• Home
  • News
  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (2)
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 22 Agustus 2017 13:46:00

Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (2)

BAGIKAN:
Ist
Sebastian Hutabarat saat mengadu ke polisi
Medan(Pelita Batak): 06:12 Masih ambil beberapa foto pemandangan di depan rumah dan home stay RG di Silimalombu Samosir. SH melihat pantai yang muncul karena air Danau Toba yang menyurut. Dalam hati SH bergumam, "ada bagusnya juga ya, pantai dan pasir putih ini".

6.27 SH masuk ke rumah RG dan disusul oleh JM yang ikut masuk ke dalam rumah RG dan disediakan kopi oleh seorang pekerja perempuan di rumah tersebut. SH berbincang-bincang dengan Ibunya RG yang sudah tua tapi memilih terus beraktifitas. Ibunya RG bercerita bagaimana ditinggal Suaminya Kepala Negeri Gultom saat anak-anaknya masih kecil. Bagaimana Ibunya RG setiap pagi bertani di sekitar rumah, sebelum anak-anak ke sekolah dan melanjutkan aktifitasnya menggeser batu demi batu agar bisa dipakai menjadi lahan pertanian. 

Tidak lama berselang RG ikut bergabung dan diskusi tentang air Danau Toba yang menyusut dan menghasilkan pantai kecil tempat SH sering berenang dengan Suami RG yaitu, Thomas Heinle (TH), saat SH berkunjung ke Silimalombu. Pertemuan kecil tersebut termasuk membicarakan tentang beko yang dgunakan menggeser batu batu di sebelah lahan Keluarga RG. Menjelang usai diskusi, TH masuk dan berbicara dengan JM tentang keberadaan hewan Lipan di dalam botol aqua yang sudah mati dan diberi minyak.

Diskusi berlanjut, oh ya, dimana lokasi tambang batu yang menimbulkan pro-kontra itu?
Kamipun pamit.

07:20 - 07:23 JM mengambil foto seorang nelayan yang sedang mengambil jaring (baca: Mardoton dalam bahasa Batak) dari area rumah dan home stay RG.

07:23 - 07:30 SH bersama JM berjalan menuju Lokasi tambang batu. Pada pukul 7.23 SH memotret bangunan baru dari besi (kemungkinan port) di sekitar rumah Kepala Desa. Sepanjang perjalanan, dimana SH didepan dan JM mengikuti di belakangnya sempat menyapa beberapa warga yang kami lewati termasuk Ibu-nya Kepala Desa yang sedang menyapu halaman. Dengan Ibu-nya Kepala Desa kami sempat saling menyapa dan bersalaman serta sempat berbincang-bincang sekilas dan menyampaikan jikalau ingin ke lokasi penambangan batu. 

Kepada JM, Ibu-nya Kepala Desa tidak melarang, tetapi justru sempat menyampaikan "unang dibege-bege hamu aha na nidok eda si Ratna". Selanjutnya kami tiba di lokasi Penambangan Batu, dimana lokasi tersebut merupakan lokasi tempat pelantikan Pengurus YPDT dari 7 Kabupaten Kawasan Danau Toba pada tanggal 6 Mei 2015, dan juga merupakan lokasi Penanaman Pohon dan Penaburan bibit ikan antara YPDT dengan Bupati Kabupaten Samosir, Drs. Mangindar Simbolon,ketika itu.

07:30-07:35 SH dan JM tiba di lokasi tambang batu (Stone Crusher). Di lokasi Penambangan yang tidak memiliki pintu maupun pagar/pembatas serta rambu-rambu atau penanda apapun tersebut,  kami sempat ngobrol- ngobrol dengan beberapa orang termasuk sopir sopir truk pembawa batu. Sopir yang baru tiba mengatakan "Mobil gak bisa lewat ke arah Tomok, karena ada mobil terpuruk (baca: menghalangi)  di jalan. SH sempat memotret beberapa lokasi tambang batu dan ngobrol dengan nelayan perempuan yang sedang mardoton di Danau Toba. 

Lalu SH mengambil tempat sepi untuk buang air kecil yang ada di bagian belakang. JM Mengikuti dari belakang dan JM melihat ke arah Pantai dan memoto seorang Ibu memakai topi yang sedang Mardoton di Danau Toba. Usai buang air kecil, SH yang disusul oleh JM hendak kembali dan bertemu dengan orang yang tinggal di Mess bertingkat dan sempat ngobrol sekilas sebelum kemudian dipanggil oleh seseorang  (yang beberapa waktu setelahnya diketahui sebagai sekuriti) yang mana pakaiannya tidak berbeda dengan teman-teman lainnya. Orang tersebut mengatakan "Lae dijou Tokke".(Bersambung)

Hingga rilis ini diterbitkan, Jautir Simbolon telah membantah melakukan penganiayaan melalui media massa. Dia malah menyebutkan luka korban karena terjatuh saat mengejar fery.
  BeritaTerkait
  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (3)

    3 tahun lalu

    07:35-07.40 Tidak berpikir lama, SH dan JM kemudian memenuhi permintaan seseorang tersebut sembari menunjukkan keberadaan si Tokke yang dimaksud, yang ternyata sedang bertelpon dengan seseorang yang t

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (1)

    3 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): Pengeroyokan, "Penahanan", dan Pelecehan Seksual terhadap Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun (Pengurus Yayasan Pencinta Danau Toba-YPDT) di Lokasi Galian C, Desa Silimalombu

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (4)

    3 tahun lalu

    Di waktu berbeda, seseorang sempat menyinggung permasalahan Aquafarm. Lalu SH sempat menyela untuk fokus berbicara terkait tambang saja. Kembali ke masalah tambang SH menyampaikan apresiasinya terhada

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (5)

    3 tahun lalu

    08:09-08.15 JS memanggil SH dan JM untuk jangan pergi dulu. Ketika SH dan JM menoleh ke belakang, anak buah JS berlari ke arah SH dan mulai menarik SH. Melihat situasi tersebut, JM berusaha memisahkan

  • YPDT Desak Kasus yang Menimpa Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat Ditindak Tegas Pelakunya

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :YPDT menghendaki kasus yang menimpa Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat ditindak tegas pelakunya secara hukum. Ini adalah tindakan penganiayaan, pengeroyokan, dan pelangga

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb