KSP Makmur Mandiri
Sabtu, 24 Oktober 2020 12:35:00

Memahami Jati Diri di Tengah Pilkada

Oleh Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist| pelita Batak
KALANGAN pemuka masyarakat Samosir khususnya elite politik hendaknya memahami jati dirinya sebagai warga negara, warga masyarakat Dalihan Na Tolu, dan terutama warga gereja sebagai tubuh Kristus.

Sebagai warga negara harus taat aturan seperti dalam pelaksanaan Pilkada. Pilkada  adalah untuk peningkatan harkat dan martabat serta kesejahteraan masyarakat dan umat gereja di dalamnya. Sebagai warga Dalihat Na Tolu yang diikat oleh "Manat Mardongan Tubu", 'Somba Marhula-hula" dan "Elek Marboru", artinya Pilkada itu adalah untuk mempererat ikatan kekerabatan Dalihan Na Tolu dan tidak sebaliknya. Sebagai warga Gereja, sebagai tubuh Kristus, adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kekelaman. Artinya Pilkada harus tetap didasari  firman Allah, yaitu pertama, mengasihi Tuhan Allah, dengan segenap hati, dengan sepenuh jiwa, dan dengan segenap akal budi. Kedua, mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Hal ini dikemukakan di sini berkaitan dengan tersiarnya berita bahwa Saudara Panal Limbong, SH, melaporkan seorang  calon bupati Samosir dalam Pilkada 2020 bulan Desember depan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dengan dugaan “adanya penghasutan dan ajakan  kepada tokoh agama untuk berkampanye bagi dirinya”, (Greenberita Rabu, 21 Oktober 2020). Dasar pengaduannya adalah atas beredarnya sebuah video di media sosial tentang  pertemuan cabup dengan Uskup Agung Medan Jumat, 16 Oktober 2020.

Perhatian penting adalah keterangan Panal yang mengatakan: “Apalagi di sana menyebutkan tata ibadah gereja lain, saya takut akan menimbulkan konflik SARA di Samosir dan saya sebagai umat Katolik keberatan dengan kegiatan “yang” mengajak Opung Uskup untuk berpolitik praktis," tegasnya.

Sejak beberapa hari lalu  banyak yang mengirimkan ke WA saya tentang  dialog di grup mereka dan di FB mengenai hal yang disebutkan di atas. Terhadap berbagai komentar dan tanggapan yang dikemukakan, saya berpikir positif saja, yakni dalam memenangkan “pertarungan” apapun dilakukan wajar saja, asal sesuai etika dan moral serta tidak melanggar hukum. 

Mengajak Uskup menjadi “juru kampanye” duniawi, rasanya kurang cocok. Karena Tugas Panggilan seorang Uskup, dalam literatur disebutkan yaitu: “Dalam misi Klerus, seorang Uskup mengemban 3 tugas Kristus yakni sebagai Nabi (mengajar), sebagai Imam (memimpin pelayanan Misa), dan sebagai Raja (memimpin umat). Dalam kedudukannya ini, Uskup sering disebut  sebagai pengganti dari para rasul Kristus. Oleh karena itu  jangan mudah menarik kesimpulan atas video yang beredar tersebut. Alasannya, pertama: apakah video itu utuh dari awal sampai akhir? Dengan demikian dialog antara tuan rumah dan para tamu jelas ketahuan, terutama kesimpulan pertemuan? Kedua, apakah video itu dikeluarkan resmi oleh pihak Keuskupan atau pihak tamu? Apa ada manfaat video itu untuk kepentingan ke-umat-an? Ingat tugas panggilan Imam, bukan duniawi.

Orang-orang percaya, yakin bahwa Uskup (wali gereja) adalah pimpinan gereja untuk menyelamatkan “orang-orang yang tersesat” untuk mendudukkan orang-orang ke kehidupan yang kekal, bukan untuk mendudukkan orang dalam posisi duniawi. Uskup sebagai pengganti rasul Kristus adalah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia untuk mengikuti Kristus, bukan untuk memilih pejabat dunia.

Orang percaya yakin bahwa benteng etika dan moral Kristiani ada di tangan Ompung Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFM Cap dan para Imam lainnya.
Kita apresiasi Panal Limbong yang menghormati keutuhan hati suci seorang pemimpin umat untuk tidak dicobai (diunjuni) sebagaimana Doa Bapa Kami: “... janganlah membawa kami ke dalam pencobaan....” dengan kalimat baru sekarang “....jangan biarkan kami jatuh ke dalam pencobaan...”.  Seandainya pun ada yang mencobai para Imam termasuk Ompung Uskup Agung Medan, pasti akan diselamatkan Roh Allah, kita ingat ketika Yesus dicobai.
Oleh karena itu, apa yang dikhawatirkan  Saudara Panal Limbong akan terjadi konflik, di Samosir, kita yakin tidak akan terjadi. Kepentingan sesaat dari sekelompok orang tidak akan mampu menggoyang rasa saling asih, asah,  asuh yang terpelihara di masyarakat Samosir. 

Apakah mengajak seorang Imam Besar, sebagai pengganti Rasul Kristus, menjadi juru kampanye memenangkan seseorang melanggar hukum atau tidak, Saudara Panal Limbong sudah melaporkannya ke Bawaslu. Bagaimana keputusannya, harus dihormati. Mudah-mudahan penegak hukum benar-benar melaksanakan tugas dan fungsinya.

Kita berharap para elite politik dalam menghadapi Pilkada 9 Desember 2020 agar menempuh jalan lurus, baik dan benar, tidak menghalalkan segala cara. jangan Machiavellis. ***

(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Jargon Minoritas-Mayoritas Keagamaan Belum Hilang

    4 tahun lalu

    Jakarta (Pelita Batak) : Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Masa Bakti 2015 – 2020, Baktinendra Prawiro,MSc,MH mengatakan persoalan politik di I

  • Teologi dan Bahasa Figuratif: "Pendeta Representasi Figur Kristus"? (Bagian Terakhir)

    3 tahun lalu

    Oleh: Pdt. Dr.  J.R. Hutauruk3. Refleksi: OrdinasiSeperti apa sosok atau figur  'pendeta' yang  disebut-sebut sebagai 'representasi figur Kristus'?, mari kita coba m

  • Ini Pidato Ketua Umum pada Dies Natalis ke-68 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

    3 tahun lalu

    Syalom,Assalamualaikum Wr. Wb.,Om Swastiastu,Namo Budhaya,Salam kebajikan,Salam sejahtera bagi kita semua,Merdeka!!!Bapak, Ibu, Saudara, Saudari yang kami kasihi,Pada umumnya, usia menjadi salah satu

  • Urgensi Partisipasi elemen Organisasi Sosial dan Politik dalam Demokrasi

    2 tahun lalu

    A. PendahuluanManusia hidup dengan membangun peradaban dunia agar ia mampu mempertahankan kehidupannya di muka Bumi ini. Cara mempertahankan manusia tersebut berbeda-beda tergantung tingkat pemahaman

  • Kodim 0201/BS Terapkan Sistem Pengawasan Babinsa Berbasis Daring, e-BABINSA

    2 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak): Penilaian terhadap penanganan permasalahan di lapangan oleh Babinsa, bisa dipantau dan diberi penilaian oleh pimpinan secara online, masyarakat juga bisa melakukan pemantauan lew

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb