KSP Makmur Mandiri
Senin, 26 April 2021 20:45:00

Jangan Ajari Ikan Berenang

Oleh: Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
Ist|pelitabatak

WARGA NEGARA yang bertanggungjawab harus berupaya agar pemerintahnya baik dan benar pula baik di pusat maupun di daerah, terutama di bona pasogitnya (kampung halamannya) seperti halnya beberapa teman di Grup WA “Naringgas Manjaha” di Jakarta. Grup ini sudah berdiri sejak tahun 2015 lalu, anggotanya hanya 6 orang.

Naringgas Manjaha artinya “Yang Rajin Membaca = mencerdaskan” oleh karenanya kegiatannya hanya sekedar “upaya”  mencerdaskan dan apa saja bisa dibahas dan dikaji ke hal yang bersifat positif.

Dalam kaitan mencerdaskan itulah anggota grup ini dalam dialognya berbagai pemikiran bagaimana agar Kepala Daerah itu tidak dicokok KPK, termasuk jajarannya tidak melanggar hukum atau perbuatan tercela. Seperti yang sering dikemukakan Prof. Dr. JE Sahetapy, S.H., bahwa “ikan itu busuk dari kepalanya”, artinya kalau  Bupatinya sehat dan bersih, aparatnya juga tidak akan “makan kayu, pasir, semen dan tanah serta proyek-proyek lain termasuk bantuan pemerintah”.

Pembicaraan mengenai Kepala Daerah ini sebenarnya berlangsung saat penjaringan dan penetapan Cabup/Cawabup, Cawalkot/Cawawalkot sampai pada kampanye pilkada di beberapa daerah yang begitu sengit sampai kepada hasilnya. Seperti diketahui di Humbahas, hanya ada calon tunggal dan harus berhadapan dengan Kolom Kosong, Pilkada Samosir berakhir di Mahkamah Konstitusi dengan Togu-togu Ro (TtR) yang dituduhkan paslon satu ke paslon lain hasilnya tidak dianggap dapat mempengaruhi hasil Pilkada, apakah karena sama-sama melakukan tapi kalah besarnya TtR, kurang jelas.

Munculnya Paslon tunggal sebenarnya sangat menguntungkan kalau benar-benar didukung semua rakyat, sebab ternyata dalam hal tertentu (contoh Pilkada) partai-partai itu bukanlah representasi rakyat. seperti di Humbahas, sebab tidak tanggung-tanggung yang menentangnya, walaupun memperoleh suara terbanyak, artinya, paslon itu adalah wajar kalau prestasinya membuahkan kesejahteraan masyarakat, kalau biasa-biasa saja, partai-partai tidak penampung dan penyalur aspirasi rakyat.

Dalam rangka tanggungjawab itulah, seorang teman menanya pengalamannya tentang seorang bupati di daerahnya yang dimata pengamat cukup memuaskan selama dua periode. Teman lain mencoba memberikan gambaran keberhasilan itu kurang lebih demikian:

*Tidak memikirkan pengembalian biaya pemenangan. Artinya cost politic dan money politics yang dikeluarkan tidak diharapkan diambil dari jabatan ke-Bupati-an itu.

*Menentukan pejabat sesuai kompetensi yang dibutuhkan untuk jabatan tertentu terbebas dari unsur KKN dan intervensi luar termasuk partai. Pemberitahuan pelantikan pejabatnya satu hari sebelum hari H, sehingga tidak ada calo jabatan.

*Rekrutmen pegawai diserahkan ke lembaga independen seperti Perguruan Tinggi dan tidak ada yang bisa mengubah hasil/nilai ujian.

*Melakukan sistem pelayanan cepat dengan biaya resmi, tidak ada pungutan liar, setoran tanpa tekanan (susu tante).

*Membangun sebanyak mungkin jalan desa, agar hasil pertanian mudah dibawa atau diambil pembeli ke lokasi.

*Tidak ada potongan atau komisi dari proyek. Pejabat yang bermain segera diganti, karena yang bersangkutan juga diangkat berdasar prestasi dan integritas, kalau melanggar aturan langsung ganti.

*Terjun langsung ke desa-desa memonitor  kebutuhan rakyat untuk dimasukkan dalam RAPBD sehingga tidak ada titipan apalagi fiktif.

*Jangan kebanyakan ke Jakarta, rapat, study banding  dan menghadap  kecuali  penting sekali. 

*Sistem Administrasi dan pengelolaan keuangan transparan dan apa adanya, sering diperiksa dan memperbaiki kejanggalan.

*Sangat konsern dengan lingkungan hidup dan mencegah kerusakan alam sehingga terhindar dari banjir dan longsor. 

*Terbuka kepada masyarakat, menerima masukan tentang hidup dan kehidupan rakyatnya, sehingga tidak ada proyek asal bapak senang (ABS) dan proyek di atas kertas (PDK). 

*Mengikuti petuah Panglima Besar Sudirman “Sedikit bicara banyak kerja”, menghindari kamuflase, tampil di media menutupi kekurangan. Semua pekerjaannya rasional, tidak asal ada, apalagi mersucuar yang tidak menyentuh kebutuhan rakyat petani.

*Berbuat dengan segenap hati untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, artinya pekerjaan koruptif akan terhindar, oleh karenanya setiap mengambil keputusan bukan seenaknya, tetapi KehendakNYA.

Mengingat selama ini daerah pemekaran sering tertimpa masalah perekrutan pejabat, dengan persyaratan golongan sering yang memenuhi hanya para guru. Oleh karena itu konsolidasi internal aparat sangat mendasar bagi Bupati baru seperti Samosir, agar berdasarkan konpetensi tidak asal ada. Kepercayaan masyarakat akan tipis kalau pejabatnya tidak berkompeten dan berintegritas.

Peningkatan produktivitas petani tradisional dengan modernisasi dengan tanaman yang kompetitif dari Samosir sudah harus dimulai, jangan salah kaprah lagi.

Menjadikan Kawasan Danau Toba menjadi Monaco Of Asia adalah baik, tetapi di sisi lain efek negatifnya, kalau tidak mengikut sertakan masyarakat sama artinya dengan Penggusuran Pelan-Pelan. Beban itu ada dipundak Dosmar Banjarbahor, S.E., dan Oloan P Nababan, SH M.H. Hadirnya food estate di Humbang Hasundutan diharapkan mensejahterakan masyarakat setempat tidak sebaliknya pengalaman banyak daerah yang terimbas transmigrasi justru meminggirkan penduduk setempat.

Demikian juga pembangunan pariwisata yang jor-joran di Samosir adalah baik untuk pemerintah dan pemodal besar, tetapi bagaimana agar penduduk yang 85 % petani itu tidak tercabut dari akar mata pencahariannya? Tantangan berat bagi Vandico Timotius Gultom dan Martua Sitanggang.

Khusus untuk Samosir agak berat, sebab 17 tahun jadi Kabupaten, masih mengandalkan Pariwisata dan mengabaikan pertanian, oleh karenanya mata pencaharian petani mungkin masih di bawah rata-rata, sebab hasil pertanian dan perkebunan, peternakan serta perikanan hampir tidak menggambarkan predikatnya “gok di si hassang, eme nang bawang, rarak do pinahan di dolok i”.

Vandico sendiri lahir di Kalimantan, besar dan bertumbuh di Surabaya, Martua puluhan tahun berkarier di Jambi. Artinya mereka masih harus belajar keras untuk mengenal karakter wilayah dan masyarakat terutama perangai aparatnya.

Untuk itu diperlukan percaya diri serta tidak menjadi “petugas partai” dan “anak mami” dan harus tegas sebagai “Anak Tuhan”. 

Itulah sekedar bincang-bincang di grup WA Naringgas Manjaha, dan tidak ada niat “mengajari ikan berenang”. Yang ada hanya niat agar para pejabat di kampung halaman berhasil dan sekali-kali tidak dicokok penegak hukum karena merugikan keuangan negara, selain menyakitkan juga memalukan.  Selamat berkarya.***

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdmisili di Jakarta.

  BeritaTerkait
  • Wapres Buka Musyawarah Masyarakat Adat Batak 2016

    5 tahun lalu

    Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan, perbedaan suku, adat istiadat dan agama justeru membuat Indonesia kuat. Perbedaan tersebut juga merupakan kekayaan khazanah bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain.

  • Arif Menyikapi Keramba Jaring Apung Danau Toba

    5 tahun lalu

    Danau Toba menjadi pembicaraan hangat beberapa hari terakhir. Kali ini bukan soal rencana pembentukan badan otorita, tetapi tentang keramba jaring apung (KJA). Dipicu matinya ikan sebanyak 850 ton

  • 6 Lokasi Wisata Alam di Tanah Batak

    5 tahun lalu

    Sejumlah lokasi wisata terbaik di Tanah Batak, berikut ini bisa menjadi panduan bagi Anda yang ingin bepergian bersama keluarga atau teman-teman di sekitar Tanah Batak.

  • Cari Tempat Makan Asri di Medan?

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) : Anda sedang berada di Kota Medan dan bigung mau singgah makan di mana? Nah, Anda sudah tepat membaca informasi ini. Kedai Ayah yang berada di Gg Langgar kawasan Medan

  • Rony Situmorang Dukung Zero Tolerance Polusi Danau Toba

    5 tahun lalu

    Walaupun mereka melakukan replanting, sambungnya, bagaimanapun juga penebangan pohon yang sudah berumur ratusan tahun pasti berdampak negatif pada keasrian dan keindahan jajaran perbukitan bukit seribu yang 10 tahun lalu masih tampak "hijau".

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb