• Home
  • News
  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (1)
KSP Makmur Mandiri
Selasa, 22 Agustus 2017 13:43:00

Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (1)

BAGIKAN:
Ist
Sebastian menunjukkan wajahnya yang terluka akibat dipukuli
Medan(Pelita Batak): Pengeroyokan, "Penahanan", dan Pelecehan Seksual terhadap Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun (Pengurus Yayasan Pencinta Danau Toba-YPDT) di Lokasi Galian C, Desa Silimalombu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara-Indonesia, Selasa, 15 Agustus 2017.

Pada hari Senin, 14 Agustus 2017 pukul 09.00 WIB kami bersama seorang relawan bertemu dengan Sebastian Hutabarat di kediamannya di Jl. Tarutung, Balige. Sebastian Hutabarat sebagai salah satu pengurus YPDT Perwakilan Kabupaten Toba Samosir diperkenalkan kepada Hank Van Apeldoorn, Relawan YPDT asal Australia untuk pengembangan potensi pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat di kawasan Danau Toba. 

Selanjutnya saya bersama Sebastian Hutabarat dan Hank Van Apeldoorn berangkat menuju Kabupaten Samosir menggunakan mobil melalui TELE. Sesampai Tele, kami singgah di gardu pandang Tele berfoto dan melihat hotspot-hotspot menarik di sekitarnya. Dan kemudian makan siang di Rumah Makan Barat, depan Polres Samosir. Usai makan siang kami sempat memfoto bangunan Belanda di pojok jalan Polres Samosir. Lalu selanjutnya, Kami singgah di depan Rumah Dinas Bupati. 

Sebastian dan Hank menemui perajin yang mengolah eceng gondok menjadi produk tas. Sedangkan Jhohannes Marbun, seijin Satpol PP yang berjaga, lebih tertarik memfoto Rumah Dinas Bupati Samosir dan menanyakan kesejarahan bangunan kepada Satpol PP yang berjaga. Satpol PP menyarankan ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Samosir yang baru terbentuk beberapa bulan sebelumnya. 
Kami bertemu dengan Kepala Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Samosir dan bertanya tentang kesejarahan bangunan Rumah Dinas Bupati dan juga bangunan arsip yang juga diperkirakan dari masa kolonial. Kami sempat berbincang mengenai pengembangan warisan budaya (Heritage) Samosir dan disambut dengan baik. 

Setelahnya kami melanjutkan perjalanan menuju Silimalombu sambil berhenti beberapa kali di sepanjang jalan untuk mengambil Foto terkait potensi-potensi wisata menarik yang ada di Kabupaten Samosir. Kami berhenti di Lumban Suhisuhi untuk mengambil foto Monumen AE Manihuruk dan Tambak W. Marbun yang letaknya tidak berjauhan di antara dua makam dan monumen tersebut. Melanjutkan  perjalanan, kami membeli beberapa souvenir di daerah Tomok yang dijadikan sebagai contoh souvenir dan kami melanjutkan perjalanan menuju Silimalombu tiba pada pukul 17.00 WIB. 

Kami disambut oleh Thomas dan Ratnauli Gultom selaku tuan rumah yang juga merupakan pengurus YPDT Perwakilan Samosir. Lalu kami berbincang sebentar mengenai rencana kami termasuk berencana pulang malam hari mengejar Kapal Ferry pukul 19.30 WIB. Tuan rumah menyarankan kami untuk bermalam agar punya cukup waktu untuk berdiskusi dan melihat-lihat potensi Silimalombu. Kami memutuskan bermalam dengan merencanakan akan berangkat Selasa esok pagi pukul 08.00 WIB untuk mengejar Kapal Ferry keberangkatan pukul 10.00 WIB dari Tomok ke Aji Bata. 

Pada Selasa pagi hari (15 Agustus 2017) pukul 06.00 WIB, Di antara kami bangun lebih awal dan langsung keluar untuk melihat pemandangan di sekitar kami tinggal. Kami yang telah beberapa kali datang ke Silimalombu melihat bahwa air Danau Toba sudah turun, dan pinggir danau kelihatan berpasir. 

Kita sempat berseloroh bahwa saat ini Silimalombu sudah memiliki Pantai Pasir Putih. Selanjutnya Sebastian Hutabarat berbincang-bincang dengan Ibu-nya Ratnauli Gultom, menggali pengalaman dan kegigihannya membesarkan anak-anak sehingga memiliki kemandirian baik yang tinggal di Silimalombu maupun yang berada di perantauan seperti saat ini. 

Selanjutnya, mengisi waktu yang ada, sebagaimana waktu-waktu kunjungan sebelumnya (beberapa kali ke desa Silimalombu), kami hendak berkeliling kampung Silimalombu memanfaatkan waktu yang tersisa, dengan meminta ijin atau permisi kepada Ibu-nya maupun kepada Ratnauli Gultom (RG). Disinilah kronologi peristiwa yang kemudian berujung pada Penganiayaan, pemukulan, dan pengeroyokan terhadap Jhohannes Marbun (JM) dan Sebastian Hutabarat (SH).(Bersambung)

Hingga rilis ini diterbitkan, Jautir Simbolon telah membantah melakukan penganiayaan melalui media massa. Dia malah menyebutkan luka korban karena terjatuh saat mengejar fery.

  BeritaTerkait
  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (3)

    3 tahun lalu

    07:35-07.40 Tidak berpikir lama, SH dan JM kemudian memenuhi permintaan seseorang tersebut sembari menunjukkan keberadaan si Tokke yang dimaksud, yang ternyata sedang bertelpon dengan seseorang yang t

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (2)

    3 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): 06:12 Masih ambil beberapa foto pemandangan di depan rumah dan home stay RG di Silimalombu Samosir. SH melihat pantai yang muncul karena air Danau Toba yang menyurut. Dalam hati S

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (4)

    3 tahun lalu

    Di waktu berbeda, seseorang sempat menyinggung permasalahan Aquafarm. Lalu SH sempat menyela untuk fokus berbicara terkait tambang saja. Kembali ke masalah tambang SH menyampaikan apresiasinya terhada

  • Ini Dia Kronologi Kasus Penganiayaan Aktivis Yayasan Pencinta Danau Toba - YPDT) di Samosir Versi Jhohannes Marbun (5)

    3 tahun lalu

    08:09-08.15 JS memanggil SH dan JM untuk jangan pergi dulu. Ketika SH dan JM menoleh ke belakang, anak buah JS berlari ke arah SH dan mulai menarik SH. Melihat situasi tersebut, JM berusaha memisahkan

  • YPDT Desak Kasus yang Menimpa Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat Ditindak Tegas Pelakunya

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :YPDT menghendaki kasus yang menimpa Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat ditindak tegas pelakunya secara hukum. Ini adalah tindakan penganiayaan, pengeroyokan, dan pelangga

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb