KSP Makmur Mandiri
Kamis, 08 April 2021 21:44:00

Usul dan Saran Bukanlah Bully

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
ADA sahabat mengirimkan via WA menyangkut IAKN dan UNTARA seperti ini: “Yusuf Leonard Henuk – Penulis. Sayang sekali Prof. Marlon Sihombing yang merupakan Guru Besar andalan Bupati Taput sudah terima honor lalu menghilang & Bupati Taput yang malah di-bully ramai-ramai, karena proposal Prof. Marlon Sihombing justru abal-abal tapi Bupati Taput nekad kirim ke Presiden Jokowi 28 Januari 2021.”

Postingan itu saya terima 3 April lalu jam 09.52, saya telusuri dan   temukan bahwa Prof. Yusuf Leonard Henuk adalah yang amat sangat terpelajar Guru Besar USU bersama-sama dengan yang amat sangat terpelajar Prof. Marlon Sihombing guru besar pada perguruan tinggi yang sama.
Membaca postingan Prof. Henuk tersebut saya merasa perlu untuk memberikan tanggapan agar tidak ada prasangka negatif di antara pendukung IAKN Tarutung menjadi UNTARA dan yang menginginkan agar IAKN Tarutung menjadi Universitas Kristen Negeri (UKN) Tarutung atau paling tidak sebutan Kristen itu tidak dihilangkan.

Kita berterimakasih kepada yang amat sangat terpelajar Prof. Yusuf Leonard Henuk yang memberi perhatian atas IAKN Tarutung yang seolah bagi sebagian orang dianggap seperti anak yang tidak diharapkan kelahirannya, sehingga perlu dioperasi atau dengan jalan apapun sehingga sesuai kehendak “pemegang kekuasaan”.  Perhatian itu tercermin dari postingan diatas yang menurut teman dimuat  di group facebook Menuju Tapanuli Utara. Namun ada yang perlu diluruskan agar tetap terpelihara suasana kekerabatan di antara kita serta semua tetap berpegang pada nilai-nilai  demokrasi.     

Oleh karenanya, menurut hemat saya kata-kata .....Bupati Taput yang malah di-bully ramai-ramai,....tidak pada tempatnya atau kurang cocok, sebab berbeda pendapat, mengajukan usul dan saran bukanlah mem-bully, lagi pula kalau mau menggunakan kata “bully” justru IAKN Tarutung-lah yang dikerdilkan, seolah-olah tidak membawa perbaikan bagi Tapanuli Utara, kurikulumnya tidak cocok, alumninya sudah jenuh karena setiap gereja telah memiliki sekolah untuk mendidik Guru Agama dan Pendeta, dan bahkan ada yang menyebut mubazir.

Sebagai orang yang secara terbuka melalui tulisan maupun keterangan agar Pemkab Taput Mengkaji Ulang rencana transformasi itu, sama sekali tidak ada niat mem-bully,  sebab tidak ada kepentingan langsung atau tidak langsung dengan eksistensi IAKN Tarutung, namun sejak keterangan Bupati di media yang panjang lebar hanya untuk menyatakan keinginannya agar Taput memiliki universitas negeri, dan untuk cepat terwujudnya keinginan itu adalah dengan transformasi IAKN Tarutung dengan berbagai argumentasi dan ditambah analisa dengan suatu penelitian yang ternyata dibuat Tim pimpinan yang amat sangat terpelajar Prof. Marlon Sihombing, lalu berbagai pihak mendukung rencana tersebut dengan mengerdilkan arti IAKN Tarutung.

Singkat kata tidak ada niat untuk merendahkan yang terhormat Bupati Taput, tetapi sebagai warga negara dan terlebih warga gereja, kita ingin mengingatkan saja, apa tidak ada cara lain mengapa harus menempuh jalan pintas yang artinya tidak peduli pagar dan hak-hak pihak lain, pokoknya tercapai tujuan.

Keterangan yang terhormat Bupati, maupun yang amat sangat terpelajar Prof. Marlon Sihombing membawa kekuatan politik dan ketua-ketua lembaga tinggi negara seperti Ketua MPR RI dan Ketua DPD RI dan hanya menunggu Ketua DPR RI dan Presiden, rasanya ibarat menggunakan “golok mengiris bawang”, bawangnya hancur dan tangan akan terpotong.

Kalau para pendukung transformasi mengajukan argumentasi serta analisa, menurut hemat saya tidak salah kalau argumentasi dan analisa itu ditanggapi orang lain apalagi menyangkut nurani dan naluri ke-Kristen-an. Artinya tidak ada yang di-bully ataupun yang mem-bully, sebab tidak mungkin orang rendahan mem-bully orang besar, karena semuanya masih dalam rangka usul dan saran yang juga argumentatif dan analitis, walaupun tidak sekaliber  proposal buatan Tim pimpinan yang amat sangat terpelajar Prof. Marlon Sihombing yang tentu makan waktu dan biaya tinggi.

Tentang isi postingan Prof. Yusuf Leonard Henuk selebihnya, seperti .... Prof. Marlon Sihombing yang merupakan Guru Besar andalan Bupati Taput.......kita tidak tau, walaupun dari Surat Bupati ke Presiden dilampirkan Proposal hasil Tim Prof. Marlon Sihombing, itu sah-sah  saja. Tentang kualitas dan keakuratan proposal itu biarlah Presiden yang manilai, disetujui atau tidak. Walaupun proposal itu  ada yang kurang tepat. Memberi contoh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Suska Pekanbaru menjadi Universitas Islam Negeri Pekanbaru, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STIAN) Malang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, tetapi mengapa proposal itu tidak mengupayakan IAKN menjadi UKN seperti kedua contoh di atas?

Dalam surat Bupati Taput ke Presiden juga sama sekali tidak menyinggung transformasi IAKN menjadi UNTARA, namun memohon agar disetujui Tapanuli Raya mendirikan  Universitas negeri, sebab dukungan berbagai pihak dan kalangan sebagai kekuatan politik sudah menyetujui.

Karena sudah berjalan biarlah berproses, tetapi sebagai pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab, adalah mulia meninjau kebijakan yang ditempuh dengan kesadaran bila kebijakan itu melukai hati banyak orang. 

Kita menghormati Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang membatalkan Telegram Kapolri yang  mengatur tentang pelaksanaan peliputan bermuatan kekerasan/dan atau kejahatan dalam program siaran jurnalistik.

Dalam hubungannya dengan upaya dan usul transformasi IAKN menjadi UNTARA juga tidak ada salahnya ditinjau kembali, dengan memberikan penjelasan kepada Presiden.
Perlu diingat Perpres No. 10 Tahun 2018 tentang IAKN Tarutung dalam pertimbangannya menyebutkan: “Menimbang: bahwa dalam rangka memperluas rumpun ilmu Agama Kristen dan memenuhi tuntutan perkembangan  masyarakat, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Institut Agama Kristen Tarutung;”

Sebab kita yakin Ketua MPR dan Ketua DPD pasti tidak tega mengingkari Perpres No. 10 Tahun 2018, apalagi Presiden tidak mungkin mencabut "tunas" yang sudah  ditanam dengan mencabut Perpres tersebut. Artinya janganlah didorong-dorong Presiden untuk  mencuci tangan seperti ketika Yesus diadili.
Salam Paskah.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakrta.
  BeritaTerkait
  • Kata Sambutan Bachtiar Sitanggang Pada Peluncuran Buku 'RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON'

    8 bulan lalu

    UBHARA JAYA BEKASI (Pelita Batak):Horas. Selamat siang, Selamat Hari Minggu.Atas nama Tim Penulisan Buku TAROMBO RAJA SITEMPANG ANAK NI RAJA NAI AMBATON mengucapkan terimakasih atas perkenan Bapak-bap

  • Buku "Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja Nai Ambaton" Diluncurkan di Pangururan

    6 bulan lalu

    Pangururan (Pelita Batak):Buku 'Tarombo Raja Sitempang Anak Ni Raja  Nai Ambaton" diluncurkan di Hotel Sitiotio, Pangururan, Kabupaten Samosir, Sabtu, 10 Oktober 2020. Buku yang disusun

  • Pamingkirion tu Parsiranggutan di Ekklesiologi HKBP di Rapot Pandita HKBP Oktober 2017

    4 tahun lalu

    I. Pamuhai Di Sinode Godang HKBP September 2016 na salpu, ruas ni sinode do ahu songon Plt. Direktur Sikkola Pandita. Disi tangkas do soara ni bahat parsinode asa diamandemen sistem pamil

  • Panitia Hari Ulos Berdiskusi dengan Prof Robert Sibarani

    5 tahun lalu

    Prof Dr Robert Sibarani mengapresiasi upaya yang dilakukan Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos untuk mengajukan 'ulos' yang telah menjadi Warisan Budaya tak Benda nasional menjadi warisan budaya dunia yang terdaftar di UNESCO. Menurut Direktur

  • Menelusuri Liku-liku Jalan di Bonapasogit dan Merajut Semangat Leluhur

    4 tahun lalu

    Pulang ke kampung saya, Sigolang di lereng pebukitan Bukit Barisan di deretan Tapanuli Selatan sangat berkesan. Keberangkatan kali ini, diawali dihari Kamis, tanggal 27 April 2017 dengan bangun san

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb