KSP Makmur Mandiri
Rabu, 15 April 2020 10:08:00

Hambing Puti dan Babi Ambat

BAGIKAN:
ist
Bachtiar Sitanggang
Oleh Bachtiar Sitanggang

Lupa saya, dalam kaitan apa, apa masalah HKBP tidak ingat lagi, suatu kesempatan tokoh-tokoh Tapanuli berkumpul di kediaman Jenderal M Pangabean di Jl Teuku Umar. Sebagai wartawan sering yang kita tangkap hanya yang lucu-lucu saja, kalau acara tersebut kurang kena ke hati apalagi untuk scope nasional.

Dari podium, Jenderal Panggabean cerita tentang kambing putih (hambing putih). Suatu saat, kata beliau, ketika seorang kerabatnya dalam suatu penerbangan di Sumatera Utara hilang bersama pesawatnya. Lalu ada yang menyarankan agar menggunakan jasa paranormal. Yang pertama, ada yang bilang, untuk mengetahui di mana keberadaan pesawat itu, harus menampi padi (mamiari-pake anduri) dari atas dan ke mana nanti gabahnya terbang di situlah, dicari. Sambil tertawa, sang Jenderal melanjutkan kalimatnya, karena hutan dan perkebunan di Sumatera Utara luas, maka untuk menampi padi itu harus pakai helikopter, karena di atas dan naik pesawat lagi yang gabah itu akan dibawa angin ke mana, ujarnya sambil terkekeh-kekeh.

Lalu kemudian dilanjutkan, ada lagi paranormal yang lain, untuk mencari pesawat yang kehilangan kontak itu harus menggunakan kambing putih. Semua dikerahkan untuk mencari kambing putih, tidak ada yang mampu selalu ada noda berupa warna lain. Karena petugas lapangan, putus asa lalu diambil keputusan untuk membawa kambing yang sedikit nodanya, yaitu di kaki dekat dengan kukunya ada noda sedikit lalu dicat putih. Kambingpun dibawa ke sang paranormal, begitu dipegang paranormal para petugas yang mencari kambing, mulai pucat-pasi, takut ketahuan bahwa kambing tersebut bukan putih seluruhnya.

Sang paranormal tidak tahu bahwa dia "tertipu" bagaimana dia tahu tempat pesawat yang hilang, cacat warna yang dilumuri cat putih aja tidak diketahuinya. Tidak jelas bagaimana kelanjutan cerita itu, karena sudah tidak kedengaran akibat riuhnya gelak tawa hadiri. Yang jelas Jenderal si Ompung itu mengatakan, "ternyata ndang adong hambing puti" (tidak ada kambing yang benar-benar putih")
Hadirin tertawa, sebenarnya bercampur baur alasannya, bagaimana menampi padi dari helikopter? Kedua, bagaimana mencari pesawat cangih dengan kambing putih? Ditambah tentunya, sang jenderal sebelum menceriterakanpun sudah terkekeh-kekeh.

Saya teringat dengan video yang viral di youtube, bahwa di salah satu desa di Kaupaten Samosir, ada acara "Babi Ambat Bius Salaon,Ritual Lawan Virus", seorang yang mengucapkan "doa" kepada leluhur, diselingi serunai (kecil) berlangsung beberapa saat, lalau ada acara makan bersama. Acara makan tersebut, kelihatannya diawali dengan doa menurut agama yang mereka anut.

Memang dalam peradaban Batak-tua, sebelum masuknya ke-Kristenan, pada masa-masa Raja-raja Bius, peranan hewan piaraan sebagai "kurban-persembahan" sangat besar, seperti "horja horbo bius" (memotong kerbau oleh suatu masyarakat hukum adat) untuk memohon diturunkannya hujan sebab telah terjadi kekeringan yang menyebabkan kelaparan, "babi ambat" yang dipercayai dapat menghambat becana dan wabah penyakit. Selain "horbo bius", "hoda debata"(kuda jantan hitam), ada juga "hambing putih" dan "manuk puti-ayam putih", yang diyakini membawa peran dan makna masing-masing.

Khusus "babi ambat", dalam buku Sitor Situmorang "Toba Na Sae" menuliskan, ketika Singamangaraja berkunjung ke Limbang (desa di kaki Gunung Pusuk Buhit) Samosir, berpesan kepada masyarakat: "Apabila negeri ditimpa  kemarau berkepanjangan, apabila padi menjadi kering merah (siraraon), juga kalau ubi-ubian di makan ulat, kalau wabah penyakit berjangkit....apabila penyakit cacar (ngenge)  mengamuk laksanakanlah upacara tolak bala babi pangambat (jamuan makan daging babi sebagai "penangkal" disertai hidangan tepung beragi). Dalam catatannya, Sitor menyebut: Singamangaraja sendiri pantang makan daging babi dan darah).

Kalau Singamangaraja (kemungkinan ke-XII) yang wafat tanggal 17 Juni 1907 di Si Onom Hudon Dairi, berarti pesan itu sudah 103 tahun lalu, teknologi dan ilmu pengetahuan sudah maju pengobatan sudah canggih, masih ada melawan wabah virus corona (covid-19) dengan makan bersama, perlu dipertanyakan, termasuk juga penggabungan dengan acara keagamaan yaitu doa makan.

Ritual "babi ambat" melawan virus mungkin jadi bahan tertawaan seperti menampi padi di udara dengan helikopter atau dengan kambing yang tidak putih mencari pesawat yang hilang. Tetapi itu kenyataan, hanya saja, di mana pemuka agama dan pemuka masyarakat, Kepala Desa dan Camat serta kaum cendekiawan setempat, seperti partai politik? Semoga masyarakat terhindar dari corvid-19.

Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta
  BeritaTerkait
  • Hasil Gandum & Anggur Makmurkan Bangso Batak Seperti Dinikmati Bangso Yahudi, Eropa dan Amerika

    6 bulan lalu

    Oleh: Maruba SihalohoSelama di rumah sudah lebih dari sebulan karena wabah Covid19 yang kutonton adalah NHK TV dan YouTube mengenai kesempurnaan karya budaya tani, jenis dan rasa makanan  dan min

  • Kemajuan Teknologi Belum Berdampak Bagi Kesejahteraan Masyarakat Batak

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak):   Kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan kemajuan kebudayaan kita. Kita tidak mampu secara kreatif menata kembali hubungan dan struktur sosial, politik dan ek

  • Ini Dia Kegiatan Pengurus Daerah FBBI Selama 2016

    4 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI) merilis kegiatan pengurus daerah yang telah dilaksanakan sebagai berikut di bawah ini.   a. DPD FBBI Provinsi Riau.

  • Waspada, Japanese Encephalitis: Penyakit Berbahaya Akibat Nyamuk di Indonesia

    4 tahun lalu

    Medan(Pelita Batak): Data dari WHO (World Health Organization) dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara Asia yang men

  • Partandang na Bitik

    4 tahun lalu

    Adong do sada boru ni Ama ni Panukkunan, margoar si Lastiar Christina Margareth. Biasa dijou si Lastri. Na burju do Si Lastiar on jala pargaul. Nang pe boru siampudan. Unduk marnatua tua. Uli rupan

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2020 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb