KSP Makmur Mandiri
Minggu, 18 Oktober 2020 14:41:00

Penggemukan Keluarga Dan Kroni

Oleh Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
SAYA hampir setiap saat “terganggu” sekaligus “terhibur” akibat ulah seorang teman, selalu dia mengirim WA dengan ide brilian, hampir semua masalah internasional, nasional dan lokal, terutama ketertinggalan Kawasan Danau Toba (KDT) termasuk patung Yesus di Sibea-bea, Harianboho, Samosir. Sayangnya patung itu lebih dominan untuk kepentingan wisatawan daripada iman.

Saya tergelitik sama teman satu ini, mau jengkel, geli, marah, sedih dan kesal tidak ada guna, karena memang  tidak ada alasannya. Akan tetapi apa yang dikemukakannya sulit untuk membantah sedikitpun.
Dia kirim WA: “Kita masih kelas marmahan (angon ternak)...anak SD Taiwan sudah sekolah di Amerika.

Kita masih main domino buka baju angkat kaki di lapo (warung)...dan sebagian asyik bahas togel (toto gelap)...orang lain sudah belajar extra keras.   Orang bule setiap minggu minimal baca satu buku. 

Jika kita tidak up-date pengetahuan maka kita tergilas. Orang Taiwan bisa buat jeruk manis yang kinclong yang menghadapi toko buah. Bangkok bisa ekspor aneka buah. Kita jengkol atau pote saja tidak swasembada.
Kita tidak mampu hasilkan sambal cabe padahal 7 (tujuh) miliar manusia di dunia butuh sambal. Kita tidak manfaatkan limbah organik jadi pupuk. Kita beli pupuk kimia.  Kita tidak punya ternak untuk sumber pupuk. Kita punya bukit tidak bisa kita buat jadi sumber rejeki.

Bahkan Danau Toba saja tidak bisa kita jaga kebersihannya. Kita tidak mampu menyuburkan Danau Toba. 

Orang Perancis datang ke Jawa Tengah berkebun kelor.  Kita masih santai ramal togel. Kita sibuk bahas Tarombo...(bagus juga) tapi kita semua tidak ada yang mampu memproduksi sanitizer yang diperlukan sedunia.

Kita tidak mampu juga rebut pasar herbal dunia. Kita biarkan tanah terlantar dan kita tidak mampu bertani dengan membuat pertanian dalam kantongan yang bisa diisi dengan kompos. Kita tidak mengerti suburkan tanah. Jerami pun kita bakar padahal bisa jadi pakan ribuan ternak.

Kita habiskan quota menonton youtube yang tidak memberi kita ilmu. Harusnya yang kita tonton adalah youtube yang bisa menambah wawasan ilmu bertani dan beternak dan youtube lain yang potensil, misalnya youtube pelajaran segudang ilmu. Ada matematika, bahasa asing dan sebagainya. Apa yang kita lakukan dalam keseharian kita..itulah yang membentuk kita. Apa yang kita rencanakan...itulah yang membawa kita.

Kita adalah  "Buku Apa Yang Kita Baca.” 

Terserah setuju dengan “ocehan” teman di atas, bandingkan saja  dengan kondisi masyarakat lingkungan hidup di KDT, uraiannya mungkin hasil pengamatan mendalam walaupun bukan hasil penelitian ilmiah.

Sengaja saya kemukakan “isi hati” teman itu, biar ada perenungan bagi warga KDT yang membaca, untuk sadar kita sekarang berada DI MANA.

Maju atau justru mundur seperti Dinas Pendidikan /Pemda (?) Samosir, justru menganjurkan anak-anak sekolah “sehari tidak makan nasi”, dan makan ubi. Kemajuan atau kemunduran?
“Celotehan” tersebut tidak ada unsur apa kecuali keprihatinannya sebagai anak KDT, bagaimana agar sudara-saudara yang tinggal di Bonapasogit mampu bersaing dan hidup diatas normal. Ada juga yang mengatakan bahwa keadaan sekarang sudah bagus, maju, benar maju dan bagus bila dibandingkan 30 tahun lalu. Bahkan ada yang mengharapkan “......janganlah cepat berlalu” terutama keluarga dan kroni pemilik kewenangan.

Mengikuti “celotehan” di atas, dapat kita permaklumkan, tanggung jawab siapa semua itu?

Di alam demokrasi tanggung jawab ada di tangan rakyat sebagai pemilih wakilmya di legislatif dan sebagai pelaksana pemangunan yaitu eksekutif (bupati/wakilnya).

Tentang pelaksanaan pembangunan di KDT, yang bertanggung jawab adalah rakyat, apakah telah memilih wakilnya orang-orang yang mampu merencanakan kebutuhan rakyat serta mampu mengawasi eksekutif. Apakah telah memilih bupati/wakil bupati yang baik dan benar? 
Baik dan benar dalam arti tahu dan telah melaksanakan amanat rakyat yang telah terbukti selama ini atau hanya melakukan “penggemukan keluarga dan kroni”.

Makanya dalam Pilkada mendatang kiranya masyarakat menggunakan hati nuraninya, jangan “menggadaikan” masa depannya apalagi selama lima tahun mendatang. “Ida-ida na bosur jora-jora na male”, “tarida do imbo sian soarana, tarida do ursa sian bogasna”.

Jadi “celotehan” teman di atas, barangkali dapat menjadi bahan renungan menjelang Pilkda di KDT, sekaligus menggugah rakyat untuk memilih pelaksana pembangunan yang berorientasi pada masyarakat tidak berpikir penggemukan keluarga dan kroni.

Selamat menggunakan hak pilih termasuk memilih Kolom Kosong.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.
  BeritaTerkait
  • Khotbah Evangelium Minggu XXIII Dung Trinitatis 19 Nopember 2017 Teks: Zephania 1: 7, 12-18 "Bersiaplah Menyambut Hari Tuhan"

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr Robinson Butarbutar, Parsamean STT-HKBP Pematangsiantar. 1.Bagi komunitas orang-orang yang percaya kepada Allah yang tidak hanya menciptakan umat manusia tetapi  juga menuntunny

  • Jokowi Pemimpin Fenomenal Era Milenia

    2 tahun lalu

    SEBUTAN pemimpin fenomenal era milenia bagi sebagian orang terlalu hiperbola dan berlebihan, apalagi bagi lawan politik kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 17 April 2019. Hal itu, sah-sah saja dan

  • Jokowi Sang Pendobrak Elite Politik

    2 tahun lalu

    DALAM berbagai kesempatan kampanye Prabowo Subianto sering mengucapkan kata-kata berang terhadap elite politik di Jakarta. Bahkan, Prabowo Subianto menuduh para elite politik itulah sumber kehancuran

  • Yasonna H Laoly Resmikan Gedung Amudi Pasaribu dan AE Manihuruk di Universitas HKBP Nommensen Medan

    5 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Menteri Hukum dan HAM RI, Yasonna H Laoly, MSc, PhD meresmikan penganugerahan nama dua buah Gedung Perkuliahan di depan Biro Rektor dan gedung yang menghadap ke Utara (Fa

  • Pemerintah Harus Serius Tangani Perikanan di Danau Toba

    5 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak):   Matinya ribuan ikan milik petani Keramba Jala Apung (KJA) di sentra budidaya ikan Haranggaol, Simalungun harus disikapi segera, bijak dan terpadu oleh Pemerint

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb