KSP Makmur Mandiri
Minggu, 02 Mei 2021 15:10:00

Tungkot Tunggal Panaluan

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak

TEKNOLOGI informasi dan komunikasi membuat hidup “serba” cepat, lebih cepat dari api di musim kemarau merambah ilalang kering. Demikian juga ulasan tentang Tongkat (tungkot) Tunggal Panaluan yang katanya diserahkan dalam acara syukuran pelantikan Bupati/Wakil Bupati Samosir, sebagai bagian dari perangkat pakaian Adat Batak oleh Tua-tua Masyarakat.

Tungkot Tunggal Panaluan (TTP) merupakan bagian perangkat pakaian kebesaran, terus terang saya kurang memahami, karena terjadi diskusi panjang terpaksa saya telusuri.

Berawal dari banyaknya komentar di facebook grup par Samosir, yang dimasukkan teman ke grup WA terbatas kami. Bunyinya begini :  Motto Vantas dengan istilah "Perubahan" hari ini  sudah dibuktikan paling tidak untuk 2 hal, apa itu?

1. Di tengah pemerintah pusat sedang ketat-ketatnya  melarang mudik dan melarang membuat keramaian untuk menghindari malapetaka seperti di India, Kabupaten Samosir justru membuat perubahan yaitu dengan sengaja menciptakan keramaian dengan mengadakan acara syukuran bupati dan wakil bupati baru di kompleks kantor bupatinya. Muantab bro.

2. Pasahathon Tunggal Panaluan tu doli-doli na so hot ripe dope. Adat na napinungka ni ompungta  sijolo-jolo tubu, nunga diparsulampak be....dang hea dope Ompungta mangajarhon tu hita naumposo dilehon Tungkot Tunggal Panaluan dohot Hoba-hoba tu naso marhasohotan, manat hita hamu ale angka dongan.

Naung masa do sisongon on amang akka pengurus ni FKTM? Naung gabe andor sipaihut-ihuton nama napinamasa na on? Manat hamu oppunge unang tartuktuk.

Komentar di atas yang dipermasalahkan dua hal yaitu: kaitannya dengan prokes memutus penyebaran covid-19, dan kedua: TTP mengapa diberi kepada orang yang belum menikah (na so hot ripe). 

Saya tertarik tentang hal yang kedua, apa itu Tungkat Tunggal Panaluan dan makna serta penggunaannya.

Saya sedikit takut terhadap budaya yang bernuansa mistis dan magic, sebab dari kecil saya dicekoki oleh hal-hal kekuatan na so niida (yang  tidak nampak) seperti “begu, sombaon/hantu dan ini itu” di kampung. 

Saya mencoba mencari tahu, apa itu TTP, dalam foto kunjungan Presiden Jokowi ada juga terlihat memegang tongkat, apa itu TTP, tidak tahu. Saya lupa apakah Presiden Soeharto ketika Jubileum HKBP di Sipoholon Tarutung, lupa saya apa juga diberi tongkat.

Keingin tahuan saya muncul dan saya temukan di internet dalam situs “TB Silalahi Centre” menyebutkan: “Tongkat berkekuatan magis ini biasa terbuat dari kayu tada-tada atau jior, diukir berbentuk manusia, cecak, ular, kalajengking dan binatang berbisa lainnya, dengan bentuk bertumpuk satu sama lain dengan bagian atas diberi rambut atau bulu ayam.” Tunggal Panaluan disebut tongkat sakti yang mampu menjadi penolak bala dan digunakan pada beragam ritual kepercayaan tradisional Batak maupun pada ritual magis lainnya.

Di Wikipedia bahasa Indonesia memuat: "Tunggal panaluan adalah tongkat kayu yang digunakan oleh datu, dukun Batak di Sumatra Utara. Tongkat ini dibuat dari kayu pohon trengguli wanggang yang memiliki daya mistis bagi orang Batak. Tongkat ini diukir dengan rupa manusia atau binatang yang masing-masing berdiri di atas yang lain, berhubungan dengan kepercayaan Batak. Tunggal panaluan digunakan dalam upacara adat untuk mengusir bencana atau juga mendatangkannya. Untuk menghasilkan kekuatan mistis, datu membuat lubang di tongkat dan menambahkan ramuan yang disebut pupuk. Salah satu material pupuk adalah sisa-sisa tubuh anak yang dikorbankan.”

Terdapat variasi tongkat, salah satunya adalah tungkot malehat yang digunakan oleh orang Karo. Tongkat ini juga digunakan dalam tari tortor tunggal panaluan yang dibawakan oleh para dukun.

Berikutnya ada cerita panjang, saya temukan di Go. BATAK.Com., asal-usul Tungkot Tunggal Panaluan:  “Kisah singkat tentang asal mula Tungkot Tunggal Panaluan.  Zaman dahulu di huta Sidogordogor Pangururan tinggallah Guru Hatahutan dan istrinya Nasindak Panaluan. Dikaruniai linduak (=kembar) laki-laki dan perempuan (marporhas-pen).

Dinamailah anak laki-laki Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu Siboru Tapi Nauasan. Waktu berlalu anak itupun tumbuh dewasa, tanpa disadari kedua anak itupun timbul rasa saling mencintai dan sangat akrab sekali dan selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. 

Suatu ketika mereka pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar bersama seekor anjing. Dikesunyian tumbuhlah rasa cinta akhirnyapun mereka melakukan hubungan seksual. Setelah itu Siboru Tapi Nausan melihat buah dari pohon Si Tua Manggule dan meminta saudara kembarnya Si Aji Donda Hatautan agar mereka makan. Si Aji Donda Hatautan memanjat pohon itu dan memakan buahnya, tiba-tiba saat itupun melekat pada pohon itu dan tidak bisa bergerak kemudian Siboru Tapi Nausan ikut memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya akhirnya keduanya pun lengket di pohon tersebut. 

Anjing pulang ke huta (kampung) untuk memberitahukan kejadian tersebut. Akhirnya datanglah orangtuanya bersama dengan Datu (orang sakti) untuk melepaskan mereka dari pohon tersebut. Guru Guta Balian bersama empat orang Datu yang lain berusaha untuk melepaskan anak kembar itu namun sia-sia. Bahkan merekapun ikut melekat pada pohon Piupiu Tunggale tersebut dan meninggal di pohon itu. Atas kejadian tersebut diukirlah patung tongkat untuk mengenang kejadian tersebut. Mitos ini adalah sebagai bentuk pengajaran turun temurun buat suku Batak khususnya agar menghargai Tona/saran orangtua.  (sumber: VCD Asal Mula Tungkot Tunggal Panaluan-oleh: Prof. M. Sorimangaraja Sitanggang sebagai penulis naskah & sutradara).

Di bawahnya ada juga uraian dari Sahala Sianturi yang  antara lain menguraikan:  Nama tunggal panaluan berarti dipersatukan untuk mengalahkan siapa saja dan dukun mana saja. Setelah tidak diketahui lagi bagaimana membuat tukkot sialagundi maka oleh beberapa mangaraja yang sudah memeluk agama parmalim meminta kepada para dukun turunan ilmu Mesir membuat satu tukkot yang dapat menyamai sialagundi. Untuk itu harus dibuat sembilan (SIA) kekuatan yang ada di dalam tukkot baru ini. ....... namun tidak pernah rampung. Tetapi di akhir ulasannya disebut: Tukkot tunggal panaluhan dibuat sebagai alat pembunuh tetapi tidak pernah kesampaian.

Semakin kurang jelas bagi saya apa makna dari TTP itu, ya namanya MITOS, terserah kepada masing-masing menyikapinya.

Apakah ada manfaat  dan makna TTP, biarlah yang berkepentingan mengetahuinya. 

Yang membuat bulu kuduk berdiri adalah membaca keterangan: “Untuk menghasilkan kekuatan mistis, datu membuat lubang di tongkat dan menambahkan ramuan yang disebut pupuk. Salah satu material pupuk adalah sisa-sisa tubuh anak yang dikorbankan.”

Saya berpikir, bahwa TTP yang bermanfaat adalah yang asli, kalau itu pernah terjadi, sementara yang ada sekarang hanya simbol “gagah-gagahan aja” artinya kekuatan magis dan mistisnya tidak ada lagi.

Tetapi mengikuti pendapat di atas, di mana pembuatannya saja “mengorbankan anak”, masihkah kita perlu menggunakan simbol-simbol mengerikan itu? 

Mungkin Praeses HKBP Distrik VII Samosir Pdt. Rein Justin Gultom, S.Th., MA, yang hadir pada acara syukuran itu dapat menjelaskannya. 

Selamat bagi masyarakat Samosir: Siapa yang memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

  BeritaTerkait
  • Letjen TNI Hinsa Siburian Dibulang-bulangi

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Syukuran anak berprestasi marga Siburian dilaksanakan di Maria Convension Hall Kelapa Gading Minggu, 5 Agustus 2017. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan kebaktian. Hinsa Sibur

  • Marandus Sirait : Hutan Kemasyarakatan Memerlukan Kerjasama

    5 tahun lalu

    Keberhasilan pengelolaan hutan kemasyarakatan memerlukan kerjasama dengan barbagai pihak sehingga tujuan akhirnya berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dicapai.

  • Asal Muasal Sigalegale, Patung Penari dari Tanah Batak

    5 tahun lalu

    I. Pendahuluan   Tapanuli sebagai kampung halaman suku Batak memiliki berbagai cerita rakyat sebagaimana cerita rakyat yang dimiliki suku-suku lain di Indonesia.  Berbagai peristi

  • Xanana Gusmao Diangkat Jadi Sesepuh Orang Batak

    5 tahun lalu

    Presiden pertama sekaligus Bapak Pendiri Timor Leste, Xanana Gusmao menyampaikan penghargaan terhadap keberadaan dan peranan para perantau etnis Batak di negara yang pernah menjadi bagian dari Republik Indonesia itu. Hal tersebut disampaikan dalam pertemu

  • Resmi Dilantik, Ketua Umum Punguan Raja Siagian dohot Boruna Se-Jabodetabek Harap Pengurus dan Ruas Kompak

    2 bulan lalu

    Jakarta (Pelita Batak):Dalam acara Pelantikan Ketua Umum dan Pengurus Punguan Raja Siagian Dohot Boruna (PRSB) Se-Jabodetabek periode 2021-2024, Sabtu (27/03/2021), di Gedung Kartika, Graha Zeni Angka

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb