KSP Makmur Mandiri
Kamis, 10 Desember 2020 19:55:00

Kembali Ke Dalihan Na Tolu

Oleh : Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
IST|Pelita Batak
PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) di 270 daerah (9 provinsi, 224 kabupaten, 9 kota) berlangsung lancar dan demokratis di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan berbagai dinamika serta dampaknya (pangkorhonna, pangontakna) di tengah Masyarakat Hukum Adat Enam Puak Batak dengan sistem kekerabatan, Dalihan Na Tolu, (Toba), Dalian Na Tolu: Mandailing, Angkola), Tolu Sahundulan (Simalungun), Rakut Sitelu (Karo) dan Daliken Sitelu (Pakpak).

Dalihan Na Tolu (Tungku Tiga Batu; Tungku Nan Tiga” adalah sistem kekerabatan yang hidup dan terpelihara pada 6 (enam) (-paopat Sihal-sihal) merupakan “hukum tertinggi” pada masyarakat hukum Adat Batak karena Dalihan Na Tolu yang didasarkan atas garis keturunan (genealogi-marga) dan sosiologis (padan, dan perkawinan). Dalam ikatan Dalihan Na Tolu yang terdiri dari Hula-hula, Dongan Tubu, dan  diharuskan “Somba (hormat) marhula-hula; Manat (arif bijaksana) mardongan tubu; Elek marboru, tanpa melupakan Dongan sahuta dan Ale-ale (paopat: Sihal-sihal).
Dengan Dalihan Na Tolu sebagai “hukum tertingg” pada masyarakat Toba tua, menurut keterangan orang-orang tua, segala perkara dapat diselesaikan, kalau tidak bisa penyelesaiannya ada dua yaitu menyerahkannya kepada Mulajadi Na Bolon (didoakan kepada Tuhan yang maha kuasa) dan diusir dari komunitas.

Dalam Pilkada masyarakat Hukum Adat diperhadapkan dengan demokrasi, duduk sama rendah berdiri sama tinggi, hak perseorangan dan suara terbanyak dan didasarkan atas batas kewilayahan (teritorial) serta diatur oleh Negara/Pemerintah dengan penyangganya partai politik.

Sehingga dalam setiap pemilihan umum masyarakat Hukum Adat Batak (di enam Puak) dengan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang tidak mengenal kompetisi dan persaingan, seolah tercerai berai, tidak mengenal hula-hula, dongan tubu dan boru, walaupun di sisi lain Dalihan Na Tolu itu disalahgunakan untuk memperoleh dukungan.

Maka dengan selesainya Pilkada yang seolah “memporak-porandakan” persaudaraan, parhula-hulaon dan parboruon, marilah kita kembali ke sistem dan tatanan hidup sebagai masyarakat yang hidup tenteram dan damai yang dirahut holong (diikat kasih) Dalihan Na Tolu, masiamin-aminan na marhaha maranggi, marsianjuan namarhula marboru. Sebagai seorang orang Batak yang telah mendarah-dagingkan sistem kekerabatan itu mau-tidak mau pasti akan terpanggil untuk tunduk pada “Somba (hormat) mar-Hula-hula; Manat (arif bijaksana) mar-Dongan tubu; Elek mar-Boru). Sebab sunggguh keterlaluan apabila ada yang berani keluar dari komunitas Dalihan Na Tolu tersebut, wkalaupun ada yang berani  hanya di bibir saja atau hanya pa-jago-jagohon.

Situasi di 270 daerah yang menyelenggarakan Pilkada, pasti beragam dan bervariasi sesuai dengan struktur masyarakatnya. Sebagai masyarakat Hukum Adat Batak, yang menjadi perhatian kita coba melihat Humbang Hasundutan, Samosir, Siantar dan perantauan Kota Medan.
Apa yang terjadi selama dan penyelenggaraan Pilkada tersebut adalah berdasarkan peraturan perundang-undangan, karena demokrasi tidak mengenal pertalian darah-marga dan ikatan perkawinan, maka semua yang terjadi sejak penjaringan dan penyaringan bakal calon, pencalonan pasangan, kampanye sampai pemungutan suara, pasti ada persoalan kecil, sedang dan besar, dengan terpilihnya pemilik suara terbanyak dan gema serta gaung Pilkada itu sewajarnyalah telah berakhir.

Sebagai masyarakat Hukum Adat Batak kalau diperhadapkan dengan demokrasi pada Pilkada, seolah telah terjadi pengingkaran pada “tona” yang populer di antara namar-Dongan tubu”, “si sada anak, si sada boru. Si sada lulu harajaon dan si sada lulu tano”.
Jabatan dan kedudukan hanya “kembang-kembang indah” yang mewarnai kehidupan, sehingga untuk masa yang akan datang apa yang terjadi pada Pilkada 2020 hendaknya dijadikan pelajaran oleh semua pihak.

Baik pegiat partai, mereka yang berkeinginan mencalonkan diri termasuk marga yang akan mengutus warganya jadi calon, lakukanlah dengan persiapan dan pertimbangan yang matang, agar carut-marut kekerabatan Dalihan Na Tolu tidak terjadi seperti dalam Pilkada tahun ini.

Kita berharap, mereka yang memenangkan pemilihan, terutama Tim Sukses, untuk tidak merasa “hebat” karena menang justru “beban dan tanggung jawab” peningkatan kesejahteraan berada di pundak “Anda”. Ingat, ada Sumpah Jabatan yang langsung diperhadapkan dengan Tuhan yang diyakini masing-masing. Sumpah bukan formalitas dan seremonial, maka kalau Anda main-main jabatan itu akan menjadi “pencobaan”.

Kepada segenap pendukung yang menang, silakan berbangga, tetapi jangan sombong, apalagi minta “jatah proyek” atau jabatan, justru harus mengingatkan sang  pemimpin  agar selalu ingat akan janji kampanye. Jangan badannya hidup, tapi janjinya mati.

Pemilihan adalah "kompetisi",  ada yang kalah dan ada yang menang. Tetapi, kekalahan bukan akhir dari segala-galanya. Bidang pengabdian lain terbuka lebar, oleh karena itu, marilah kita kembali ke alam Dalihan Na Tolu, "martimbung rap tu ginjang martollu rap tu toru". Horas tondi madingin, pir tondi matogu, Horas.***  

(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Pusat Habatakon (Batak Center) Didirikan untuk Menyelamatkan Kebudayaan Batak di Masa Depan

    2 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Kebudayaan Batak perlahan-lahan ditinggalkan oleh penganutnya yaitu orang-orang Batak itu sendiri, semakin tergerus oleh kemajuan teknologi informasi, pergaulan bebas, hedonisme

  • Elco Kita Marbun,SE Pencipta Lagu “HORAS BANGSO BATAK”

    2 bulan lalu

    Medan (Pelita Batak):'Horas Bangso Batak' beberapa tahun terakhir santer dibicarakan setelah organisasi berbasis kesukuan yang diketuai Lamsiang Sitompul, SH terbut dideklarasikan pada 19 Ja

  • Sihar Ajak Warga Dairi Jadi Bagian Perubahan Menuju Kemajuan

    3 tahun lalu

    Dairi (Pelita Batak):Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara Sihar Sitorus mengajak warga Dairi untuk menjadi bagian dari perubahan dan kemajuan Provinsi Sumut ke depannya.Ajakan tersebut dilont

  • MENUJU SAMOSIR SATU

    2 tahun lalu

    Oleh Bachtiar SitanggangMinggu, 21 April 2019, sekitar jam 09.13 muncul di telepon genggam-Hand Phone/HP- saya MENUJU SAMOSIR SATU, terbaca setelah ibadah siang harinya. Ternyata ada grup WhatssAp ang

  • Malapetaka "Martangan Pudi" Dalam Kehidupan Rumah Tangga Suku Batak

    5 tahun lalu

    Dalam membina keharmonisan suatu rumah tangga, perlu ada saling keterbukaan dalam sikap antara si suami dan istri, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari setiap pasangannya. Banyak yang mengatakan keluarga suku Batak terkenal dengan kesetia

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb