KSP Makmur Mandiri
Rabu, 23 Juni 2021 10:55:00

Sumut Jadi Barometer?

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak
Bachtiar Sitanggang

ADA pameo di era Orde Baru yang menggelitik, percaya atau tidak urusan lain. Namanya saja pameo, bergantung pada yang menanggapinya. Yaitu, kalau seorang pejabat berhasil dari Medan, Sumatra Utara, maka dia akan berhasil di mana-mana. Artinya tingkat nasional. Berhasil tentu dapat mengendalikan diri dan mampu menyelesaikan persoalan.

Mengapa? Karena di benak banyak orang, Medan itu miniatur Indonesia, segala suku-bangsa, aliran dan golongan lengkap di sana. Segala sumber kebaikan dan sebaliknya goda-menggoda tersedia. Maka ada julukan “Ini Medan Bung” dan “Semua Urusan Mesti Uang Tunai-SUMUT” ditambah lagi “ Siantar-Man”. Mohon maaf, ini di era Orde Baru, sekarang sudah reformasi, jadi tidak perlu ada yang tersinggung, hanya mengenang masa lalu saja. 

Keberhasilan pejabat dari Medan-Sumatra Utara itu berawal dari Kepala Daerah Kepolisian (Kadapol-sekarang Kapolda) Brigjen Pol Drs. Widodo Budidarmo, dan Panglima Daerah Militer II Bukit Barisan Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo. 

Contoh saja dalam pameo tersebut,

Widodo di akhir masa baktinya mencapai puncak karier sebagai Kapolri sementara Sarwo Edhie hanya sebagai Kepala BP-7 Pusat, memang sama-sama tingkat nasional. Padahal Sarwo Edhie adalah tokoh penting dalam memadamkan Gerakan 30 September (G-30-S/PKI). Tapi dia dari Medan justru dipindah ke Pangdam XVII/Cenderawasih di Jayapura.  

Alasannya adalah urusan Panglima ABRI dan Presiden tentunya, namun yang menjadi perhatian masyarakat waktu itu adalah perintah sang Pangdam (katanya, karena saya waktu itu masih SMA di Pangururan Samosir), memerintahkan supaya ditutup kedai tuak (nira-yang disadap dari enau/kelapa-saguer di Manado) sore hari-menjelang malam. 

Karena kebiasaan kalangan bapak di daerah itu adalah nongkrong sambil minum tuak di kedai.

Konon, kedai memang ditutup namun para bapak-bapak penggemar tuak itu malah menggelar tikar di halaman. Mungkin sang jenderal “marah” dengan pembangkangan masyarakat lalu timbullah gejolak. Itulah sekelumit pameo itu.

Sengaja disinggung hal tersebut melihat kesuksesan atau kegagalan pejabat seperti pameo di atas, namun melihat kembali tingkat kejahatan dan pelanggaran hukum di Medan dan sekitarnya.

Melihat kondisi penegak dan penegakan hukum di Sumatra Utara, yang penting dicermati, yaitu: peristiwa tertembaknya Pemimpin Redaksi "Lassernews today" Mara Salem Harahap; Bripka LA yang diduga mengatur per-joki-an 28 calon siswa Bintara di Polda Sumut; dan Petualangan buronan Adelin Lis yang baru dideportasi dari Singapura, menjadi tugas berat dari Kapolda Sumut Irjen Panca Putra Simanjuntak.

Pertanyaan mendasar, betapa hebatnya seorang Bripka LA bisa mengkoordinasikan per-joki-an sampai 28 calon siswa Bintara dengan mendatangkan joki-joki dari Jakarta, Bandung dan lain-lain? Begitu hebatnyakah Polri/Polwan kita seorang Bripka dapat melakukan itu? Di era Presisi: prediktif,  responsibilitas dan transparansi yang dicanangkan Kapolri Listyo Sigit Prabowo saat ini masih ada seperti itu? Kalau per’-joki-an itu dilakukan seorang diri oleh Bripka LA, walaupun menempuh jalan yang keliru pantas diacungkan jempol kepada oknum LA. Tetapi, masyarakat tidak yakin itu “pemainan seorang diri”, tantangan bagi penegak hukum di Poldasu, bila perlu “amputasi”. Apakah per-joki-an itu pertama kali atau bahkan telah berkali-kali? 

Kalau hal-hal seperti itu tidk dikikis habis, Polri tentu telah dapat memprediksi bagaimana nanti kalau orang-orang yang lolos karena joki, bagaimana di lapangan. Dan yang perlu dikasih penghargaan kepada calon siswa yang memberi informasi dalam “membersihkan” Polri dari borok dan parasit seperti LA. Rakyat tentu menunggu.

Ditembak atau terbunuhnya wartawan Mara Salem Harahap dugaan sementara penyebabnya adalah pemberitaan tentang kejahatan dan markoba. Sungguh mencengangkan, hari gini masih ada yang bersifat kejam dan keji menghadapi wartawan. Masih menunggu hasil penyidikan Polri, terutama senjata yang digunakan pelaku. Siapa pelakunya, senjata gelap atau milik petugas, sejauh mana peredaran senjata gelap di masyarakat dan mengapa sekejam itu? Kalau karena pemberitaan, tentunya karena kenyamanan pelaku terusik melakukan kejahatannya karena pemberitaan, dengan kata lain, pelanggaran hukum yang dilakukan pelaku itu tidak terdeteksi penegak hukum kalau tidak ada si wartawan. Kurang lebih begitu. Oleh karenanya sang pembuka kejahatan harus “dihabisi”. Tantangan juga bagi Polri.

Secara khusus kasus Adelin Lis, ada yang menengarai modus baru para buronan korupsi, yang kabur ke luar negeri beberapa tahun, dengan mengupayakan “jaringan pengaman” di dalam negeri. Setelah dapat diatur semua “perangkat” yang perlu baru “menertangkapkan diri” di Malaysia atau Singapura mungkin juga di negara lain. Bagi yang bisa memiliki paspor lain (baru) bisa keluar masuk Indonesia, ingat Djoko Sugiarto Tjandra(?). Dugaan lain, ada juga buronan “menertangkapkan diri” ke otoritas negara lain supaya dideportasi ke Indonesia. Dan di Indonesia dieksekusi sesuai hukuman peraturan yang berlaku dia sudah bebas mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Sebab syarat PK harus dihadiri langsung oleh pemohon. Kaena sudah di-setting sebelumnya, muluslah pengurangan hukuman atau bahkan pembebasan dari tuntutan hukum.

Namanya dugaan, susah dibuktikan, demikian juga dengan masalah hukum sekitar Adelin Lis menjadi tugas Poldasu serta penegak hukum di daerah itu, termasuk Kemendagri tentang KTP dan masalah paspor dengan nama lain. Masyarakat mungkin bosan menunggu penyelesaian hal-hal seperti itu sebagaimana pembuatan KTP Djoko Sugiarto Tjandra, sudah tidak ada beritanya. 

Mungkin semua memaklumi itu masalah teknis, cukup dengan tertangkapnya sang buronan sebagai prestasi padahal mungkin saja dalam skenario. 

Selamat bekerja Pak Kapolda Sumut Irjen Pol. RZ Panca Putra Simanjuntak.***

(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)

  BeritaTerkait
  • Sumut Terpilih Jadi Ikon Inacraft 2018

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Sumatera Utara terpilih menjadi ikon Inacraft ke-20 tahun 2018. Even pameran yang selalu dinantikan oleh pelaku industri kreatif sektor kerajinan ini diharapkan dapat mem

  • Irwan Parlaungan Batubara : Masyarakat Jangan Terpengaruh Isu Hutang Indonesia

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Upaya Pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan mulai dirasakan hasilnya. Sumatera Utara sebagai barometer pembangunan Indonesia bagian Barat menjadi salah satu fokus pe

  • Sihar: Sumut Butuh Energi Anak Muda

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara Sihar Sitorus menilai kawula muda sebagai barisan terdepan dalam memberikan sumbangsih bagi kemajuan dan perkembangan provinsi ini me

  • Djarot-Sihar Ingin Jadikan Medan dan Deli Serdang Benteng Pertahanan

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara, Sihar Sitorus berkeinginan membangun benteng pertahanannya di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Hal itu untuk mendulang suara dan memenan

  • Dosen Fisip USU: Publik Meragukan Hasil Survei CEPP Fisip USU

    3 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):Adanya perbedaan hasil survei dari sejumlah lembaga dalam jelang pemungutan suara dalam Pemilihan Gubernur Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018 dinilai jangan sampai membingungkan pub

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb