KSP Makmur Mandiri
Senin, 13 Juli 2020 07:45:00

Parbulu Suhar

Oleh Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
ist
Bachtiar Sitanggang
Keunggulan sastra Batak Toba mungkin tidak kalah dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, mengingat kayanya umpama dan umpasa dalam membina hidup dan kehidupan masyarakat, baik mengenai adat istiadat, keseharian berupa arahan, larangan, kebiasaan, petunjuk dan nasehat. 

Ada satu ungkapan yang jarang dikemukakan walaupun menyangkut perilaku seseorang dalam suatu komunitas kekerabatan atau perkumpulan sosial ekonomi-kemasyarakatan. Ungkapan itu adalah "parbulu suhar" yang ditujukan kepada yang melakukan "suhar bulu ditait dongan, suhar do i taiton" artinya kalau teman menarik bambu terbalik, terbalik juga kita menariknya. Penebang bambu biasanya menarik dari pangkalnya, kalau "parbulu suhar" menarik dari ujungnya.

Mengkin sebutan "parbulu suhar" (pemilik bambu terbalik) itu disematkan kepada orang yang menarik bambu terbalik dan para pendukungnya. "Parbulu suhar" dapat diartikan sebagai orang-orang yang melakukan sesuatu yang salah, juga bagi para pendukungnya, berupa ungkapan solidaritas fanatik, aksi mendukung  saudara/teman meskipun saudara itu bersalah.

Peribahasa ditujukan kepada  orang yang berlaku buruk (salah), dan walaupun salah masih didukung kerabat/temannya, sebagai sifat yang fanatisme berlebihan. AN Parda Sibarani dalam "Buku Umpama Batak dohot Lapatanna" (1976.40) mengatakan: (Ndang tarjalo di tingki on. Boi do urupan alai unang niampinan) artinya: Tidak berterima lagi cara seperti itu pada saat ini. Bisa dibantu tapi jangan dibela.

Maksudnya, peribahasa tersebut tidak pantas lagi digunakan saat ini, teman yang berbuat salah itu boleh dibantu memperbaiki kesalahannya, tetapi jangan dibenarkan seolah-olah perubatan yang salah itu baik.

Biarpun dia kerabat atau rekan seperkumpulan, kalau berbuat salah yang katakana salah. Mengatakan yang benar itu benar adalah bagian dai iman:  "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan, tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". (Mts, 5:37)

Sering dalam kehidupan sehari-hari ditemukan hal seperti itu baik di dunia internasional sampai ada blok barat dan blok timur, bahkan di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dari segi perasaan persaudaraan mungkin suatu yang wajar "suhar bulu ditait dongan, suhar do i taiton", tetapi dari segi iman dan akal sehat sudah menyalahi, sebab suatu kebohongan atau kebenaran palsu akan melahirkan kebohongan dan kepalsuan-kepalsuan lain.

Dalam kehidupan sehari-hari perlakuan "parbulu suhar" ini sering dikeluhkan di tengah-tengah kehidupan pemerintahan, politik, ekonomi bahkan di pengadilansehingga adan kesaksian palsu, pada hal sudah di bawah sumpah masih mau memutar-balikkan fakta, tidak takut lagi kepada kebenaran dan pemilik kebenaran itu.

Memang kalau tidak "ikut arus" akan dikucilkan, kadangkala "mata hati" dibutakan dan nurani dimatikan, bawahan sering harus menyimpangi peraturan perundang-undangan dengan melaksanakan perintah atasan.

Penegakan hukum dan hak azasi manusia dan perwujudan keadilan  sering terbentur dengan intervensi  politik dan uang.

Saat ini menyaksikan buronan 17 tahun dengan membobol bank Rp. 1,7 triliun melenggang menjadi masalah yang pelik dan memalukan. Demikian seorang buronan sudah warga Papua Niugini, masih bisa mendapat KTP Indonesia dan bebas keluar-masuk padahal sudah buronan. Bahkan mendaftarkan permohonan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung via Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Apakah itu semua terjadi karena ada "parbulu suhar"?

Apakah kita juga pelakon "parbulu suhar" dalam ke seharian kita masing-masing? Sebagai kerabat/teman apakah kita mengoreksi seseorang yang pantas dan patut kita koreksi atau kita justru "parbulu suha"?

"Parbulu suhar" sering ditemukan dalam pemilihan-pemilihan seperti pada kampanye 2019 lalu, dengan segala "kebaikan" dialamatkan kepada yang didukung sementara segala "keburukan" disematkan kepada  lawan politiknya. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi di masa yang akan datang sikap "parbulu suhar" di masyarakat kita terutama dalam Pilkada yang akan datang. Seba pengalaman membuktikan, anggota legislatif, pengurus perkumpulan yang dipilih dengan mata hati "buta" dan nurani "hilang" tidak memberikan kesejahteraan masyarakat. Mari kita berupaya agar jangan menjadi bagian dari "parbulu suhar".***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.   
  BeritaTerkait
  • Mengenal Sosok Dr Ferdinand Lumbantobing di Mata Sihar Sitorus

    3 tahun lalu

    Tapanuli Tengah (Pelita Batak):Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara, Sihar Sitorus berziarah ke makam Pahlawan Nasional asal Sibolga, almarhum Dr Ferdinand Lumbantobing di Jalan Sibolga Barus

  • "Mangulahon Hasintongan dohot Hatiuron"

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Sian Parsameanta, STT-HKBP PematangsiantarDi partingkianta nuaeng mansai hatop do masa perubahan, ndang holan di parbinotoan ni jolma taringot tu ilmu-ilmu pengetah

  • Demam Semua Merasa Mampu

    2 tahun lalu

    Oleh: Bachtiar SitanggangKITA pernah saksikan di televisi, seorang calon bupati bermain hujan-hujanan mengenakan celana dalam, karena tidak terpilih sementara hartanya terkuras. Konon, di Sidikalang,

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb