KSP Makmur Mandiri
Jumat, 06 Maret 2020 06:53:00

Samosir dan Sampah

BAGIKAN:
ist
Bachtiar Sitanggang
Oleh Bachtiar Sitanggang

Saya mendapat kiriman via WA, video tumpukan sampah yang dikunjungi Komisi 3 DPRD Kabupaten Samosir di tengah hutan lindung pegunungan di tengah pulau itu. Biasalah kalau melihat yang lucu-lucu dan ada pula pejabat, saling sharing ke teman lain. Lempar tanggung jawab menyalahkan pihak lain dan akan di akankan sudah jamak termasuk menyalahkan rakyat, pada hal itu tanggung jawabnya. 

Teman itu putus asa, karena sudah bertahun-tahun berlangsung namanya sampah akan bertanbah terus walaupun di bakar, sebab plastik tidak bisa hangus terbakar bahkan menggumpal. Akan menumpuk setiap hari, sementara rakyat setempat tidak mampu dan berani protes, takut periuk nasinya direcokin, keluh teman itu. Saya pikir benar juga, di desa terpencil siapa berani ke Kepala Desa apalagi Camat dan Bupati?  Itulah, yang menggugah saya menuliskan masalah sampah ini. 

Sebenarnya malu hati membahas sampah lagi di ruangan ini, sebab itu menunjukkan bahwa orang-orang di daerah itu sepertinya tidak tahu "kebersihan", pada hal sejak PAUD sudah diajarkan bagaimana hidup bersih. Hanya orang dungu yang menumpuk sampah di ubun-ubunnya. Tempat penumpukan sampah Kabupaten Samosir itu ibarat ubun-ubun, kotorannya akan meleleh ke seluruh tubuh dan mata. Jadi masalah sampah  menyangkut harkat dan martaba. Bagaimana Pemerintah Kabupaten menumpuk sampah di gunung.

Kita iri memang melihat pemimpin seperti Walikota Surabaya, begitu ada virus Corona-19 di Wuhan, Tiongkok, sudah berupaya menyiapkan masker bagi warganya bila diperlukan,  sudah bertindak lho, bukan hanya memikirkan. Dia memikirkan bagaimana mengatasi terjadinya krisis, sementara di tempat lain menumpuk krisis. 

Kita juga iri melihat anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI yang berani mengatakan ya di atas ya, di Samosir mudah-mudahan ada seperti itu, tidak kekenyangan membuat lupa "hari sudah siang".
Kenapa saya bllang malu hati, sebab masalah sampah ini sudah saya selpkan dalam tulisan Surat Terbuka Kepada Presiden di ruangan ini Sabtu, 27 Juli 2019, yang sebagian isinya (tentang sampah): "Kalau Bapak melintasi jalan dari Tomok ke Pangururan via Ronggur ni huta, memotong Pulau Samosir, Bapak akan saksikan Samosir sebenarnya, temasuk hutan alam yang telah dirambah PT Inti Indorayon Utama dulu dan sekarang telah menjadi hutan eukaliptus, yang menurut para ahli, tidak lagi menyimpan air.

Kalau Bapak melintas dari tengah hutan itu, Bapak akan menyaksikan tumpukan sampah yang diangkut bertruk-truk setiap hari dari Pangururan   ke tengah hutan. Bagaimana daerah pariwisata sampah ditaruh di Pegunungan?"

Syukur juga walau baru sekarang viral dengan kunjungan anggota Komisi 3 DPRD tanggal 3 Maret 2020 lalu, mudah-mudahan nurani pejabat kabupaten masih ada, jangan-jangan tidak terpikirkan lagi menjelang Pilkada. Tetapi paling tidak yang terpilih nanti yang mau dan mampu mengelola sampah.. 

Mungkin tidak banyak yang sadar apalagi tahu bahwa pohon pinus yang ada di sekitar Danau Toba terjadi prose perubahan daun, dari hijau menjadi kekuning-kuningan lama-kelamaan menjadi coklat dan pada rontok.
Sudah beberapa waktu lalu dikeluhkan bahwa penyadapan getah pohon pinus diduga masyarakat sudah tidak terkontrol, oleh karena penyadapan getah pohon pinus itu berlebihan hampir melukai kulitnya dan karena telah berlangsung lama, maka sedikit demi sedikit pohon pinus itu tidak sehat.

Siapa yang mengeluarkan ijin penyadapan itu tidak tahu dan bagaimana pengelolaan serta hasilnya juga tidak jelas, sebab pengelola hutan  seolah berada dalam rimba raya juga. Benar atau tidak bahwa pohon pinus di sekitar Danau Toba menurut orang dengan jelas bisa terlihat, hanya saja karena sudah dalam proses berkepanjangan, sehingga dianggap seperto proses alamiah, pada hal itu akibat dari penyadapan-pengambilan getahnya yang tidak terkontrol, ujar seorang pemerhati.

Oleh karena itu, kunjungan anggota Komisi 3 DPRD Samosir ke hutan lindung tersebut juga disesalkan, mengapa tidak sekaligus memperhatikan tanaman pohon pinus? Seharusnya, saran teman itu, DPRD itu tidak hanya rapat dengar pendapat dengan pejabat, tetapi juga dengan masyarakat  di desa-desa.

Benarkah demikian, perhatian terhadap masyarakat Samosir tentangsampah dan pengelolaan hutan pinus yang berlebihan itu dan masalah lainnya mungkin  belum akan tertangani, menjelang Pilkada nanti. Mungkin akan menunggu siapa yang akan terpilih, jadi masih harus menunggu.***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.

  BeritaTerkait
  • Wisata Danau Toba di Bakara, Humbahas Masih Belum Tertata

    4 tahun lalu

    Bakara (Pelita Batak): Pemerintah sudah memutuskan penataan wisata Danau Toba dengan membentuk Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba (BOPKPDT). Seharusnya ini menjadi pendorong bagi

  • Opera Batak Turut Jaga Kebersihan Lingkungan di Balige Toba Samosir

    4 tahun lalu

    "Inilah karya nyata Opera Batak kali pertama, setelah didirikan bulan Mei 2016 lalu. Meskipun umurnya baru satu bulan lebih, kami sudah langsung menunjukkan identitas Opera Batak. Karena organisasi ini didirikan dari niat tulus, ikut membantu pemerin

  • Usai Sampaikan Dukungan untuk Jokowi di DPRD Sumut, Peserta Aksi N4J Kutip Sampah

    8 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Usai menggelar aksi di depan kantor DPRD Sumut, ratusan peserta aksi aksi damai Nusantara Untuk Jokowi (N4J) dengan tertib meninggalkan lokasi aksi dan membubarkan diri dengan ter

  • Libur Panjang, Balige Alternatif Kunjungan Wisata di Tobasa

    3 tahun lalu

    Balige (Pelita Batak) : Libur panjang akhir tahun, dalam perayaan Natal 2016 dan tahun baru 2017, kawasan danau Toba menjadi sarana pariwisata yang mumpuni. Diantaranya sejumlah objek wisata di K

  • Benarkah Dinas Pasar, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tobasa Tampung Dana Pemeliharaan 'Barang Rongsokan'?

    3 tahun lalu

    Tobasa(Pelita Batak): Sejumlah barang rongsokan berupa kendaraan truk pengangkut sampah yang 'terduduk'di Dinas Pasar, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Tobasa disebut-sebut  mendapa

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb