raja Natanggang/Raja Pangururan anaknya Raja Panukkunan (Tanjabau) Sitanggang Bau, Raja Pangadatan dan Raja Pangulu Oloan/Raja Sigalingging.

Raja Panukkunan/Sitanja Bau Sitanggang Bau anaknya dua yaitu Raja Sitempang (mengambil nama Ompungnya) dan Raja Tinita; Raja Sitempang kemudian memperanakkan Raja Gusar yang memakai Sitanggang Gusar.

Raja Pangadatan anaknya tiga yaitu: Raja Lipan/Sitanggang Lipan, Raja Upar/Sitanggang Upar, Raja Silo Sitanggang Silo. 
Sitanggang Silo memperanakkan Sitanggang Silo, Raja Simanihuruk dan Raja Sidauruk.

Raja Pangulu Oloan/Raja Sigalingging anaknya tiga yaitu Guru Mangarissan (Sigorak), Raja Tinatea (Sitambolang), Namora Pangujian (Parhaliang). 

Guru Mangarissan (Sigorak) anak tiga yaitu: Ompu Limbong, Ompu Bonar dan Mpu Bada. Mpu Bada anaknya enam yaitu : Tendang, Banuarea, Manik, Beringin, Gajah dan Berasa.

Tarombo Raja Sitempang tersebut disarikan dari berbagai buku serta tarombo yaitu: Tarombo Si Raja Batak oleh Nahum Sidabutar (Tomok 1976);  Tarombo Nahoda Raja SimbolonTua Si Onom Hudon yang dibacakan Raja Oloan Tumanggor pada Diskusi Tarombo Parna 8 Maret 2020 di UKI Jl Diponegoro Jakarta).  

Sekaligus meluruskan dan membantah buku WM Hutagalung (Pustaha Batak Tarombo dohot turi-turian ni Bangso Batak.1991.137) serta JC Vergowen dan penulis lain yang mengacu kepada buku WM Hutagalung tersebut.
Dengan demikian bahwa Raja Sitempang tidaklah sama dengan Munte sebagaimana buku WM Hutagalung, dan Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk dan Sidauruk bukanlah keturunan Munte atau Munthe.

Dikemukakan juga dua tulisan dalam buku ini yaitu Jahaum Simalango dan  R. Monang PSPH Munthe, tentang Asal-usul Marga Munthe sama sekali tidak mengaitkan dengan Raja Sitempang, Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk dan Sidauruk.
sebagaimana dikemukakan  Juru Bicara Forum Komunikasi Munte Se-Indonesia pada Diksusi Tarombo Parna 8 Maret 2020 di aula FH UKI menyatakan bahwa Munte berasal dari Tambatua.

Terimakasih kepada PPI yang menyelenggarakan Diskusi Tarombo PARNA  Minggu, 8 Maret 2020 lalu sebab hasil Diskusi tersebut makin menguatkan bahan-bahan yang ada bahwa Anak Raja Nai Ambaton bukan enam, bukan lima atau empat tetapi dua yaitu Raja Sitempang dan Raja Nabolon, walau namanya  beda seperti Nahum Sidabutar menyebut Rja Sotempang, Si Onom Hudon menyebyt Sitanja Bau. 

Khusus tentang Sitanggang dan Simbolon, di Bonaposgit Samosir selalu satahi saoloan, taat di PODA dan TONA, rap Sihahaan rap Sianggian, IPAR-IPAR ni Partubu. Selalu berpedoman pada DALIHAN NA TOLU, Somba Marhula-hula, Elek Marboru, MANAT mardongan tubu.

Tona Raja Nai Ambaton bahwa keturunannya si sada anak si sada boru na so jadi masiolian, sampai sekarang masih dipegang teguh, tetapi oleh generasi sekarang apalagi yang lahir di Perantauan, sering dipermasalahkan, menyebabkan kerancuan dan bahkan lupa pada Tona dan Poda ni Ompu.

Hendaknya tidak mendahulukan logika dari iman, tetapi iman harus mendasari semua tingkah laku manusia.

Oleh karenanya, adalah mengada-ada apabila mempermasalahkan Pardongan tubu-on  SITANGGANG dan SIMBOLON yang sudah berabad-abad damai dan sejahtera di di Bonapasogit.

Angka Damang nahuhaholongi, Bapak-bapak yang terkasih, Tim selama 1 tahun tiga bulan menggumuli buku ini, hasilnya akan Bapak-bapak baca nanti. Tak ada gading yang tak retak, dan tidak ada yang sempurna, hanya DIA sang Pencipta yang sempurna. 

Perlu diketahui bahwa Buku Tarombo Raja Sitanggang telah ditulis Drs. Marcius Albert Sitangang MBA (Mengenal Leluhur Raja Sitanggang Serta Keturunannya, 1997); Sejarah Dan Tarombo Raja Sitanggang (2001). Kosmen Sitanggang (Raja Sitempang 2007); Raja Na Pogos JP Sitanggang (Tarombo Raja Sitempang, 2011) Tarombo ni Raja Sitanggang (Purasitabor Medan, 2007); Tarombo Pomparan  Ni Raja Sigalingging (Panitia Tarombo Raja Sigalingging. Jakarta,2002) ; Tarombo Raja Simanihuruk (A.E. Manihuruk Binanga Borta, 1998).

Oleh karenanya, muatan TAROMBO RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON ini adalah mengacu dan berdasarkan buku yang ada.

Tim menghaturkan terimakasih tak terhingga kepada Bapak-bapak penyumbang buku, bahan dan tarombo, saran dan informasi terutama koreksi. Terus terang hanya melalui WA Sdr. Haryadi Sidauruk SH mengirimkan Tarombo Sidauruk, Ir. Jomli Simanihuruk mengirimkan Tarombo Simanihuruuk, demikian juga Dr. Edward Sigalingging, serta Amang Dr. Martuama Saragi serta Pan Kristian Sidabutar yang mengirimkan Tarombo Nahoda Raja Simbolon Tua Si Onom Hudon serta Domu Sidabutar yang mengirimkan Tarombo tulisan Nahum Sidabutar.

Harus diakui bahwa buku ini hanya sebagai pembukaan wawasan artinya kepada setiap kita yang berkepentingan mohon mengoreksinya dan syukur-syukur dapat menerbitkan perbaikan lagi, sebab nuku ini adalah bersumber dari berbagai buku dan pendapat  dengan berusaha mempebandingkan serta mempersandingkan sekaligus mengoreksi bahkan membantah dengan data dan fakta.

Karena buku Tarombo ini adalah mengisahkan kurang lebih 400-500 tahun lalu
tentu tidak akan bisa sama dengan pendapat yang lain. Oleh karenanya, seyogyanyalah Marga yang bersangkutan mengurus Tarombonya sendiri, sehingga dalam buku ini Tim membatasasi diri hanya TAROMBO RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON.

Dengan harapan marilah kita saling menghormati apalagi namardongan tubu-namarhaha maranggi untuk saling menghormati dan mengakhiri polemik selama ini, sebab kita sama-sama anak kemarin dan semua kita pmempunyai Orangtua, yang tingkatan pengetahuannya tidak sama tentang Tarombo, oleh karena itu sebaiknya tidak perlu m,engurusi Tarombo orang lain, apalagi memaksakan kehendak.

Kita terkecoh oleh WM Hutagalung dan JC Vergowen, kita bersyukur mereka telah membuka wawasan kita tentang pentingnya Tarombo, tetapi sudah kita tahu bahwa mereka hanya pencatat apa yang ada tahun 1900-an sementara si Raja Batak diperkirakan abad XIV-an.

Permohonan saya, supayabuku ini dibaca secara utuh, karena memuat perbandingan dan persandingan, dan sesuai fakta dan data sering terjadi pengulangan. Isinya memenuhi standard akademik sebagaimana saran Prof Tatang Ary Gumanti, alurnya mudah dibaca dengan bahasa sederhana sesuai dengan editan Lae Enderson Tambunan.

Bapak-bapak yang terkasih, 
Mengerjakan buku Tarombo memperhadapkan logika dan iman sebab menyangkut mithos, legenda dan cerita dari mulut ke mulut. tentang Tarombo Orang Batak.  

Di era milenial bagaimana kita mengemukakan Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odapodap turun dari khyangan dipersandingkan dengan iman terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Ternyata belum ditemukan Buku Lak-lak yang berisi Tarombo/Silsilah, artinya sumber resmi belum ditemukan. 

Memulis Tarombo dari satu komunitas Marga Terbesar Orang Batak PARNA bukanlah hal mudah akan tetapi dengan berkat Tuhan dan doa Bapak-bapak saya dimampukannya menyelesaikan buku ini.
Saya berterimakasih kepada Tuhan, masih diberikan kesempatan untuk meluncurkan buku seperti tanggal 15 Agustus 2018 lalu, saat kami NARINGGAS Manjaha meluncurkan buku NEGARA & HUKUM DI MATA SEORANG WARTAWAN-ADVOKAT menyambut Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Tim tetap berpedomam pada Poda ni Ompunta Si Raja Nai Ambaton untuk tetap MANAT mardongan tubu. Pasti ada yang tidak berkenan, mohon dimaafkan dan mari kita perbaiki.

Pekerjaan ini rampung dorongan  sekaligus tantangan dari Ompu Rebecca Sitanggang, “kalau bukan kita yang hidup sekarang, siapa lagi? Anak cucu kita belum tentu mengerti”. Dorongan dan saran dari Prof. Djuang serta arahan dari si Raja Napogos Ir. JP Sitanggang teman berdiskusi terutama Pastor Nelson Sitanggang yang khusus berdoa SALAM MARIA untuk saya. Lebih khusus lagi pada Op. Philomena yang tidak mengenal lelah, mengikuti perkembangan, mengumpulkan buku-buku dan mengetik dan mengoreksi bahkan mengadakan acara pelantikan ini hanya dalam dua hari. 

Demikian Bapak-bapak saya mohon maafkan atas kekurangan dan tolong didoakan semoga saya bisa semakin baik. Horas,jala gabe, Tuhan Allah memberkati kita semua.
Minggu, 16 Agustus 2020
Bachtiar Sitanggang.
  BeritaTerkait
  • Buku "Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton" Diluncurkan di Pangururan

    satu minggu lalu

    Pangururan (Pelita Batak):Buku 'Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja  Nai Ambaton" diluncurkan di Hotel Sitiotio, Pangururan, Kabupaten Samosir, Sabtu, 10 Oktober 2020. Buku yang disusun

  • Buku "Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton" Diluncurkan

    2 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Buku silsilah atau Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton diluncurkan Minggu, 16 Agustus 2020 di Auditorium Kampus II Ubhaya Jaya, Jalan Perjuangan, Kota Bekasi, Jawa B

  • GMKI : Menjawab Ketimpangan Pembangunan dengan Pancasila

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia memperingati Sumpah Pemuda dengan melakukan Seminar Nasional bertemakan "Pemuda sebagai Penjaga Pancasila dan Pembangun Peradaban". Seminar in

  • Membaku - bukukan Pelaksanaan Prosesi Adat

    3 tahun lalu

    Oleh : Sampe L. PurbaMembakukan Pelaksanaan Prosesi Adat tidak mudah. Ada berbagai alasan subjektif dan objektif. Beberapa di antaranya adalah satu, tidak ada satu otoritas tunggal yang dapat mendikte

  • Pusat Habatakon (Batak Center) Didirikan untuk Menyelamatkan Kebudayaan Batak di Masa Depan

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Kebudayaan Batak perlahan-lahan ditinggalkan oleh penganutnya yaitu orang-orang Batak itu sendiri, semakin tergerus oleh kemajuan teknologi informasi, pergaulan bebas, hedonisme

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb