KSP Makmur Mandiri
Kamis, 09 Juli 2020 07:18:00

Pemimpin Yang Visioner

Oleh Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
ist
Bachtiar Sitanggang
Dalam tradisi Orang Batak, yang diikat struktur kekerabatan Dalihan Na Tolu, menganggap  Pemipin itu adalah orang yang pantas dituruti, mulai dari keluarga serta di masyarakat dan sering dipersonifikasikan sebagai Debata Na Niida (Allah yang kelihatan).
Sehingga pemimpin itu (biasanya dikemukakan kepada Hula-hula): di jolo si eahan, di tonga-tonga si haliangan dan di pudi si paimaon. Artinya di depan akan diloba, di tengah akan dikelilingi dan di belakang akan ditunggu. Di mana saja dan kapan saja akan membawa berkat.

Pemimpin sebagai orang yang dituakan dalam hidup dan kehidupan material dan spiritual, sehingga diharapkan harus member teladan  atau contoh: memberi prakarsa atau ide, serta memberi dorongan atau arahan.

Seperti semboyan Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantoro dan menjadi semboyan Kementerian Pendidikan Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karso, Ing Ngarso Sung Tulada. Artinya Tut Wuri Handayani   (dari belakang harus memberi dorongan dan arahan) Ing Madya Mangun Karsa (di tengah harus menciptakan prakarsa, ide dan membangun semangat) dan Ing Ngarsa Sung Tulada (di depan harus memberi teladan atau contoh (yang baik tentunya).

Pemimpin formal maupun informal seyogyanya seperti guru bahkan gembala: membawa dombanya ke rumput yang hijau dan air yang tenang (Mz 23:32); Pemimpin tidak buta mata dan nurani, ingat  "Dapatkah orang buta memimpin orang buta? Bukankah keduanya akan  jatuh ke dalam lobang?" Perumpamaan Yesus (Lks 6:39).

Menjadi Pemimpin dan guru, apalagi gembala tidaklah mudah, harus pintar, memiliki hati nurani dan mampu menyelami hati dan pikiran yang dipimpin. Menjadi pengajar dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa, harus menyatu dan tahu denyut jantung yang dipimpin.

Pemimpin Orang Batak jaman dahulu dikenal sebagai "Raja" baik itu Raja Huta, Raja Jolo, Raja Bius sebagai orang yang "paramak na so hea balun", "partataring na so hea mintap" "jala parsangkalan na so hea mahiang" artinya, pemilik tikar yang tidak pernah digulung, tempat menanak nasi yang tidak pernah padam dan talenan yang tidak pernah kering. 

Karena sering menerima tamu tikar tidak sempat digulung; selalu masak nasi untuk tamu api terus menyala dan talenan selalu memotong daging talenan tidak pernah kering.

Sang pemimpin harus teladan dan rajin bekerja dengan sawah ladang luas, ternak hewannya banyak sehingga dia bisa memberikan kesejahteraan kepada yang dipimpin dan tidak merugikan rakyatnya apalagi memeras. 

Pemimpin orang Batak jaman dahulu seperti kisah-kisah Alkibat pemimpin kemasyarakatan dan rohani, tempat mengadu dengan perangai dan perilakunya dan keluarga baik. 

Di era demokrasi ini adakah pemimpin seperti itu? Bisa saja, seperti Joko Widodo, dari Walikota, Gubernur sampai Presiden tergantung kepribadiannya, dipilih rakyat  mandiri mendahulukan kepentingan negara dan rakyat dari kepentingan pribadi dan golongan?

Pemimpin yang ideal dan visioner seyogyanya yang telah selesai dengan dirinya, artinya menerima apa adanya dan tidak ada apanya. Hidup dari jerihpayahnya bukan hasil keringat orang lain, tidak "makan semen",  "tidak makan pasir", "tidak memperdagangkan kewenangan",  dan tidak tidak yang laindan tidak merugikan keuangan negara. 

Pemimpin "yang telah selesai dengan dirinya" tentu tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, etika dan moral. Pemimpin harus mengeluarkan cost politics tetapi seyogyanya jangan money politics. Sebab yang main uang akan menjadi "buta" dan rakyatnya juga akan "buta" dan dua-duanya akan jatuh ke lubang kemiskinan dan keterbelakangan.

Di era demokrasi dengan segudang parpol ini, diberikan kesempatan kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya. Apakah rakyat sadar "mata guru, roha sisean" (apa yang dilihat mata adalah pelajaran dan apa yang baik itulah yang diperhatkan".

Menjadi tanggungjawab kaum intelektual untuk menuntun masyarakat agar tidak   salah pilih walaupun para meternya sulit, tetapi paling diupayakan agar yang terpilih orang yang tidak menggunakan uang sebagai sarana pemenangan.  

Bagi calon-calon pemimpin gunakan hati nurani dan selalu berdoa, Urupi au mangula ulaon namarguna, bonana nang ujungna Ho ma mabaen jadina (Berkati pekerjaan agar besar  manfaatnya, Awal dan akhirnya, Engkau menentukannya) BE 300:8.***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.  
  BeritaTerkait
  • Pertemuan Kapolri dengan Firman Jaya Daeli, Ini yang Dibahas

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian bertemu dengan Firman Jaya Daeli (Mantan Tim Perumus UU Polri Di Pansus DPR-RI) yang membahas tentang komitmen dan konsistensi akan reformasi Polri, pemaknaan dan percepatan program Polri, pen

  • Jokowi dan HKBP

    3 tahun lalu

    HARAPAN Jokowi agar HKBP menyuarakan semangat pluralisme di negara ini harus kita respon karena memang sudah menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa untuk mendorong kebhinnekaan sebagai anugerah

  • BMW Indonesia Hadirkan Future of Mobility di BMW Pavilion di GIIAS 2017

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) :BMW Indonesia tegaskan posisinya sebagai perusahaan terdepan di bidang teknologi dan mobilitas melalui kehadiran simbol mobilitas masa depan, BMW i3, di gelaran Gaikindo Indone

  • Australia Jadi Tuan Rumah World's 50 Best Restaurants pada Tahun 2017

    4 tahun lalu

    Melbourne (Pelita Batak): The World’s 50 Best Restaurants dan Tourism Australia pada tanggal 12 Juni mengumumkan di New York bahwa Melbourne, Australia akan menjadi tuan rumah untuk pengharga

  • Depriwanto Sitohang Solusi Cerdas Bagi Dairi di Era Millenial dan Digital

    2 tahun lalu

    Tulisan ini bukan untuk mengkultuskan seseorang, tetapi hanyalah bagian dari pendidikan politik. Saya sangat menerima saran dan kritik aats tulisan ini. Tetapi tujuan saya hanya untuk mmeberikan sebua

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb