KSP Makmur Mandiri
Selasa, 05 November 2019 18:09:00

PSI dan Dungu

BAGIKAN:
Ist
Ilustrasi
Oleh: Bachtiar Sitanggang

Di Jakarta sekarang ribut, karena lem Aibon, yang ribut bukan anak TK merengek ke orangtuanya agar dibeli di warung. Melainkan elit politik partai, anggota DPRD dan Gubernur serta aparatnya. Masyarakat ada tepuk tangan, ada yang terperangah heran, tetapi ada juga yang nyinyir.

Lem Aibon menghebohkan itu, bermula dari rencana anggaran Pemda yang diungkap di media sosial sebesar Rp. 82 miliar. Ternyata makin terkuak, anggaran untuk bolpoin juga Rp. 124 milyar dan yang lain juga  mencengangkan.

Bocornya angggaran yang menggegerkan itu diungkap seorang anggota Komisi A DPRD Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) William Aditya Sarana. Si anak muda yang berani mengatakan "ya di atas ya" ini justru dilaporkan ke Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD DKI, karena dianggap melanggar Kode Etik. Alasannya, anggaran dari SKPD itu seharusnya dikoreksi, dibahas bukannya diumbar ke publik.

Ya seperti pepatah Batak: "hasosogo do si dok na toho", dibencii siapa yang mengatakan yang benar. Kita lihat saja, apakah anggota dewan yang tugasnya menyusun anggaran bersama Pemerintah yang menemukan ketidak wajar itu disalahkan atau tidak. Apakah William Aditya Sarana melanggar kode etik atau tidak. Karena segala sesuatu bisa terjadi dalam politik.

Kalau menurut kita harus disyukuri ada seorang anggota DPRD seperti itu, yang benar-benar menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat. Tidak hanya "kenji" kenyang jinak, makan gaji dengan 4 D (datang, duduk, dengar dan duit) seperti yang dipersepsikan selama ini.

Kegunaan lem Aibon seharga Rp. 28 miliar dan bolpoin Rp. 124 miliar, kita tidak tahu kegunaannya, apakah benar kebutuhan itu, tentu akan mempengaruhi juga terhadap pelanggaran William, kalau kecurigaanya beralasan, yah kode etik apa yang dilanggar, DPRD tentu bukan tukang stempel anggaran yang tidak masuk akal.

Konon, William juga disemprot seniornya sesama anggota, dengan mengingatkan sebagai orang baru supaya hati-hati. Seharusnya dibahas dulu di rapat, dengan dipublikasikan menimbulkan prasangka buruk bagi Komisi A DPRD DKI, kata rekannya yang dari partai lain.

Kaitannya dengan judul PSI dan Dungu di atas. Seorang teman mengunggah foto Danau Toba dan Pulau Samosir di grup WA. Si pengirim memberi teks foto: "Tele dengan Danau Toba. Indah Ciptaan Tuhan". Lalu ada yang menanggapi "Ya, tapi bukan kepingan surga, kepingan surga itu apa bedanya dgn neraka?". Pengunduh menjawab lagi ”"Hahaha itulah Bos kurang Bahasa. Sudah terkenal kepingan Surga itu. Sampah ke Ronggurnihuta".

Kiriman itu dijawab lagi " Ya, hanya orang dungu yang taruh kotoran di kepalanya, begitulah Pemda dn DPRD Samosir. Sy blm tahu limbahnya itu ke Simbolon, Ambarita atau Tomok. Imbasnya tdk langsung ke Ronggurnihuta, sebab di tengah hutan dan kl 6 km dari Ronggur ni huta".

Sampah di Samosir sudah lama jadi masalah, sejak berdiri kabupaten Samosir sampai sekarang tidak terlihat kebijakan yang jelas mengelola sampah. Semula ditumpuk di perbatasan Samosir-Dairi, belakangan ditumpuk di tengah hutan di tengah tengah Pulau Samosir, tanpa pengelolaan, hanya dibakar sehingga bau menyengat dengan lalat besar di sekelilingnya.

Begitukah "negeri indah kepingan surga" sampah ditumpuk di tempat tinggi (kepala) sebagaimana dimana limbahnya akan mengalir ke tempat rendah yaitu Danau Toba. Pejabat Samosir sering dengar yang tertulis, "Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut,..", artinya, kotoranpun kalau ditaruh di tempat tinggi akan meleleh ke tempat rendah.

Kita berharap ada anggota DPRD di Samosir seperti William Aditya Sarana, dari fraksi mana aja, tidak hanya 4 D dan “"kenji" agar sampah itu terkelola, malulah sedikit para pamong Pemda Samosir, bagaimana kalau ada yang melihat tumpukan sampah itu.

Pencita Danau Toba dan yang peduli Samosir sudah waktunya "move on" berubah visi menatap masa depan, seperti Joko Widodo, mengangkat usia 35 tahun jadi Menteri. Jangan pola lama terus, cukuplah kedunguan masa lalu itu. ***  

  BeritaTerkait
  • Ini Pidato Ketua Umum pada Dies Natalis ke-68 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

    2 tahun lalu

    Syalom,Assalamualaikum Wr. Wb.,Om Swastiastu,Namo Budhaya,Salam kebajikan,Salam sejahtera bagi kita semua,Merdeka!!!Bapak, Ibu, Saudara, Saudari yang kami kasihi,Pada umumnya, usia menjadi salah satu

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2019 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb