KSP Makmur Mandiri
Selasa, 26 November 2019 09:17:00

Rumah-Ku Rumah Doa

BAGIKAN:
Ist
Bachtiar Sitanggang
Oleh:Bachtiar Sitanggang

KABAR kali ini bukan kabar baik, tetapi sungguh memalukan dan menyedihkan. Memang hari Jumat lalu saya sudah diberitahu oleh seorang rekan advokat bahwa ada gejolak di suatu tempat peribadatan, dan berpotensi bentrok. 

Awalnya, lima tahun lalu seorang "gembala" muda 28 tahunan ditugaskan melayani di Jakarta, setelah lima tahun oleh sinode dipindahkan ke Medan dan penggantinya sudah ada, konon si"gembala" ini tidak mau alasannya surat perpindahannya tidak sah.

Lalu pimpinan sinode memperingatkan, sampai tiga kali, tetap tak digubris. Tidak jelas, apakah telah terjadi pengusiran dari rumah yang ditempati dan berupaya masuk lagi, sehingga petugas dari Kepolisian sampai turun tangan.

Belajar dari peristiwa yang terjadi di suatu gereja KayuTinggi, saya sarankan kepada rekan advokat ini pengalaman mengatasi masalah gereja dan atau huria. Bagaimana caranya? Tanya rekan itu. Saya bilang "unang tatambai dosa", yang artinya jangan kita menambah dosa. Ternyata, timbul pro-kontra atas perpindahan pendeta ini pada pertemuan di Polsek Menteng ada pihak pendukung yang mempertahankan sang pendeta ini, mungkin orang-orang yang berpengaruh atau yang merasa berjasa mendirikan tempat ibadah itu.

Mengantisipasi terjadinya kegaduhan ibadah Minggu, saya sarankan dua hal. Pertama, jangan sampai ribut, apalagi kontak fisik. Kedua, jangan "perang" terbuka. Sebab sungguh memalukan kalau sampai diketahui publik apalagi di era digital ini. Media sosial dengan mudah dapat dibaca oleh setiap orang. Rekan saya ini meragukan itikad baik pihak tertentu untuk menahan diri menyelesaikan secara baik-baik dan internal.
Sebagai kuasa hukum dengan prinsip "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" bisa memohon ke petugas keamanan untuk mencegah siapa-siapa yang berpotensi sebagai sumber keributan, sebab amat memalukan apabila sempat terjadi seperti peristiwa, seorang pendeta yang tidak diterima jemaatnya "ngotot" naik mimbar, lalu jemaatnya  yang "tidak takut" akan Tuhan menarik jubah sang pendeta sampai robek-terkuak.

Minggu siang jadwal kebaktian jam 09.00, molor sampai jam 11.00 dengan kesepakatan ke-2 belah pihak bahwa dua pendeta lama dan penggantinya (mungkin) tidak diperkenankan khotbah, dan diisi oleh "gembala" lain yang netral. Katanya, sempat terjadi kegaduhan di dalam maupun di luar gereja.
Senin malam, rekan teman bicara saya Jumat lalu itu mengirim video via WA, satu tayangan berita stasiun tv RCTI dengan menyebut "sengketa jabatan pendeta" dan TVOne menyebut "perseteruan pendeta". Saya kaget, ternyata publikasinya jauh lebih dahsyat dari apa yang saya khawatirkan, sebab tidak hanya medsos seperti WA,Youtube, ternyata sampai stasiun tv-umum.

Perasaan saya teriris kembali menyaksikan peristiwa yang menyabik-nyabik harkat dan martabat kita sebagai Orang Batak dan sebagai Kristen Batak. Kaum intelektual mempermalukan dirinya dan mewariskan hal-hal yang tidak pantas kepada anak-cucunya justru "di dalam dan dari rumah Tuhan". Tidak ada niat untuk mencampuri, tidak ada urusan pihak lain, akan tetapi sesame satu suku dan satu iman jadi terbawa perasaan, dengan pertanyaan "aha do Alana, dia do bonsirna, umbahen marsigulut pandita?" (apa alasannya, apa penyebabnya menjadi berebut pendeta?)

Menurut keterangan seorang ibu dalam video itu, "mungkin karena kepentingan ekonomi" saya tidak tahulah, kira-kira begitu sepenggal keterangannya.

Kalau gembalaan adu tanduk ada gembala yang melerai, tetapi kalau penggembala adu "ngotot" siapa mendamaikan? Sulit menjawabnya, mungkin itulah "penyaliban Kristus" untuk keduakalinya oleh para imam yang seharusnya mengajarkan kasih dan perdamaian, ternyata ada juga Yudas-Yudas Iskariot yang tergiur "faktor" ekonomi sebagai "penjual" Yesus zaman milenial.

Di era demokrasi yang seharusnya semua taat pada aturan, etika dan moral ternyata masih kental sifat "guru dokhu" (kehendakku-seenak dewe) oleh generasi feodal, pada hal para pengkhotbah sering berseru dari mimbar: "..Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi, kamu menjadikannya sarang penyamun" ("..Bagas partangiangan do bagas-Hu; hape gabe liang pandoboan do I dibahen hamu".)

Nasi jadi bubur, semua telah terjadi, kita berharap semua mengoreksi diri bila perlu memulai pertobatan, jangan menyalibkan Kristus terus-menerus.***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.
  BeritaTerkait
  • Wali Kota Canangkan Kampung KB Sehat Sejahtera Kota Medan 2016

    4 tahun lalu

    Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin S MSi mencanangkan Kampung KB Sehat Sejahtera Kota Medan tahun 2016 di Jalan Takenaka, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Selasa (10/5). Melalui program ini diharapkan dapat menggalakkan revolusi mental

  • Ini Dia 130 Perda yang Telah Dicabut di Sumatera Utara

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Pemerintah memberi perhatian serius terhadap peraturan daerah (perda) yang bertentangan dengan aturan yang di atasnya dan yang menghambat investasi. Telah dihapus 3.143 perda.

  • Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak

    3 tahun lalu

    Dalam membina keharmonisan suatu rumah tangga, perlu ada saling keterbukaan dalam sikap antara si suami dan istri, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari setiap pasangannya. Banyak yang mengatakan keluarga suku Batak terkenal dengan kesetia

  • 6 Lokasi Wisata Alam di Tanah Batak

    3 tahun lalu

    Sejumlah lokasi wisata terbaik di Tanah Batak, berikut ini bisa menjadi panduan bagi Anda yang ingin bepergian bersama keluarga atau teman-teman di sekitar Tanah Batak.

  • Warga Medan Harus Pakai Batik Medan & Songket Deli

    3 tahun lalu

    Seluruh busana hasil rancangan Hj Rita ini bisa diperoleh di Maharani Galeri Batik Medan dan Songket Deli. Tidak hanya busana batik Medan dan songket Deli, galeri ini juga memajangkan hasil produk unggulan UMKM Kota Medan, seperti kursi rotan, tutup lampu

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb