KSP Makmur Mandiri
Jumat, 25 Desember 2020 22:02:00

HKBP Mau "Bangun Dari Tidur"

Oleh : Bachtiar Sitanggang
BAGIKAN:
IST|Pelita Batak
DENGAN penyertaan Roh Kudus Sinode Godang 65 Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)  berlangsung dalam sukacita di tengah pandemi Covid-19. Sinode Godang, telah menahbiskan Ephorus Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, Sekjen Pdt. Dr. Viktor Tinambunan, Kepaa Departemen (Kadep) Koinonia Pdt. Deonal Sinaga, Kadep Marturia Pdt Kardi Simanjuntak, Kadep Diakonia Pdt. Dr. Debora P Sinaga serta 32 Praeses di gereja HKBP Pearaja, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. 

Tangan Tuhan yang memilih Parhalado Pusat (Pimpinan Pusat) dan Praeses tersebut di Sinode Godang berdasarkan Aturan dan Peraturan (AP) HKBP. Dengan keyakinan itu para jemaat perlu berdoa dan mendukung gembala yang baru ditahbiskan agar mampu meletakkan dasar-dasar pengembalaan dan pekabaran Injil di era yang canggih dan cepat berubah ini. 

Melihat ke depan perlu disimak sambutan Ketua Umum PGI  Pdt. Gomar Gultom, yang mengatakan, usaha manusia saja tidak cukup dalam hidup ini, apalagi memimpin dan membawa HKBP ke arah yang lebih baik. Yang paling dibutuhkan adalah campur tangan Roh Kudus. Gomar pun mengajak kelima pimpinan HKBP bersama para Praeses  mengandalkan kekuatan Roh Kudus, sebab tantangan yang dihadapi HKBP, bersama gereja-gereja di Indonesia, makin hari makin berat di tengah masyarakat dan bangsa Indonesia.

Pdt. Gomar, yang pernah bekerja di Kantor Pusat HKBP di Pearaja, melanjutkan, “Masyarakat dan Bangsa Indonesia membutuhkan sentuhan tangan HKBP. Peran transformatif HKBP telah begitu menyejarah. Jejak-jejak HKBP tercatat di sanubari umat, sekalipun mereka sudah jadi warga gereja lain. Itu sebabnya saya kira, mata dan hati tertuju ke Pearaja ini dengan penuh harap.”
HKBP sebagai tubuh Kristus, mungkin dilihat Ketua Umum PGI belum menunjukkan dirinya sebagai garam dan terang, oleh karenanya ia mengajak seluruh warga HKBP untuk sedia menopang dalam doa dan ragam dukungan  dengan segenap hati, maka masyarakat dan bangsa ini akan menghargai HKBP, yang pada gilirannya membuktikan diri sebagai gereja yang Tuhan utus di bumi Indonesia.

Pdt. Gomar memandang HKBP sebagai raksasa tidur, dan tidurnya sangat lelap dan lama, sehingga banyak potensi di dalamnya yang dibiarkan tak berkembang, dan telalu lama sibuk hanya ngurusin masalah internal yang tak pernah habis-habisnya. Bahkan ia mengungkapkan kekhawatirannya dengan mengutip Matius 25: 14-30,  diterapkan ke HKBP, adanya “hamba yang jahat dan malas”.
Kepengurusan periode ini diharapkan membangkitkan seluruh petensi yang dimiliki HKBP, bekerja sesuai potensi dan porsi dengan menempatkan personalia yang tepat tidak lagi dengan sistem “Dalihan Na Tolu, Paopat Sihal-sihal” (kedekatan dan pertemanan). 

Pada tahun pertama harus sudah dapat diidentifikasi permasalahan yang diprioritaskan untuk diselesaikan atas dasar pengkajian oleh badan penelitian dan pengembangan. Dengan demikian kepengurusan yang sekarang, sebagai generasi yang mengalami kemelut dengan generasi yang terlibat kemelut, harus selesai. 
Sehingga HKBP terhindar dari “sibuk hanya ngurusin masalah internal yang tak pernah habis-habisnya” seperti yang dikemukakan Pdt. Gomar.

Dengan besar dan beratnya tanggung jawab Pimpinan Pusat harus juga dipikul 6,5 juta jemaat dan untuk itu harus dipikirkan bagaimana menggalang partisipasi aktif jemaat, sehingga anggaran dan pendapatan dapat teratasi. Keikutsertaan jemaat juga bergantung pada faktor kepemimpinan, sampai seberapa besar pengaruh “parhalado” bagi kehidupan kerohanian jemaat akan menjadi motivasi partisipasi aktif jemaat, baik dana maupun daya.

Apakah satuan-satuan kerja yang ada dalam AP HKBP sudah menjalankan fungsi masing-masing untuk itu? Apakah tertidur dan bahkan jadi beban? Tidur tidak pada waktunya apalagi terlalu lama terlelap menyebabkan potensi yang seharusnya diraih, telah hilang. Akan semakin rugi, kalau keliru perhitungan, seperti membangun gedung yang mengabaikan pelayanan yang dapat menghasilkan seperti rumah sakit dan lembaga-lembaga pendidikan. 

Apakah tertidurnya HKBP selama ini akibat dari AP 2002, atau karena sibuk mengurus diri sendiri yang tidak selesai-selesai? Perlu dikaji, apakah masalah itu akibat pengorganisasian dan tata kelola di AP HKBP 2002. 

Untuk mengetahuinya perlu adanya pembandingan AP sebelum tahun 1962, AP setelah kemelut era Orde Baru, AP HKBP 2002 dan tahun 2020, serta harus pula disesuaikan dengan memprediksi masa depan. Sebagai gereja Protestan dan Lutheran apakah  Kantor Pusat sebagai fasilitator saja atau sebagai pemimpin/pemerintah sentralistik seperti selama ini? Kalau ya di mana  persoalannya? 

Dalam AP sekarang Kantor Pusat ditempatkan  sebagai sentral pemerintahan, padahal ujung tombak penginjilan adalah Resort dan Huria. Karenanya ada yang berharap  fungsi Ephorus dikembalikan sebagai pimpinan spiritual dan fungsi Praeses sebagai koordinasi antarresort.

Pimpinan Pusat menjadi sumber pengarahan pelayanan keimanan (pusat spiritual), bukan pusat organisasi/pemerintah utk seluruh jemaat. Pusat mengurus pelayanan penginjilan khusus saja seperti di Enggano, Rupat,  Mentawai, dan lain-lain.

Harapan perbaikan ditaruh di pundak Ephorus, seorang yang rohani dan rendah hati yang akan dapat membawa HKBP ke arah yang lebih baik, walaupun kesulitan HKBP terlanjur sebagai organisasi keagamaan menjadikan pejabatnya menjadi pemimpin organisasi dunia dan tidak lagi sebagai pelayan, seperti ajaran Kristus. Anggota jemaat, bukan lagi domba Kristus tetapi dianggap menjadi dombanya. Akibatnya, mempermalukan Kepala Gereja yaitu Kristus, sampai  berantam di gereja karena perpindahan pendeta. Masalah akan dapat selesai kalau para gembala memohon penyertaan Roh Kudus.

Sebagaimana Matius 25 : 14-30 selain berlaku untuk pimpinan tetapi juga untuk jemaat, karenanya kalau tidak bisa membantu sebagai warga gereja yang takut akan Tuhan, janganlah menjadi batu sadungan. 

Selamat Natal dan Tahun Baru 2021.***

(Penulis adalah wartawan senior dan advokat berdomisili di Jakarta)
  BeritaTerkait
  • Wisata Bangkit, Pertumbuhan Ekonomi Meningkat

    2 tahun lalu

    MASYARAKAT patut berbangga hati, di era pemerintahan Drs Nikson Nababan MSi sebagai Bupati Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dan Ibu, Sartika Simamora sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dek

  • Khotbah Natal Pemprovsu, 19 Desember 2018 di Hotel Danau Toba, Medan, pkl 17.00: "Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita" (1 Korintus 1:30)

    2 tahun lalu

    Oleh: Pdt Dr. Robinson Butarbutar, Ketua Rapat Pendeta HKBPHP/WA: 0812-62472015Sub Tema: "Dengan Perayaan Natal Pemprovsu Berhikmat Melayani Masyarakat Menuju Sumut Lebih Bermartabat."PengantarSaudara

  • Bangun Persaudaraan, Kebersamaan dan Rasa Kasih Melalui Natal

    4 tahun lalu

    Medan (Pelita Batak) :Ribuan umat Kristiani dari seluruh penjuru Kota Medan menghadiri perayaan Natal Oikumene Kota Medan tahun 2016 di Gedung Medan International Convention Centre (MICC) Jalan Gagak Hitam Ring Road Medan,

  • Toga Silitonga Orang Batak Warga Negara Jerman Berbagi Pengalaman di YPDT

    4 tahun lalu

    Jakarta(Pelita Batak): Membangun Sumberdaya Manusia (SDM) di Kawasan Danau Toba (KDT) mesti dimulai dengan membangun kesadaran. Hal tersebut adalah rekomendasi yang diungkap dan dikemas dalam Disku

  • Respons Permintaan Ephorus HKBP, Walikota Jambi Janji Segera Terbitkan IMB HKBP Aurduri Jambi

    4 tahun lalu

    Penulis: Pdt. Alter Pernando Siahaan, Sekretaris Khusus Ephorus HKBPWalikota Jambi bapak Syarif Fasha, ME mengatakan berjanji secepatnya menerbitkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) Gereja HKBP Aurduri

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2021 Pelita Batak Online. All Rights Reserved. Design by. heriweb