KSP Makmur Mandiri
Minggu, 01 November 2020 15:51:00

Memilih Yang Kurang Buruk Dari Yang Buruk

Oleh : Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist| pelita Batak
Oleh Bachtiar Sitanggang

SAYA telah menulis pendapat Prof. Dr. Frans Magnis Suseno di atas di Greenberita (24 Desember 2019) berjudul “Mencegah Yang Terburuk Berkuasa” disimpulkan dari keterangan guru besar Filsafat  STF Driyarkara Jakarta tersebut dari “Tribunnews” (5 Maret 2014).

Prof. Magnis mengatakan, “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi mencegah yang terburuk berkuasa”. Di tulisan lain ungkapan berbeda maknanya sama “kita memilih yang kurang buruk di antara yang buruk”.

Memilih adalah menentukan satu dari beberapa pilihan yang tersedia, bila dikaitkan dengan pemilihan pasangan calon (paslon) kepala daerah tentu lazimnya ada beberapa pasangan calon.
Para paslon tersebut pasti ada keburukannya, sebagai manusia semua buruk.

Mengacu pada pendapat Prof. Magnis, memilih paslon yang kurang buruk (sedikit buruknya) dari pada yang (banyak) buruknya dan atau “mencegah yang terburuk berkuasa”.  

Di suatu daerah ada beberapa paslon yang berkontestasi dalam pilkada, tetapi bagaimana bila hanya satu pasangan calon? Undang-undang memperbolehkannya, artinya sah-sah saja paslon tunggal (paslontung).

Bila Pilkada itu mencegah paslon yang terburuk berkuasa atau agar yang sedikit buruknya yang terpilih, teori Prof. Magnis tidak kena. Artinya bila paslontung adalah penyimpangan atau bukan pemilihan namanya, sebab hanya satu yang tersedia.

Bagaimana apabila hanya satu paslon seperti di Humbang Hasundutan (Humbahas) dan Kota Pematang Siantar dan beberapa daerah lainnya di Indonesia pada pilkada serentak tahun 2020 ini?

Sesuai peraturan paslon harus didukung partai politik atau gabungan parta-partai politik yang memiliki cukup kursi di DPRD, dan paslon perorangan harus didukung sejumlah anggota masyarakat sesuai yang mempunyai hak pilih.

Untuk memenuhi hakekat pemilihan harus lebih dari satu, maka pembentuk Undang-undang memberi jalan ke luar yaitu Kolom Kosong (istilah populer Kotak Kosong) tetapi sekarang ada lagi di Kediri istilah Bumbung Kosong dipersandingkan dengan paslontung.

Memperoleh yang kurang buruk dari yang terburuk jadi Kepala Daerah, tidak akan tercapai lagi sebab pilihan hanya kolom kosong dengan paslontung. Kalau paslontung yang terpilih elit dan petinggi parpol di daerah itu tidak salah pilih. 

Tetapi bagaimana kalau Kolom Kosong atau Kotak Kosong atau Bumbung Kosong itu yang menang? Pertanggung jawab atas demokrasi yang baik dan sehat di daerah bersangkutan ada pada siapa? Dimana slogan bahwa partai politik sebagai penampung dan penyalur aspirasi rakyat? 

Bagi kebanyakan orang menganggap kondisi itu seperti air mengalir, tetapi bagi pegiat demokrasi akan dianggap sebagai pencideraan terhadap penyaluran hak pilih rakyat untuk memperbaiki masa depannya.

Belajar dari Pilkada serentak 2018 di Makassar, paslontung kalah dengan Kolom Kosong, dan paslontung itu diberi Undang-undang ikut di Pilkada 2020 ini tanpa verifikasi, sah-sah saja. Bagaimana kalau tidak terpilih?

Demokrasi itu membutuhkan kejujuran semua pihak, apakah kehadiran paslontung itu berjalan apa adanya, atau ada rekayasa dan ketidak jujuran?
Barangkali itulah yang akan kita hadapi seperti di Humbahas, ada anggota masyarakat membentuk suatu koalisi untuk “mencegah yang banyak buruknya berkuasa”.

Demokrasi adalah proses penentuan rakyat akan kehidupannya sendiri menuju masyarakat sejahtera, adil, makmur secara merata dan berkelanjutan, oleh karenanya untuk Pilkada berikut sudah mendesak dihilangkannya pengaturan Kolom Kosong. Misalnya mempermudah pencalonan oleh partai,  mengurangi jumlah kursi pendukung dari parpol atau gabungan parpol di DPRD dan meminimalisir jumlah dukungan untuk calon perseorangan. 

Dengan berlalunya euforia reformasi, sudah waktunya dipikirkan adanya kesepakatan nasional untuk penyederhanaan jumlah partai politik agar efektif dan efisien dalam berdemokrasi. 

Mengacu pada Pendapat Prof. Magnis, pemilihan adalah “mencegah yang terburuk berkuasa” maka tidak bisa koalisi rakyat di Humbahas disebut sebagai “ndang di ho, dang di au tagonan tu begu” (tidak padamu, tidak untuk saya lebih baik kolom kosong) yang mungkin juga terjadi di daerah yang ada hanya berpaslontung.

Pasangan calon tunggal yang didukung semua mesin parpol wajar memenangkan  “pertarungan” tetapi kalau kalah sungguh “terlalu”, tanggal 9 Desember 2020 semakin dekat, semoga pandemi Covid-19 semakin hilang dan Pilkada berlangsung lancar dan baik.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta.
  BeritaTerkait
  • POROS PANCASILA DAN PERADABAN DUNIA MASA DEPAN: Menyongsong Pemilu Tahun 2019

    2 tahun lalu

    Oleh: Djalan SihombingBesok, Rabu (17/04/2019) Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum Presiden/Wakil Presiden; Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, DPRD Provinsi, da

  • Usai Ikat Kerjasama, Ephorus Berikan Kuliah Umum di Universitas Islam Negeri Banda Aceh

    tahun lalu

    Banda Aceh (Pelita Batak):Pimpinan HKBP Ompu i Ephorus Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing memberikan kuliah umum di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar - Raniry Banda Aceh bertempat di Gedung Museum UIN Ar -

  • OPPO Perkenalkan F7 Youth, Perangkat Super Full Screen untuk Anak Muda

    3 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak):OPPO meluncurkan OPPO F7 Youth, perangkat terbaru yang ditujukan untuk anak muda yang aktif. Membawa keunggulan OPPO F7, yaitu Super Full Screen, AI Beauty 2.0, dan berbagai tek

  • Sikat Habis Politik Busuk

    2 tahun lalu

    PEMILIHAN umum (Pemilu) Pilpres, Pileg Serentak 2019 kini telah memasuki pemungutan suara di Luar Negeri, dan hari Rabu, 17 April 2019 akan dilaksanakan di seluruh wilayah tanah air Negara Republik In

  • 4 Manfaat Program Magang Bagi Perusahaan

    12 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):Di masing-masing perusahaan, selalu ada perbedaan pendapat dalam merekrut karyawan magang. Sebagian memandang para karyawan magang sebagai "buruh gratis" yang hanya untuk menyajik

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb