KSP Makmur Mandiri
Selasa, 24 Desember 2019 16:12:00

Pajolo-jolohon Songon Monis

BAGIKAN:
Ist
Bachtiar Sitanggang
Oleh Bachtiar Sitanggang

Selamat Natal, semoga Juru Selamat itu lahir di hati dan pikiran kita dan damai sejahtera-Nya menyertai hidup dan kehidupan agar kita melayani tidak untuk di layani apalagi menjadi raja-raja kecil.

Siang hari ini (23/12) menjelang perayaan Malam Natal nanti, banyak yang di rumah menikmati libur bersama keluarga. Walaupun semua terkena "demam" WhatsAap. Menunggu dan mengirim dengan cepat dibalas, japri maupun grup. Begitulah suatu grup terbatas, teman menerima ucapan Selamat Natal dengan logo lengkap serta plakat, seperti lambang pemda provinsi atau kabupaten/kota, dengan Ketua Umum, Sekjen dan Ketua Dewan Pakar.

Kiriman itu dikirim lagi ke teman lain dengan pertanyaan, grup apa itu? Biasalah, dialog panjang lebar, dan merambat ke mana-mana, karena menjamurnya organisasi warga yang berasal dari kawasan Danau Toba.
Dalam dialog via WA itu muncul perumpamaan Batak yang sudah jarang kita dengar: "pajolo-jolohon songon monis", "anduri", "tahul-tahul".

Kemudian dari  dua orang ke semua anggota grup dapat dihitung dengan jari.
Mengenai  "monis" hata Batak, bahasa Indonesia "menir", yaitu beras kecil-kecil yang pecah saat ditumbuk pakai alu dan lesung tempat menumbuk padi jaman dulu, sekarang sudah agak jarang sebab sudah pakai mesin.

Prosesnya, padi dituai, dijemus setelah "pir" atau keras, lalu ditumbuk (diduda - hata Batak-na), karena kerasnya alu (terbuat dari kayu) menimpa padi yang ada di lesung (terbuat dari batu, tetapi ada juga dari kayu besar) sebagian padi yang menjadi beras itu terpecah kecil-kecil itulah "monis" (menir).

Padi yang ditumbuk itu setelah dirasakan sudah terkelupas, lalu ditampi (dipiar-hata Batak) dalam "anduri" atau tampah setelah dipiar akan terbagi menjadi bota-bota (beras yang masih ada padi), lalu di tengahnya adalah beras yang putih bersih utuh, sedang yang paling ujung adalah "monis" dan selalu di depan (pajolo-jolohon) dan  dibuang dari tampan (anduri).

Anduri apakah tampah atau tampi dalam bahasa Indonsia  sampai ada teman memposting Kamus Bahasa Batak karangan JF Sarumpaet MA.

"Pajolo-jolohon songon monis", dalam hata Batak ada juga "pajolo-jolo bibir songon tahul-tahul". Apa lagi itu "tahul-tahul" dalam Bahasa Indonesia menurut teman adalah kantung kera tetapi menurut goegle disebut sebagai "kantung semar". Tumbuhan merambat semak blukar di tanah lembab. Sering dipamerkan yang berasal dari Kalimantan ada sebesar 4 kali botol bir, di sekitar Danau Toba sebesar pisang.

Kembali ke "pajolo-jolohon songon monis" di kalangan orang Batak diumpakan kepada orang yang selalu tampil di depan dalam segala hal, walau bukan bidangnya diurusi. Karena sering tampil kadangkala tidak dipedulikan orang lagi, walaupun yang dilakukan baik dan bermakna.

Menjadi menir adalah suatu proses yang salah. Jadi tidak selalu negatif kalau  dipersepsikan "songon monis". Sama seperti lilin justru berperan musim Natal, menerangi sekaligus meleleh dan habis, padam, tapi bermanfaat, apakah kita mampu seperti lilin? 
Beda "tahul-tahul"- kantung semar/kantung kera disebut "pajolo-jolo bibir", memang demikian lebih dulu muncuil bibirnya terlihat semula bagaikan bejada bulat, lama-kelamaan bibirnya itu secara alamiah terkuak, badannya menjadi kantung penampung air dan tempat kubur serangga.

Perilaku "tahul=tahul" itu sering ditujukan kepada seseorang yang sering mengemukakan ucapan pada hal belum belum gilirannya seperti tokoh-tokoh kita yang sering berebut ngomong di talk show acara televisi.

Bagaimana dengan kata-kata lain dalam bahasa Batak, akankah punah atau bertahan? Berapa banyakkah kita selama tahun ini mendengar kata-kata seperti "monis", "ahul-tahul", "anduri", "andalu", "losung" dan lain-lain?

Siapakah yang bertanggungjawab melestarikan hata Batak? Jawabnya, semua yang menyandang nama Batak. Satu-satunya lembaga yang menyandang nama Batak salah satunya adalah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) secara moril harus bertanggungjawab mendidik generasi muda Batak untuk berbahasa Batak, kalau tidak ada lagi hata Batak, mungkin suku Batak tinggal kenangan, dan kalau tingal kenangan bagaimana dengan HKBP?

Melalui tugas panggilan HKBP untuk melayani dan bukan untuk dilayani, dengan adanya Universitas HKBP Nommensen, HKBP dan UHN-nya harus menunjukkan tanggungjawab morilnya membina dan elestarikan Hata Batak sebagai identitas orang Batak. Selamat Natal dan Tahun Baru.***
Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.       
  BeritaTerkait
  • Daompung Parpoda Na Tur " Haserepon "

    3 tahun lalu

    Di musim mudik nantoari sada, husiluhon do mandapothon sada tokoh. Natua-tua, naung marumur 84 taon.  Belakangan on dung dijalo nasida ulos matua nunga bakkol be  laho tu Jakarta/ Bandung

  • Partandang na Bitik

    3 tahun lalu

    Adong do sada boru ni Ama ni Panukkunan, margoar si Lastiar Christina Margareth. Biasa dijou si Lastri. Na burju do Si Lastiar on jala pargaul. Nang pe boru siampudan. Unduk marnatua tua. Uli rupan

  • Eloi - Eloi... Lama Sabachtani

    4 tahun lalu

    Ale Tuhan Jahowa Martua Debata, bona ni hatuaon pangondian nami marsundut sundut, di bagasan bonos dohot lomos namaheu ro do hami tedek mangalu aluhon sorat ni arsaknami tu adopanMu di langgatan ha

  • Puisi untuk Guru dari Tansiswo Siagian

    4 tahun lalu

    MAULIATE GURU Pita somarlaok, dadap-dadap Songon na so marnida Lambok ditogu ho ahu

  • Songon na di Apitson i

    4 tahun lalu

    Nantoari, dung mulak sian Pekanbaru, ala adong ulaon adat, dijou Amani Altup ma anakna si Altup, doli doli naung hira tang jala nunga adong usahana. Prospektif. Alai laos so marhira tudia dope molo

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb