KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 15 Mei 2021 16:20:00

Parapat - Sibatuloting

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak

BENAR-BENAR petir di siang bolong. Siang hari hujan mengguyur kota wisata Parapat dan mengubah jalan raya menjadi sungai bercampur batu, lumpur,  batang pepohonan, dan ranting-ranting. Kita bersyukur tidak ada korban jiwa. Asal selamat warga, semoga Tuhan memberi rejeki kepada para korban yang rumah dan tempat usahanya berantakan.

Parapat terletak di pantai indah Danau Toba lereng Pegunungan Bukit Barisan. Dan di balik bukit yang hutannya lebat itu ada kawasan hutan Sibatuloting. 

Sibatuloting, terdiri dari tiga suku kata, si kata penunjuk; batu  benda padat, dan loting alat pemantik api, seperti korek api atau geretan. Apabila jenis batu ini dipukul akan menimbulkan percikan api, maka disebut batu loting atau batu pemantik api.

Hutan Sibatuloting  untuk kedua kalinya menarik buat saya. Pertama, ketika PT Inti Indorayon Utama (PT IIU) mengusahai kawasan Sibatuloting setelah mendapat izin dari Pemerintah untuk lahan kurang lebih 1.500 ha untuk memanfaatkan kayu sekaligus menanam kembali dengan eukaliptus. Kayu itu untuk rayon dan pulp yang pabriknya di Sosorladang, Porsea seluas 200 ha.

Prof. Emil Salim pernah mengemukakan bahwa Kantor KLH tidak menyetujui pemberian konsesi dan pemberian izin pabrik itu, namun Sidang Kabinet menyetujui.

Terjadilah gelombang penolakan atas kehadiran PT IIU tersebut, termasuk kehadirannya di Sibatuloting, Kabupaten Simalungun. Sebab perusahaan itu membuka jalan dan berakibat kepada perladangan dan permukiman.

Karena begitu gencarnya perlawanan, sampai Menko Polkam Sudomo turun tangan. Dalam suatu pertemuan, Sudomo menjelaskan tentang pembukaan jalan Sibatuloting  tidak mengganggu permukiman dan perladangan penduduk. Tiba-tiba seorang warga membantah dan berkata: “Itu tidak benar jenderal. Jarak dari pembukaan jalan itu tidak ada 75 meter, bahkan batu-batu dari penggalian itu jatuh ke pekarangan”. 

Saya tidak ikut dalam acara tersebut, tetapi rekan wartawan, yang menghadiri bersemangat menceriterakan peristiwa itu. Ia menyaksikan Pak Tobing (kalau tidak salah) yang berani menyela Pak Domo. Saat itulah Sibatuloting  populer.

Setelah kejadian banjir di  Parapat pada tanggal 13 Mei 2021, terus esok harinya (kemarin malam)  beredar undangan mengikuti Zoom Meeting dengan topik: "Diskusi seputar Banjir Bandang yang menerpa kota Parapat dan Langkah-langkah Solusi”. 

Terus terang saya tertarik karena keyakinan saya itu bukan banjir biasa, walau menurut seorang teman “Udan Tangkuju” yaitu hujan yang melanda permukaan tanah artinya bukan banjir bandang tetapi karena ulah manusia, kurang lebih begitu.

Dalam diskusi virtual tersebut tampil para pengurus Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT)dengan para ahli dan pakar, sungguh menggugah. Terlihat memang yang mengetahui masalah akan mengajukan solusi, tetapi kalau hanya “nimbrung”, ya suka menyalahkan warga masyarakat. Biasalah namanya diskusi, teori dan praktik serta pengalaman membuat pokok persoalan jadi melumer.

Pembicara, yang menurut saya memberikan analisis mengenai materi permasalahan adalah Harianto Sinaga, yang menyebutkan tentang keberadaan kawasan hutan Sibatuloting. Artinya, kalau mau menuntaskan masalah banjir Parapat harus dari hulu, karena sebesar apa pun hujan di atas Parapat tidak mungkin banjir seperti kemarin itu. Air yang melanda Parapat adalah air dari hulu, yaitu kawasan Sibatuloting, karena itu harus dibenahi dari sana, kurang lebih demikian Harianto Sinaga. 

Sebelum zoom meeting itu saya sudah membaca keterangan anggota DPR Dr. Junimart Girsang yang meminta Menteri LHK Siti Nurbaya segera mengevaluasi izin pinjam pakai hutan setelah kawasan  wisata Parapat mengalami banjir bandang.

Bagi yang mengikuti proses berdirinya PT IIU sampai berubah menjadi PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) melalui pemberitaan, menyimpulkan bahwa apa yang kita tuai sekarang adalah buah dari yang ditabur ketika Pemerintah memberikan konsesi hutan ke PT IIU, sama dengan Keramba Jaring Apung (KJA) yang mengotori Danau Toba. Kalau rakyat dilarang tetapi perusahaan asing dibiarkan.

Akhirnya saya berpikir  agar dana yang dikucurkan Pemerintah membangun pariwisata Danau Toba tidak sia-sia, ya Edison Manurung Ketua Umum KMDT yang sering meng-upload foto dengan Presiden Joko Widodo, dan Bung Dr. Junimart Girsang tokoh PDIP, undanglah Presiden Joko Widodo ke Parapat meninjau hutan-hutan dan lingkungan hidup di Kawasan Danau Toba. 

Tanpa Perintah Presiden, ya siap-siaplah rakyat menghadapi kejadian yang tidak diinginkan. 

“Nasi sudah jadi bubur”, dengan hadirnya pabrik bubur kayu di Kawasan Danau Toba.***

(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)

  BeritaTerkait
  • Rizal Ramli : "Bunuh Diri Saja Kalau Otorita Danau Toba Ngak Jadi"

    5 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): "Bunuh diri saja kalau sampai Otorita Danau Toba ngga jadi,". Kalimat ini menjadi closing statement  Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya DR. Rizal R

  • Ny Devi Simatupang: Panitia Agar Garap Serius

    5 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak): Dua belas kontingen dari luar negeri dipastikan akan mengikuti North Sumatera International Choir Competition (NISCC) yang akan berlangsung di Parapat dan Lagiboti 18-2

  • Wapres Buka Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016

    5 tahun lalu

    Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan, perbedaan suku, adat istiadat dan agama justeru membuat Indonesia kuat. Perbedaan tersebut juga merupakan kekayaan khazanah bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain.

  • Marandus Sirait : Hutan Kemasyarakatan Memerlukan Kerjasama

    5 tahun lalu

    Keberhasilan pengelolaan hutan kemasyarakatan memerlukan kerjasama dengan barbagai pihak sehingga tujuan akhirnya berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat bisa dicapai.

  • RE Nainggolan: Harus Satukan Sikap dan Tekad Agar UNESCO Akui Ulos

    5 tahun lalu

    Tokoh masyarakat Dr RE Nainggolan,MM mengajak seluruh elemen masyarakat menyatukan sikap dan tekad untuk mengajukan ulos sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Rencana dan pekerjaan yang mulia, jika masih ada orang maupun kelompok yang mau memperjuangkan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb