• Home
  • News
  • Dari Lokakarya ICRS dan British Council di Medan: Indonesia Memiliki 'DNA' Keberagaman
KSP Makmur Mandiri
Kamis, 07 September 2017 06:22:00

Dari Lokakarya ICRS dan British Council di Medan: Indonesia Memiliki 'DNA' Keberagaman

BAGIKAN:
Nadia Atika
Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) bekerja sama dengan British Council, Kementrian Agama Republik Indonesia dan difasilitasi oleh Universitas Negeri Islam Sumatera Utara Medan, menyelengarakan Lokakarya Pengayaan Wacana Agama dan Keberagam
Laporan Nadia Atika, Mahasiswa Untara Medan

Medan(Pelita Batak): Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) bekerja sama dengan British Council, Kementrian Agama Republik Indonesia  dan difasilitasi oleh Universitas Negeri Islam Sumatera Utara Medan, menyelengarakan Lokakarya Pengayaan Wacana Agama dan Keberagaman, dengan Tagline: Rukun, Ragam, Sepadan. 

ICRS itu sendiri adalah konsorsium tiga Universitas di Yogyakarta, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana, yang menyelengarakan kajian antar agama (Intereligious Studies) dan isu-isu sosial budaya yang berkaitan dengan agama. Sementara British Council adalah lembaga sipil Internasional yang memberikan perhatian besar pada pengembangan budaya dan pendidikan di seluruh dunia.

Lokakarya sehari ini diselenggarakan di Medan pada hari Rabu tanggal 6 September 2017 di Gedung Haji Anif, JL.IAIN, No.1,  Medan, melibatkan kurang lebih seratus peserta yang terdiri dari penyuluh agama di lingkungan Kementerian Agama, Guru Agama, perwakilan-perwakilan Lembaga Pemerintah, Lembaga Keagamaan, Akademisi, Organisasi Massa, Lembaga Swadaya Masyarakat, Perwakilan Kaum Muda, dan Lembaga Masyarakat sipil Lainya. 

Program ini diselengarakan di 6 kota di Indonesia yaitu Medan, Pontianak, Bandung, Ambon, Manado, dan Ruteng. Keenam kota ini mewakili kekhasan dalam hal demografi penganut agama maupun keragamannya. Dalam penyelengaraan seluruh program ini, ICRS dan British Council senantiasa bekerja sama dengan kantor wilayah kementerian agama, pemerintah daerah dan mitra-mitra lokal lainnya yang dianggap lebih paham soal dinamika setempat.

Acara yang dimulai dari puku 09.00 WIB ini dibuka secara resmi oleh Prof.Dr.H.Amroeni Derajat selaku wakil Rektor UINSU dan diisi oleh 3 pemateri di antaranya Prof.Dr.M.Machasin utusan dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta,Prof.Dr.Bernard Adeney-Risakotta utusan dari Indonesian Counsortium for Religious Studies (ICRS Yogyakarta) dan Prof.Dr.Syarin Harahap, M. Ag. Utusan dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan.

Tujuan penyelengaraan lokakarya adalah memperkuat dan memperkaya kesadaran, nilai-nilai keterbukaan, pengertian, toleransi, dan interaksi di antara komunitas keagamaan. Juga aktivitas ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan menciptakan ruang belajar bersama pemerintah, akademisi, dan elemen-elemen masyarakat lokal untuk membangun agenda-agenda keadilan sosial, sehingga dapat menjadi penyokong pembaruan kebijakan, dalam rangka menjamin keselarasan hubungan antar manusia. 

Tagline Rukun, Ragam, Sepadan merangkum 3 semangat yang menjiwai yaitu harmoni antar beragama, Multikulturalisme, dan keadilan sosial. Lokakarya ini juga memanfaatkan mommentum perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 72 yang diberi tema, "Kerja Bersama" dimana hal itu merupakan dorongan untuk memanfaatkan keberagaman sebagai aset dalam memperkuat persatuan dan membangun bersama menuju bangsa Indonesia yang lebih baik tanpa diskriminasi dan saling menghargai.

Diyakini bahwa indonesia memiliki "DNA" keberagaman yang saat ini perlu diperkuat dan diperkaya. Terjadi pergeseran yang masif ditengah masyarakat dengan wacana transnasional, mulai berkembangnya budaya digital, dan tantangan-tantangan lainnya, karena itu istilah "pengayaan" dalam hal ini adalah upaya untuk senantiasa menjadikan diri relavan dengan perkembangandan dinamika bermasyarakat majemuk dalam konteks kekinian.

Dampak dari program ini diupayakan optimal. Peserta diharapkan mengalami pengayaan wacana, keterbukaan wawasan keragaman, membangun penghargaan akan perbedaan, dan memperkuat kemmauan untuk bersama-sama memilhara kekayaan wacana keagamaan. Seratus  orang peserta ini diharapkan dapat menjadi seratus agen perubahan bagi lingkungan tempat mereka bekarya, sehingga memperbesar harapan terwujudnya cita-cita nasional bangsa ini.(*)
  BeritaTerkait
  • Usai Ikat Kerjasama, Ephorus Berikan Kuliah Umum di Universitas Islam Negeri Banda Aceh

    tahun lalu

    Banda Aceh (Pelita Batak):Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar - Raniry Banda Aceh bertempat di Gedung Museum UIN Ar -

  • Pendidikan yang Berbudaya Lokal

    4 tahun lalu

    Mengingat masa lalu untuk memetik sejumlah pelajaran kemudian menjadikannya bekal dalam upaya meningkatkan kualitas hidup merupakan tindakan bijak dari seseorang yang  menginginkan masa depan.

  • Wabup Agara Sambut Rombongan YSKI di Ruang Kerja

    3 tahun lalu

    Kutacane (Pelita Batak) : Wakil Bupati Aceh Tenggara, H Ali Basrah menyambut hangat kedatangan rombongan Yayasan Surya Kebernan Internasional (YSKI) yang dipimpin Dr RE Nainggolan MM selaku pembi

  • NKRI Sudah Final, Penyeragaman Tidak Relevan

    3 tahun lalu

    ~Oleh:  Dr Bernard Nainggolan, SH, MH, Ketua Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKISEBAGAI warga negara, kita sangat konsern terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan men

  • Mengenakan Busana Batik Medan Dengan Peserta Terbanyak

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Karnaval  Budaya yang digelar Pemko Medan  melalui  Dinas Pariwisata Kota Medan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-424 Kota Medan berlangsung meriah, Minggu (16

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb